TALAK

TALAK
Part 177 TALAK.


__ADS_3

Seminggu sudah aku tinggal bersama keluarga baruku kebahagiaan mewarnai keluarga kami, sekarang antara aku dan Pak Catur tidak harus kerja lembur di kantor lagi, pagi ini jadwal kantor sangat padat, pagi hari aku, pak Catur dan mbak Priska meninjau tentang pabrik baru yang sudah mulai beroperasi hari ini, ya hari ini mualia percobaan untuk meproduksi sebelum peresmian.


Aku juga tidak menyangka kedua temanku mbak Rani dan Nina dipercaya untuk menjabat sebagai pengawas di pabrik cabang baru. Pagi ini kedangan kami di pabrik baru disambutan ramah dan hangat oleh para pekerja. Kami bertiga menyusuri setiap sudut pabrik untuk mengecek kwalitas dan kwantitasnya, pabrik yang di bangun tidak teralalu besar namun cukup mampu menampung karyawan hingga seribu orang lebih. Setelah hampir setengah hari berjalan menyusuri setiap sudut pabrik kami beristirahat di ruangan yang dikhususkan untuk pak Catur, ya mulai sekarang pak Catur memegang dua pabrik, dalam artian dalam satu minggu pak Catur akan berada di pabrik yang berbeda.


"Dinda kapan kita akan mengadakan meting di sini?" tanya pak Catur padaku.


"Meting akan dilaksanakan satu bulan setelah percobaan produksi, jadi jadwal meting satu bulan lagi, dua minggu setelah resepsi di kota Jakarta." jawabku.


"Dua minggu setelah resepsi pasti sangat repot, apa bisa diundur." pinta pak Catur.


"Kalau memang bapak minta diundur akan saya atur lagi jadwalnya, coba saya cek sekali lagi agar tidak terbentur dengan jadwal meting lainnya." jawabku langsung melihat ipad yang ada di tanganku.


"Fah, Fah, sudah menikah tapi kok ya masih formal." protes mbak Priska sambil senyum dan juga geleng-gekeng kepala.


"Ya, itulah mbak aku suka istriku ini unik." puji pak Catur dengan senyum simpul.


"Ya, saya-kan berusaha untuk professional, kalau di rumah istri kalau di kantor saya-kan tetap seorang sekretaris yang harus tetap hormat pada atasan." sahutku apa adanya dan sopan.


"Kalau di rumah Aku yang harus patuh, Mbak." ucap Pak Catur.


"Sekarang, kita bahas tentang pekerjaan saja pak, tidak etis jika kita bahas rumah tangga di kantor." aku berusaha mengingatkan pak Catur.


"Baik, Ibu Afifah." sahut pak Catur.


"Sekarang kita kembali ke kantor saja, sebelumnya kita panggil Rani dan Nina, untuk pamit." ucap mbak Priska.


Dengan intercom aku memanggil mbak Rani dan Nina untuk menghadap pak Catur, mereka berdua dipindah tugaskan sebagai pengawas dan juga orang yang dipercaya oleh perusahaan dalam mengelola pabrik baru.


Tok Tok Tok


"Masuk!" perintah pak Catur.


"Selamat siang Pak, Bu!" sapa mbak Rani dan Nina secara bersamaan dengan sopan, kami bertiga membalas sapaam dengan sopan juga.

__ADS_1


"Silakan duduk!" perintah pak Catur.


"Terima kasih." mereka berdua langsung duduk di kursi sofa dan berhadapan dengan kami berdua.


"Bu Rani dan Bu Nina, saya pribadi dan perusahaan Cakra para umumnya, minta agar Ibu sekalian mampu bekerja dengan baik demi kelangsungan pabrik baru kita dan juga demi kelangsungan hidup para karyawan dan keluarganya, kami keluarga besar Cakra memberi kepercayaan pada kalian, mohon kerjasamanya." pinta pak Catur tegas dan berwibawa.


"Baik, terima kasih Pak atas kepercayaan perusahaan pada kami berdua, kami berdua akan berusaha semaksimal mungkin untuk kepentingan kita bersama." jelas mbak Rani dengan tegas diikuti oleh Nina.


"Kami pamit dulu, ada apa-apa segera konfirmasi ke Bu Priska dan saya pribadi akan berada di sini seminggu dua kali, terima kasih, selamat bekerja di tempat baru, semoga berkah untuk kita semua." ucap Pak Catur


Kami bertiga setelah berpamitan pada mbak Rani dan Nina segera menuju parkiran, karena mafih bantal pekerjaan kita langsung meluncur ke pabrik lama dengan mengendarai mobil pak Catur meninggalkan pabrik baru. Padahal tadi pagi berencana akan mampir di villa namun pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan sehingga kami menurunkan niat, supaya bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu sebelum pergi ke kota Jakarta.


Tepat jam tiga sore kami bertiga sudah sampai di kantor pabrik yang lama, setelah memarkir mobil kami bertiga segera turun dan menuju ruangan masing-masing. Aku kembali fokus kepekerjaan sehingga aku lupa jika sekarang aku sudah bersuami lagi, dengan cepatnya dan tanpa sadar aku tulis pesan ke adikku Fauzan dan Nafisa mengatakan jika aku pulang telat dan nitip Afriana, serta kemungkinan aku minta dijemput. Setelah kirim pesan aku segera kembali fokus pada pekerjaan hingga adzan magrip tiba aku, segera sholat di ruang kerja seperti biasanya sewaktu belum menikah, hingga aku benar-benar di kagedkan suara pak Catur yang sudah berada di ruanganku.


