
Malam ini Afriana tidur sendiri di kamar sebelah yang sudah di siapkan sendiri oleh pal Catur, entah dari mana pak Catur bisa tahu selera Afriana, kamar yang di villa juga didesain memiliki corak khas anak perempuan, seperti Afriana yang suka boneka hallo kitty dan barbie maka kedua kamar untuk Afriana memiliki corak yang mirip.
Pagi ini kami semua setelah sholat subuh langsung menuju rumah yang ada di kota, pertama karena Afriana harus pergi ke sekolah kedua pak Catur harus mulai kembali beraktifitas di pabrik sebelum pergi ke kota Jakarta untuk acara ngunduh mantu keluarga Cakra. Karena situasi masih belum stabil maka pagi ini kami memutuskan untuk beli sarapan di luar saja, tiga bungkus nasi pecel yang kita beli dari pinggir jalan saat pulang tadi menjadi menu sarapan pagi kita. Tidak ada kata protes dari Afriana maupun pak Catur, kami sarapan dengan lahap sebelum melakukan aktifitas masing-masing. Setelah menikah pak Catur paling semangat untuk mengantar Afriana ke sekolah, seperti pagi ini pak Catur sudah siap dengan baju dinasnya, karena setelah mengantar Afriana langsung ke kantor, sebab jarak rumah dan sekolahan Afriana lumayan jauh. Kalau dulu hanya butuh sepuluh menit namun kali ini harus di tempuh dengan waktu kurang lebih tiga puluh menit dengan kendaraan mobil. Kami sampai di sekolahan Afriana jam tujuh kurang seperempat, aku dan Pak Catur turun dari mobil untuk mengantar Afriana sampai gerbang karena mobil di parkir agak jauh sebab banyak orang tua murid yang mengantar anaknya ke sekolah.
"Assalamu'alaikum Ayah." pamit Afriana setelah bersalaman dan mencium tangan pal Catur dengan wajah yang sumringah.
"Wa'alaikum salam, barakaallah." sahut pak Catur tak kalah sumringah.
Afriana melakuakan hal yang sama padaku, setelah Afriana masuk ke kelas membuat dengan temannya aku dan Pak Catur segera menuju mobil, dengan pelan pak Catur mengemudikan mobilnya menuju kantor untuk bekerja.
"Dinda, sebenarnya mas punya usul bagaimana jika Afriana kita pindah ke sekolah yang lebih bagus, di sekolahnya Rahma, biar satu sekolahan dengan Rahma, selain dekat juga memiliki kwalitas yang lebih bagus." usul pak Catur sambil menyetir mobil.
__ADS_1
"Bagaimana nyamannya Afri saja mas, memang jarak rumah dan sekolah sekarang lebih jauh, tapi naggung juga jika sekarang pindah sebulan lagi ujian semester, kalau niat pindah setelah ujian semester saja." Aku berusaha menjelaskan pada pak Catur.
"Baiklah, kita bicarakan nanti dengan Afri, bagaimana Dindaku sudah siap untuk kembali menjadi sekretaris dari General Manager, Catur Martono Cakra?" dengan senyum menggoda pak Catur menoleh kearahku.
"Bukankah masa cuti sudah habis mas ya harus siap." jawabku dengan seulas senyum manis.
"Sayang, jangan ganggu bunda bekerja ya, ayah janji tidak akan menyuruh bunda bekerja yang berat-berat." tangan pak Catur yang kiri menyentuh perutku yang berlapis baju, diiringi senyum terindahnya.
"Mas, Mas, itu kalau ngomong seolah-olah aku dah hamil saja, nanti kalau sampai di kantor bilang begitu dan didengar oleh para staf, bisa bahaya mas, nanti malah jadi bahan gossip, dikiranya aku hamil diluar nikah." keluhku berusaha mengingatkan pak Catur.
"Mas, sebenarnya aku masih gugup untuk masuk ke kantor." keluhku sambil menatap kearah pak Catur.
__ADS_1
"Ada, Mas, Dinda kalau gugup tinggal peluk Mas saja, bereskan." ucap Pak Catur sambil nyetir dengan seulas senyum penuh percaya diri.
"Mau bikin yang jomblo ngiler gitu aps Mas!" seruku.
"Ya, biar mereka segera menikah." jawab pak Catur enteng.
Hari ini Aku benar-benar gugup, bagaimana tidak gugup, kalau biasanya aku datang sendiri dan hanya sebagai pekerja namun kali ini Aku masuk kantor sebagai sekertaris dan juga sebagai istri dari Pak Catur, suatu perkara yang tidak pernah terlintas dipikiranku sebelumya walau hanya sedikit. Begitu mobil memasuki area pabrik, pak Catur langsung memarkir mobilnya di tempat seperti biasanya, karena jam masih menunjukkan pukul delapan kurang seperempat, maka para staf juga belum banyak yang datang, setelah turun dari mobil pak Catur menggandeng tanganku untuk masuk kantor, bagaimanapun juga aku sedikit tidak percaya diri mendapat perlakuan dari Pak Catur, aku masih canggung. Saat melintasi lobi dan bertemu dengan para staf lainnya para staf memberi salam hormat pada kami bedua, aku dan Pak Catur membalas Salam mereka dengan ramah seperti biasanya, dan Pak Catur tidak melepaskan pegangan tangannya hingga masuk ruangan pak Catur.
"Huhhh... rasanya lega sekali sudah sampai di ruangan ini." keluhku sambil menaruh pantatku di sofa di-ikuti oleh pak Catur yang juga ikut duduk di sofa bersebelahan denganku.
"Makin hari Dindaku makin cantik dan berseri." puji pak Catur sambil menatapku penuh arti serta membelai lembut ujung kepalaku yang berbalut kerudung.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, biar aku buatkam teh dulu, sebentar lagi jam kerja mulai." ucapku sambil bangkit berdiri.
"Terima kasih Sayang, pertama kalinya di kantor aku meminum teh panas buatan istriku sendiri." jawab pak Catur dengan seulas senyum penuh kasih sayang.