
Jam menunjukan pukul sepuluh malam, film yang kita tonton juga sudah selesai kami berdua kembali ke kamar hotel yang kita sewa, Sesampainya di kamar hotel kami langsung membersihkan diri, pak Catur sudah mengganti bajunya, bukan mengganti baju lebih tepatnya melepas bajunya hanya tersisa boxer yang di pakainya, setelah pak Catur keluar dari kamar mandi aku segera masuk aku bersihkan tubuhku, aku pakai lotion di tubuhku agar harum aku ganti bajuku dengan lingerie putih pemberian dari pak Catur, perasaan malu dan tidak percaya diri menghampiri batinku biarpun pak Catur sudah melihat dan menikmati tubuhku tadi pagi, setelah memantapkan hati aku keluar dari kamar mandi, aku lihat pak Catur terpesona saat melihatku keluar dari kamar mandi.
Aku segera menghampiri pak Catur yang sudah duduk bersandar di atas ranjang dengan bertelanjang dada.
"Sini Dinda sayang."
Kami berdua hanya saling pandang tidak ada pembicaraan, namun dari tatapan mata pak Catur aku dapat melihat serta merasakan betapa dia sangat menginginkan. Sebelum memulai bercinta pak Catur mengucap doa dulu seperti tadi pagi. Dinginnya AC tidak dapat menginginkan tubuh kami yang sedang terbakar oleh api gairah yang membara. Setelah berkali-kali kami meraih kenikmatan kami berdua terkulai lemas hingga tidak butuh waktu lama pak Catur sudah terlelap terbuai di alam mimpi. Kini aku dapat melihat wajah pak Catur dari dekat, wajah yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
"Dinda sayang bangun," suara lembut pak Catur begitu dekat di telingaku, aku masih belum sadar betul, tubuhku rasanya capek sekali seperti habis mindahin padi satu ton" Sayang bangun dulu." suara lembut pak Catur kembali terdengar, kali ini di barengi dengan kecupan manis di pipiku.
"Ehmmm.... " lenguhku karena mataku enggan terbuka.
"Apa mau lagi, sayang." suara lembut pal Catur.
"Jam berapa mas?" tanyaku namun masih enggan untuk membuka mata.
__ADS_1
"Sebentar lagi subuh sayang ayo mandi." suara lembut pak Catur dengan sabar membangunkanku.
Aku paksa untuk membuka mata, sungguh betapa malunya aku, begitu aku buka mata, ternyata pak Catur sudah mandi bahkan sudah memakai baju dan sarung.
"Jam barapa mas bangun?" tanyaku serak suara khas orang yang baru bangun tidur, ya benar kini adzan subuh telah berkumandang.
"Pakai ini dan mandi, sudah adzan." ucap Pak Catur sambil menyodorkan handuk mandi karena tubuhku hanya tertutup selimut tak ada sehelai benangpun yang menenpel dalam tubuhku.
"Terima kasih." aku raih handuk dari tangan pak Catur, aku segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu masuk kamar mandi aku berdiri di depan kaca, aku cek tubuhku aku hanya tersenyum saat melihat banyak sekali tanda kepemilikan yang berikan pak Catur.
"Sayang, ayo subuhnya keburu habis!" seru pak Catur dari luar kamar mandi.
Setelah ambil air wudhu aku keluar, aku segera memakai gamis yang ada di atas ranjang, tidak pernah aku sangka jika pak Catur juga menyiapkan gamis untuk aku pakai. Setelah berpakian aku segera memakai mukena, kami berdua sholat subuh berjamaah, selesai sholat subuh, kami kembali naik ke atas ranjang setelah aku mengeringkan rambutku, pak Catur sudah mengganti bajunya dengan kaos oblong dan boxer, dan Pak Catur menyuruhku untuk ganti baju lagi, sekarang bukan lagi gamis panjang yang aku pakai namun dres tanpa lengan dan itupun sangat pendek, hanya sampai di atas lutut. Kami duduk bersandar di atas ranjang dengan tangan pak Catur melingjar di punggungku, dan aku rebahkan kepalaku pada pundak pak Catur.
"Jam berapa tadi mas bangun, kenapa mas tidak membangun aku sih." ucapku sedikit manja sambil memainkan dada bidang pak Catur.
__ADS_1
"Mas tahu kalau Dinda sangat capek, makanya mas tak tega untuk membangunkan dinda, tadi mas jam tiga bangun." jawab pak Catur lembut sambil membelai punggungku dan mencium kepalaku.
"Ya, iya sih capek sekali, mas kuat sekali." ucapku jujur.
"Mas kan juga sudah lama sayang, sekarang masih capek nggak?" tanya pak Catur.
"Capek sih mas, tapi sudah lumayan, mas mau lagikan ." tebakku, karena aku tahu kemana arah pembicaraannya, aku pun dapat memaklumi jika pak Catur menginginkan lagi, karena sudah tujuh tahun lebih pak Catur menduda apalagi dengan usianya yang sekarang, dia lagi berada di fase puber kedua.
"Dinda ikhlas."
"Ikhlas mas."
"Mas tidak ingin melakun jika perut kita kosong, sekarang kita sarapan dulu." pak Catur segera memencet intercom hotel untuk memesan makanan.
Tidak berapa lama petugas hotel memencet bel, dua piring nasi goreng serta segelas susu hangat dan segelas teh telah terkirim.
__ADS_1
"Yang cepat hanya ini." ucap Pak Catur.
Kami berdua sarapan di meja yang ada di kamar hotel, selesai sarapan kami nonton TV, tidak lupa kami melakukan video call dengan Afriana, setiap kali aku meninggalkan Afriana aku selalu rutin untuk video call dengannya setiap hari.