TALAK

TALAK
Part 216 TALAK.


__ADS_3

Keseruan sore kita hari ini benar-benar sangat menyenangkan, apalagi melihat tingkat si kembar yang sudah bisa berjalan dan berlari mereka sangat mrnggemaskan, ya si kembar sangat lincah diusianya yang baru sembilan bukan mereka sudah mulai bisa jalan sehingga diusia setahun mereka berdua sudah pandai berlari-lari.


"Bagaimana Bunda sayang sudah baikan?" tanya pak Catur padaku.


"Masih sedikit pusing Yah, Yah tadi bunda mimpi ayah dapat burung cantik sekali." Aku menceritakan tentang mimpiku tadi.


"Lalu?" tanya pak Catur padaku.


"Aku suka sekali sayangnya cuma mimpi." ucapku.


"Besok Ayah antar bunda ke dokter." ucap Pak Catur serius.


"Buat apa Yah?" tanyaku.


"Coba Bunda ingat sekarang tanggal berapa, dan kapan bunda terakir datang bulan?" suamiku mengingatkanku tentang kapan terakir aku datang bulan.


"Ya, Allah, Yah sudah telat tiga minggu!" seruku aku baru teringat akan terakir kapan aku datang bulan"Apa jangan-jangan Bunda hamil lagi, bagaimana ini Yah, Afwa dan Afwi masih kecil masa sudah mau adik lagi, Ayah." aku langsung merajuk pada suamiku dan memukul dadanya, sang empumya malah tertawa senang melihat tingkahku.


"Bunda sayang, baru ingat ya, Ayah sudah hitung sejak tiga minggu yang lalu, alhamdulillah jika Bunda hamil lagi, usia kita tidak muda lagi Bunda, lebih cepat lebih baik saat usia kita senja kita sudah bisa menyelesaikan tugas kita sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak membekali mereka dengan ilmu agama yang kuat, Ayah harap bunda iklas dalam menerima rejeki dan amanah dari Allah SWT." nasehat suamiku bijak.


"Tapi Mas, Afwa dan Afwi masih kecil, Bunda takut tidak dapat memberi kasih sayang kepada mereka secara adil." keluhku.


"Inshaallah kita bisa Bunda sayang, lihatlah mereka berdua begitu mandiri, itu artinya mereka juga sudah siap dengan kehadiran adik-adiknya nanti, Bunda jangan berkecil hati." nasehat pak Catur bijak.


Tok Tok Tok.


"Ya masuk!" perintahku dan suamiki bersamaan.


"Maaf Bu, Pak, waktunya adik makan." ucap mbak Romlah sopan.


"Iya mbak, maaf saya tidak enak badan jadi tidak bisa membantu mbak Rom." kataku jujur.

__ADS_1


"Baik bu, tadi bapak sudah memberitahu saya jika ibu tidak enak badan." sahut mbak Romlah dengan sopan.


"Anak-anak Bunda dan Ayah ayo makan dulu sama mbak." ucapku sambil membiarkan Afwa dan Afwi di gandeng oleh mbak Romlah.


Setelah sikembar dan mbak Romlah keluar suamiku langsung mengunci pintu kamar.


"Kenapa mas pintunya kok di kunci?" tanyaku penasaran


"Tiba-tiba mas pingin ngintip adiknya Afwa dan Afwi." goda suamiku.


"Yah aku kurang enak badan." Aku tahu maksud dari suamiku.


"Ayah, tahu Bunda sayang, ayah tidak akan membuat bunda capek ayah hanya ingin tidur dan memeluk anak kita yang tumbuh dalam rahim Bunda, Bunda jangan mikir yang macam- macam." sahut suamiku langsung memeluku untuk ikut tidur dengannya, aku dapat melihat kepayahan suamiku.


Sore ini aku kembali terpejam dalam pelukan suamiku, suamiku sangat pandai dalam memanjakanku, serta menjaga keharmonisan keluarga. Satu jam sudah aku terlelap, aku bangun lebih dulu aku manatap wajah dari suamiku, wajah yang begitu teduh, wajah lelaki yang selama dua tahun ini selalu bersamaku dalam suka dan duka, wajah lelaki yang menjadikanku seorang ratu, wajah lelaki yang memuliakanku, wajah lelaki yang sangat bijak, wajah lelaki ayah dari anak-anakku.


