TALAK

TALAK
Part 268 TALAK.


__ADS_3

Tidur di rumah orang tuaku memang sesuatu yang sangat menyenangkan bagiku, sejauh aku melangkah rumah orang tuaku tetap menjadi yang terfavorit, aku tidur dengan posisi berada di antar Alifa dan Abidah, sedangkan Pak Catur tidur diantara Afwa serta Afwi di kasur sebelah,.


Jam empat pagi suara riuh sudah menghiasi rumah orang tuaku, mayoritas kami semua bangun di jam tiga pagi untuk melaksanakan rutinan kami sholat tahajud. Kami melaksanakan sholat tahajud secara terpisah, aku dan Pak Catur melaksanakan sholat tahajud di kamar kami sambil menemani anak-anak.


Pagi-pagi sekali mas Jamal mbak Yah serta Zahra sudah meninggalkan kami semua, begitu pula mbak Us selesai sholat subuh juga sudah pamit pulang karena mas sapta ada pekerjaan penting di pagi ini, kini di rumah orang tuaku tinggal aku dan Nafisa. Pak Catur pagi ini ambil cuti karena ingin menghabiskan waktu bersama keluarga mumpung Afriana juga lagi cuti dari pesantren, karena setelah Afriana memutuskan menemouh Pendidikan jarang bisa berkumpul seperti ini, rencana hari ini pak Catur mengajak kami semua untuk menikmati suasana Villa, memang sudah lama kami tidak menginap di villa.


Pagi ini Afriana juga sudah kembali seperti biasa ceria, dan sudsj berbaur dengan siapapun. Kali ini kami mengajak Nafisa dan anaknya karena Fauzan sedang bekerja, mobil yang kami tumpangi meluncur menuju villa keluarga yang di bangun oleh pak Catur beberapa tahun yang lalu disaat aku dan pal Catur belum menikah.


"Alhamdulillah,." seru kami semua begitu kami memasuki area villa, di villa ada tiga pekerja, satu satpam, dua bertugas merawat rumah, anak-anak langsung membaur entah kemana, aku dan Pak Catur juga sengaja tidak membawa suster bersama kami jadi kami benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama keluarga.


"Rasanya ayah sudah lama tidak berkumpul seperti sekarang, bahagia sekali." ucap Pak Catur begitu sudah turun dari mobil, Afriana menjaga Afwa dan Afwi, aku dan Pak Catur menjaga Alifa dan Abidah, sedang Nafisa menjaga anaknya sendiri.


"Bunda juga Yah sangat bahagia sekali, sekarang terlalu sulit untuk bisa berkumpul seperti sekarang, beruntung anak-anak kita sangat baik semua." ucapku.


Aku dan Pak Catur segera masuk ke dalam villa, begitu juga Nafisa, para pekerja menyambut kami dengan senang hati.


Aku lebih memilih menjaga Alifa, sedangkan yang lain kini mereka langsung bermain di kolam renang mini khusus anak-anak. Anak-anak di bawah pengawasan pak Catur mereka bermain dengan gembiranya, aku sangat menikmati kebersamaan lali ini.


"Buk ini camilannya." seorang pekerja memberi sepiring gorengan padaku.

__ADS_1


"Terima kasih mbak," sahutku.


"Tumben kesini kok mendadak to buk? Tanya pekerja tadi.


"Iya, mumpung Afri cuti dari pondok.


" sahutku.


"Pantesan, mbak Afri sudah besar lama tidak berjumpa." ungkap pekerja itu.


"Alhamdulillah mbak, tidak terasa ya perasaan baru kemarin aku gendong." ucapku sambil terus mengamati anak-anak yang sedang bermain.


Anak-anak pak Catur juga Nafisa mereka sangat bahagia bisa bermain bersama, mereka bermain kurang lebih satu jam sebab waktu juga sudah siang, Afwa dan Afwi kini di bawah asuhan Nafisa dan Afriana.


"Mas,"


"Perasaan baru kemarin kita melaksanakan pernikahan di villa ini sekarang kita sudah memiliki empat orang anak," ucap Pak Catur yang tetap memelukku dari belakang.


"Ya, rasanya seperti mimpi ketika berada di villa ini, aku terus teringat akan permintaan mas yang memintaku untuk memilih model villa ini, aku tidak pernah menyangka kalau villa ini menjadi villa buat keluargaku sendiri, terima kasih mas."

__ADS_1


"Mas juga seperti mimpi bisa mempersunting Dinda dan memiliki anak yang lucu-lucu sekali, anak-anak lagi tidur Saatnya buat kita berdua Dinda."


"Tapi mas,"


"Tapi kenapa?, rasanya mas kangen sekali bisa menikmati berdua seperti ini di villa ini," ungkap pak Catur.


"Dan sekarang mas harus lebih banyak mengalah, saingan mas sekarang ada empat." ucapku.


"Berapapun saingannya mas tidak khawatir, yang penting masih ada waktu special buat mas, malah ingin rasanya nambah pasukan lagi biar tambah rame." ungkap pak Catur dengan senyum menggoda.


"Ya Allah mas, Alifa saja masih kecil," ungkapku.


"Tidak masalah," ucap Pak Catur.


Mungkin karena kecapekan aku dan Pak catut ikut tidur anak-anak di dalam kamar, ya walau tidak lama minimal sudah bisa mengobati rasa kantuk dan capekku. Di saat aku membuka mata aku melihat pak Catur masih tidur disebelahku, sedang dari luar suara Afwa Afwi sudah mulai membuat gaduh. Ingin sekali aku bangkit ternyata pak Catur melarangku.


"Sebentar lagi sayang." ucap Pak Catur yang langsung memeluk erat tubuhku.


"Tapi mas," elakku.

__ADS_1


"Alifa dan Abidah belum bangun, kita tunggu mereka bangun baru kita iku bangun," Pak Catur semakin mempererat pelukannya padaku.


Akirnya aku turuti saja permintaan suamiku toh suasana seperti sekarang jarang kami temui, aku selalu sibuk dengan anak-anak. Biasanya Aku dan Pak Catur sudah sibuk dengan tugas kita masing-masing, kali ini pak Catur benar-benar ingin bersantai bersams keluarga.


__ADS_2