
Dalam hidupku aku tidak pernah membayangkan jika aku bakal hidup bergelimbang harta seperti sekarang, bukan hanya harta tapi juga suami yang sempurna juga anak-anak yang sehat, semua terjadi begitu atas kehendak dari Allah SWT, begitu besar nikmat yang aku dapatkan sekarang dulu untuk makan sehari- hari saja aku harus bekerja sampai lembur bukan hanya itu, hinaan dari mantan suami selalu aku dapatkan setiap hari. Kini semua telah berbalik kesempuranaan dalam keluargaku telah aku dapatkan. Ibarat papatah kuno kegiatanku sekarang hanya, kasur, dapur, dan sumur, dalam artian aku benar-benar menjadi seorang ibu rumah tangga seutuhnya.
Malam semakin larut aku sudah terbangun dari mimpiku, ketika aku sedang membuka mataku, aku tidak mendapati suamiku di dekatku. Aku edarkan pandangan ke seluruh kamarku, kosong ya di dalam kamar hanya ada aku dan si kembar yang ada di boxnya. Aku turun dari ranjang aku mencari suamiku di kamar mandi kosong, aku berjalan menuju ruang kerja suamiku, aku buka pintu ternyata benar suamiku masih mengerjakan pekerjaannya.
"Mas, sudah malam belum tidur ?" sapaku begitu masuk ke ruangan pak Catur.
"Sayang, kok bangun?" Pak Catur malah balik tanya " Mau sesuatu?" tanya pak Catur lagi.
"Tiba-tiba aku pingin mie ayam." ucapku tanpa dosa.
"Mie Ayam?" tanyanya mengernyitkan dahinya.
Aku tahu untuk tengah malam kaya gini terlalu sulit untuk mendapatkan mie ayam di kotaku.
"Sudah jam sebelas malam, apa ada?" keluh pak Catur padaku " Besok siang saja ya, mas belikan." tawar pak Catur.
"Gak mau besok, aku maunya sekarang." jawabku sewot.
__ADS_1
"Bunda ini sudah malam."
"Aku maunya tetap sekarang, ayo kita berangkat."
"Apa Dinda tidak ingin tidur lagi?" tanya pak Catur padaku.
"Aku maunya mie ayam sekarang mas." remgekku.
"Baiklah, kalau begitu ayo berangkat sekarang, coba kita lihat di Stadion atau di lapangan gulun." alkhirnya pak Catur mengalah.
Aku mengikuti langkah suamiku menuju garasi kali ini suamiku membawa mobil karena takut kedinginan kaya kemarin. Kami berdua menembus dingin dan sepinya malam kota Madiun, pak Catur mengendarai mobil dengan pelan sambil mencari penjual mie ayam yang masih buka, hingga mobil sampai di lapangan gulun kami belum menemukan penjual mie ayam, kami berjalan memutari lapangan gulun kami tidak menemukan pemjual mie ayam, ada satu gerobak tapi sudah tutup. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju stadion berharap di sana ada penjual yang masih buka.
Dengan wajah lesu aku langkahkan kakiku masuk rumah, tidak sepatah katapun ku ucapkan.
"Mau ayah bikinkan?" paka Catur menawarkan diri untuk memasak sendiri.
"Mas bisa masak?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Coba saja." jawab pak Catur pede.
Pak Catur menarikku untuk masuk ke dapur aku duduk di kursi sambil mengamati gerak geriknya, dengan cekatan dia mengambil beberapa bumbu dapur, entah apa yang di masaknya dia sibuk sendiri.
"Bapak ibuk masak apa, perlu bantuan?" tanya mbak Qibtiyah yang terbangun.
"Istirahatlah mbak, ini biasa ibuk minta dimasakin." jawab pak Catur dengan senyum khasnya.
"Ya mbak tidurlah." perintahku.
"Baik, Pak, Buk." Mbak Qibtiyah meninggalkan kami berdua.
Tidak perlu waktu lama suamiku sudah selesai memasaknya dan ternyata yang muncul bukan mie ayam seperti ekpektasiku, yang terhidang adalah mie ayam bawang ala mie sedap cuma di lengkapi dengan bumbu saos serta irisan ayam yang sudah dibumbu kecap, di irisi daun bawang.
"Anggap saja ini mie ayam seperti di restaurant, malah ini lebih special karena ayah masaknya penuh dengan cinta dan kasih, sini ayah suapin." pak Catur menyodorkan sesendok mie dalam mulutku "Ayo sayang coba di incipi sedikit saja." pak Catur terus merayuku agar aku mau memakannya.
Aku merasa kasihan dengan perjuangan suamiku kini aku buka mulutku walau masih dengan muka yang ditekuk tadinya aku kira murni rasa mie ayam bawang ala mie sedap ternyata rasanya sangat berbeda lebih lezat bahkan rasanya lebih lezat do banding mie ayam beli.
__ADS_1
"Enak sekali mas." kini wajahku sudah berubah, aku tidak lagi suntuk seperti tadi, ditambah di suapi oleh suami tercinta. Sekarang mie ayam sepiring aku nikmati bersama dengan suamiku kami saling menyuapi persis seperti orang yang lagi kasmaran.