"Ya, Allah kalau memang engkau memberi tambahan rejeki pada keluarga kami, maka tuntunlah kami agar bisa mendidik anak-anak kami dengan baik sesuai dengan perintah Mu dan sesuai dengan ajaran Rosuulullah." dosku dalam hati.


"Bunda, jam berapa?" tanya suamiku dengan keadaan masih terpejam, bukannya membuka mata malah mengeratkan pelukannya.


"Ayah sayang ayo bangun, susah setengah empat." bisikku lagi.


"Bunda ini menyuruh Ayah bangun aps mau ngajak olah raga ranjang." ucap suamiku dengan matan masih terpejam.


"Ayah!" seruku sedikit keras.


"Iya, Bunda sayang, Ayah bangun," akhirnya suamiku membuka matanya "Bunda susah mandi?" tanya pak Catur padaku.


"Bagaimana Bunda mau mandi dari tadi Ayah tidak melepaskan pelukannya." rengekku.


Pak Catur tidak menjawab malah tersenyum penuh kemenangan" Jarang-jarang kita bisa tidur dijam segini." ucap Pak Catur.

__ADS_1


Akirnya suamiku melepaskan pelukannya, aku segera masuk ke kamar mandi, aku membersihkan diri dengan cepat karena sudah masuk waktu ashar, setelah aku selesai mandi kini giliran suamiku yang membersihkan diri. Setelah sama-sama selesai membersihkan diri kita bedua memutuskan untuk sholat ashar berjamaah berdua saja, mengingat waktu sudah menunjukan pukul empat lebih malah hampir setengah lima.


Serena sholat ashar suamiku memilih untuk melantunkan ayat suci Al qur'an, sedang aku menuju taman belakang di sana si kembar sedang asyik bermain di gazebo bersama dengan mbak Romlah, Qibtiyah dan Afriana.


"Main apa ini kayanya seru sekali ?" tanyaku ikut nimbrung bersama mereka menyusun lego.


"Buk, adik tadi aku ajari main lego, dia gak bisa-bisa ngamuk!" lapor Afriana padaku sambil tertawa karena ulah Afwa dan Afwi yang jengkel belum bisa bermain lego.


"Pinter, anak ibuk, terus adik gimana? Bisa?" tanyaku.


"Cuma di pukul-pukulkan saja adik belum bisa." tambah Afriana senang.


"Ayo sini main sama bunda." ucapku.


Aku menemani mereka untuk bermain, ketiga anak-anakku sangat rukun, bahkan Afriana sangat sayang dengan kedua adiknya.


"Buk, setelah lulus SD, Af mau mondok boleh?" Afriana minta ijin padaku.


"Afri, suka di pondok?" tanyaku.


"Suka buk, Afri kepingin bisa membaca Al-Quran tanpa bawa Al-Quran seperti mbak-mbak yang biasanya datang di rumah kita itu lo buk." ucap Afriana.


"Afri pingin menjadi hafidzah?, nanti kita bareng-bareng bilang ke ayah ya? Afri kepingin mondok di mana?" tanyaku.


"Yang dekat saja buk, di kota Nganjuk saja, soale teman Afri ada yang mau mondok di sana." terang Afriana dengan semangat yang mrnggebu-gebu.


"Asal Afri iklas Ibuk setuju saja, yang penting Afri benar-benar menuntut ilmu Lillahi ta'ala, Afri mondok jangan karena ikut-ikutan teman saja, namun harus benar-benar diikuti niat dan tekad yang kuat, semata-mata mencari Ridho Allah SWT, Afri paham yang ibuk maksud." nasehatku pada Afriana.


"Afri, kepingin memberi hadiah mahkota emas untuk ibuk, bapak dan ayah di Syurga." ucap Afri polos.


Aku benar-benar terharu mendengar ucapan Afriana, sebenarnya aku memang berencana mengirim Afriana ke pesantren namun nanti jika Afri sudah lulus SMP, aku tidak menyangka jika Afriana sekarang sudah memiliki cita-cita untuk menjadi hafidzah, sebuah hadiah terindah dalam bulan ini.

__ADS_1


__ADS_2