"Kenapa harus minta dijemput oleh Fauzan?" suara pak Catur mengagetkan aku.


"Biasanyakan begitu pak." jawabku enteng dan aku masih belum sadar.


"Oh, begitu! sekarang kita pulang gak jadi lembur kasihan Afriana, di rumah cuma dengan mbak!" perintah pak Catur langsung mematikan komputer ku.


"Allah hu Akbar Dinda! Yang penting sekarang kita pulang Dinda lupa status Dinda sekarang?" ucap Pak Catur setengah tidak percaya mendengar ucapan dan melihat tingkahku.


"Astaqfirullah hal'adzim maaf mas," Aku baru ingat ketika pak Catur memanggilku Dinda "Maaf mas, tadi Dinda terlalu fokus kepekerjaan." ucapku menunduk dan merasa bersalah.


"Syukurlah kalau Dinda sekarang sudah ingat, coba mana hpnya." pak Catur meminta hpku.


Aku sodorkan hpku yang tidak terkunci, dengan hpku pak Catur menghubungi Fauzan.


"Sekarang kita pulang Dinda, kalau Dinda lupa lagi lihat saja." ucap Pak Catur.


"Mas maaf." aku meminta maaf lagi dengan wajah memelas.


Setelah selesai membereskan ruanganku pak Catur langsung melingkarkan tangannya ke pinggangku untuk berjalan meninggalkan ruangannya. Untung susah petang dan tidak ada karyawan yang lembur, sehingga kantor sepi.

__ADS_1


"Mas, maaf mas, Dinda benar-benar lupa." rengekku manja.


"Karena Dinda lupa maka ada hukuman buat Dinda." ucap Pak Catur tanpa ekpresi.


"Mas, maaf mas." rajukku lagi.


Sesampainya di parkiran kami segera masuk ke mobil dan Pak Catur masih dengan wajah datarnya, dalam perjalanan tidak ada kata yang terucap di antara kita berdua, aku tidak tahu apa yang ada dipikiran pak Catur, apa mungkin dia cemburu, mungkinkah pak Catur cemburu dengan Fauzan pikiranku berkelana entah kemana menghadapi diamnya pak Catur. Sesampainya di rumah kami di sambut oleh wajah cerianya Afriana, Afriana segera mencium tangan pak Catur dan Pak Catur menyambut Afriana dengan hangat, wajahnya berubah berseri-seri. Karena kami baru pulang maka kami berdua segera masuk kamar, seperti biasa aku membantu pak Catur melepas dan menaruh pakaiannya serta menyiapkan pakaian gantinya.


Selesai mandi pak Catur masih dengan ekpresi datar, aku segera mandi dengan pikiran berkecamuk karena ini pertama kalinya pak Catur merajuk. Begitu aku keluar dari kamar mandi aku segera menghampiri pak Catur yang tengah duduk bersandar di ranjang.


"Mas maaf, Dinda benar-benar lupa." Aku kembali minta maaf dengan memeluk tubuh pak Catur dan menyandarkan kepalaku di dada bidang pak Catur, tidak terasa butiran bening jatuh dari pelupuk mataku.


Pak Catur tidak menjawab hanya belaian hangat dan kecupan manis di daratkan di keningku.


"Mas." rengekku lagi dan mempererat pelukanku pada tubuh pak Catur.


"Dinda mau minta sekarang?" goda pak Catur lembut.


Aku langsung mendongak melihat wajah pak Catur, dan ternyata pak Catur hanya menggodaku.


"Mas," rengekku.


"Kenapa Dindaku sayang, mas di sini dan selamanya akan di sini menemani Dinda dan anak-anak."


"Mas ngerjain aku ya?" rajukku.


"Siapa suruh lupa jika sudah menikah, mas suka sikap Dinda yang begini manja, tambah gemesin, apalagi setiap saat dapat pelukan seperti ini," ucap Pak Catur dengan air muka sumringah karena berhasil ngerjain aku.


"Mas, dah kerjain pekerjaannya aku mau juga mau mau nyelesain pekerjaanku." aku sedikit sewot.


Pak Catur malah tertawa senang melihat wajahku yang berubah cemberut dan merajuk" Sayang, mas hanya bercanda, mulai sekarang Dinda harus ingat ada mas di sini, mas siap mendengar keluh kesah Dinda, segala sesuatunya jangan dipendam sendiri, cukup kesakitan yang Dinda alami selama ini, berbahagialah dengan mas, mas akan berusaha membahagiakan Dinda dan keluarga kita nanti, mas tahu jika masa lalu Dinda yang membuat Dinda selalu bekerja keras sampai lupa waktu." ucap Pak Catur tulus dan trus membelai lembut kepalaku selalu mendaratkan kecupan di keningku.


"Terima kasih mas, sekali lagi Dinda minta maaf." ucapku lagi tulus.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di maafkan Dinda sayang, berbagialah dengan mas, sekarang kita sholat dulu dan makan, jangan sampai istri dan anakku kelaparan." ajak pak Catur lembut.


__ADS_2