TALAK

TALAK
Part 220 TALAK.


__ADS_3

Sore yang cerah, kami bertujuh berangkat ke rumah orang tuaku dengan menggunakan mobil, pak Catur sebagai sopirnya, sebelum datang aku sudah memberi tahu orang tuaku jika aku dan keluargaku akan datang, kami semua berencana untuk makan malam bersama di rumah orang tuaku. Sejak aku menikah dan tinggal di rumah suamiku paling kami hanya dua minggu sekali berkunjung karena kesibukan suamiku yang membuat kita jarang ke mana-mana.


Mobil melaju dengan pelan sambil menikmati udara sore, sebelum berangkat sengaja aku order makanan di sebuah restaurant ternama di kota Madiun, harapanku jika aku sudah order makanan ibuku tidak perlu repot-repot untuk masak apalagi Nafisa juga punya balita yang usianya hampir dua tahun dan juga aktif jadi sudah di pastikan jika Nafisa bakal rempong dengan bayinya sendiri.


Hanya dalam waktu tiga puluh menit kami semua sudah sampai di halaman rumah kedua orang tuaku, kami turun dari mobil Afriana, Afwa dan Afwi sudah berhamburan keluar dari mobil duluan.


"Assalamu'alaikum, Mbah!" seru Afriana di ikuti suara cedak Afwa dan Afwi.


"Wa'alaikum, salam cucu mbah sudah sampai." ibu dan bapakku menyambut kami dengan riang gembira, Afriana bersalaman dengan orang tuaku begitu juga Afwa dan Afwi, ibu dan bapakku menggendong dan mencium mereka.


"Bak Fi, Fi, mas Wa, Wi" suara cedal dari anaknya Nafisa yang baru bangun menambah suasana semakin seru.


"Assalamu'alaikum, bapak ibuk sehat." Aku dan suamiku menyalami kedua orang tuaku dengan ta'dzim.


"Ayo, masuk semua." perintah ibu dan bapakku.


"Mbak Fah, Mas." Nafisa menyalami kami berdua.


"Sehat, Naf." sahutku.


Kini anak-anak sudah asyik dengan dunianya, mereka berempat sudah menghambur entah kemana di bawah pengawasan mbak Inayah dan mbak Qibtiyah.


"Tumben, kesini rombongan?" tanya ibukku sambil menaruh minum an di atas tikar tempat kami lesehan.


"Iya buk, sebenarnya kami kesini mau memberi kabar baik ke Bapak dan Ibuk, alhamdulillah kami berdua mendapat kepercayaan lagi, cucu Bapak dan Ibuk akan bertambah lagi." pak Catur menjelaskan pada kedua orang tuaku.


"Alhamdulillah." kedua orang tuaku mengucap syukur begitu mendengar berita baik yang di sampaikan oleh suamiku.


"Ibuk, senang cucu Ibuk akan bertambah lagi." ibuku memancarkan sebuah kebahagiaan.


"Alhamdulillah mbak Fah, wes aku kalah!" seru Nafisa girang dan langsung memelukku.

__ADS_1


"Kalah, memang e lomba." celetuk ibukku.


"Ya, bukannya begitu Buk." sahut Nafisa cuek.


"Fauzan kerjanya kurang maksimal, makanya gak jadi-jadi," celetuk suamiku sambil makan camilan kacang rebus yang telah disediakan oleh orang tuaku" Panen kacang Pak?" tanya suamiku yang begitu asyik dengan kacang rebus.


"Alhamdulillah panen sedikit dari belakang rumah, itupun baru kemarin di jebol." jelas bapak.


"Pantas, manis." puji Pak Catur.


"Betapa bulan Fah?" tanya ibukku.


"Baru tujuh minggu," jawabku "Buk ada pisang kepok?" tanyaku.


"Buat apa?" tanya ibukku.


"Aku mau pisang goreng, tapi aku mau pisang kepok yang dari kebon ibuk sendiri." jelasku begitu melihat pisang rebus yang ada di piring.


"Naf, pisang e masih gak?" tanya ibuku pada Nafisa


"Aku, mau, mas tolong gorengkan." pintaku.


"Bila ibuk yang goreng." pinta ibukku.


"Biar saya saja Buk, mungkin istriku lagi ngidam wong biasanya juga gak pernah aneh-aneh begini." pak Catur langsung bangkit berdiri tanpa mengeluh.


"Yo wes." sahut ibukku tetap duduk.


Aku dan suamiku menuju ke dapur "Naf pisangnya mana?" teriak ku karena kami langsung ke dapur tanpa tahu letak menaruh pisang.


"Wo, iyo mbak, sebentar aku ambil, tadi sudah aku taruh di kandang." jawab Nafisa "Ini mbak." tidak berapa lama Nafisa sudah menyodorkan empat biji pisang kepok.

__ADS_1


"Jangan-jangan anakku nanti crewet, ngidam pertama pisang goreng." celetuk suamiku, dengan cekatan membuat adonan tepung buat pisang goreng.


Aku tidak menjawab, aku hanya duduk di kursi yang ada di dapur, dari luar aku mendengar ocehan anak-anak dan kedua orang tuaku entah apa yang mereka lakukan, gelak tawa mewarnai kebersamaan mereka apalagi dengan suara cedak dari anakku dan anak Nafisa sangat mendominasi keseruan kekucuan.


"Fah, minyaknya mana?" tanya suamiku.


"Astaqfirullah hal'adzim, Mas, lupa belum beli," jawab Nafisa "Sebentar aku beli di warung dulu."


"Kok bisa habis to Naf." tanyaku.


"Ya, rencananya kan nanti saja ke warungnya." jawab Nafisa yang sudah melangkah pergi.


Aku mengamati gerak gerik suamiku yang sedang mengupas pisang, dan kini empat buah pisang sudah terkupas dan sudah di iris berbentuk kipas. Aku tidak heran dengan suamiku beliau sangat bisa diandalkan dalan segala hal walau kadang hasilnya tidak sesuai dengan fakta, namun kalau soal masak lumayan, hasil tidak begitu buruk.


"Ini Mas minyaknya!" seru Nafisa yang baru kembali dari warung sambil membawa sekilo minyak goreng dan sesisir pisang kepok.


"Kamu dapat pisang dari mana Naf?" tanyaku.


"Beli di warung, kebetulan tadi ada, masa goreng pisang cuma empat, pasukannya saja satu kompi, aku kan juga mau siapa tahu ketularan ngidam." oceh Nafisa tanpa dosa sambil menaruh barang belanjaannya di atas meja.


"Jangan dicampur, Mas, yang empat dulukan!" pintaku.


"Siap Bundaku Sayang." jawab pak Catur dengan senyum sumringahnya.


"Mas, goreng punya mbak Fah saja yang lain biar aku goreng sendiri, padahal ini juga pisang dari kebon belakang." ucap Nafisa sambil ngupas pisang.


"Maksudmu Naf?" tanya suamiku penasaran.


"Lawong pisangnya baru saja tadi siang aku jual di warung, eh sekarang aku beli lagi." oceh Nafisa.


Aku dan suamiku tertawa, mendengar penjelasan dari Nafisa, bagaimana tidak lucu pisang yang baru di jual di beli lagi.

__ADS_1


"Naf, beneran kamu beli apa kamu ambil lagi." tanyaku.


"Ya aku beli mbak tapu tetap harga jualku tadi." jawab Nafisa sambil tertawa.


__ADS_2