TALAK

TALAK
Part 49 TALAK


__ADS_3

"Kenapa bengong, mbak?" tanya pak Catur


"Ohh... Tidak pak." jawabku langsung memakai helm dan naik di boncengan sepeda motornya.


Pak Catur menstarter motornya dengan pelan - pelan, sepeda motor melaju menuju sebuah rumah makan yang ada di kota Madiun. Sesampainya di rumah makan lombok idjo kita turun, kita berdua langsung masuk mengambil tempat duduk di dalam ruangan karena tengah hari lumayan panas.


Kami memesan menu yang sama buat cepat kata pak Catur, entah ada masalah apa di pabrik baru sehingga pak Catur harus turun tangan sendiri. Tidak perlu waktu lama menu ikan gurami goreng madu sudah tersedia di hadapan kami berdua.


"Kamu sering kesini mbak?" tanya pak Catur padaku.


"Tidak pak, ini juga yang pertama kali, saya mana ada uang untuk makan di sini, ya paling tidak - kan kalau ke sini harus bawa anak saya dan adik saya, dan juga harus beli untuk bapak, ibuk saya, pak gak mungkin saya makan enak sendirian " jawabku jujur.


"Oooo, kalau keluar rame juga, tapi waktu itu pas ketemu anakmu di alon- alon kamu kok gak ikut ?" tanya pak Catur sambil menikmati menu makan siangnya.

__ADS_1


"Waktu itu saya lagi banyak kerjaan, jadi gak ikut keluar, memang biasanya jika sudah keluar dengan Fauzan saya di rumah namun jika Fauzan kerja ya saya anak saya dan ipar saya" ucapku.


"Senang melihat kerukuan keluargamu, masmu, adikmu semua terlihat rukun jarang lho ada jaman sekarang punya keluarga seperti keluargamu." puji pak Catur.


"Ah biasa saja pak, dari kecil ya begitu, sebenarnya mas saya itu galak, lebih galak dari pada bapak saya" ucapku.


"Masa? Tapi kelihatan sangat bersahabat gitu, lagian aku rasa masmu galak pasti ada tujuannya." ucap Catur lagi.


"Ya, kalau sekarang saya paham kenapa dulu masku galak pada saya" ucapku sambil senyum.


Perjalanan menuju arah pabrik baru memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit jam setengah dua siang sudah sampai lokasi. Kami berdua langsung turun untuk melihat kinerja para pekerja dan hasilnya, pak Catur sudah seperti tukang bangunan dia ngecek bahan banguan yang dipakai oleh pihak kontraktor, setelah di pabrik selama tiga puluh menit kami berdua meninggalkan lokasi pabrik dan aku tetap tidak paham apa yang di maksud oleh Pak Catur dengan urgent problem karena menurutku tidak ada yang aneh di lokasi pabrik dan laporan dari pihak kontraktor serta para pekerja baik -baik saja.


"Setelah ini kita mau kemana pak?" tanyaku.

__ADS_1


"Lihat saja nanti" jawab pak Catur sambil berjalan menuju parkiran motor.


"Sebenarnya ada masalah apa pak ?" tanyaku penasaran.


"Hanya ingin melihat kwalitas bahan bangunan, karena aku tidak ingin mereka menggunakan bahan bangunan yang jelek, kitakan sudah bayar mahal dan juga sudah menentukan bahan, jadi jangan sampai karena kesalahan kontraktor dalam membangun nantinya merugikan banyak pihak" jelas pak Catur.


"Maksud bapak merugikan banyak pihak bagaimana ?" tanyaku semakin penasaran.


"Jika bangunan tidak kokoh, dan ambruk di saat para pekerja di dalam pabrik berapa korban yang melayang, dan siapa yang rugi, kalau orangnya cuma luka biasa masih bisa di terima namun jika orangnya sampai meninggal dunia, keluarga yang di tinggalkan pasti memiliki dampak yang berat, dari segi ekonomi dan juga segi psikologi, dan jujur saja perusahaan mana yang mau rugi, termasuk perusahaan kita jangan sampai rugi, itu sebabnya saya akan tetap memantau pembangunan pabrik secara langsung, karena saya berharap pabrik ini USA turun temurun sampai anak cucu kita nanti" jelas pak Catur panjang lebar di barengi tawa bahagia.


Aku mendengar penjelasan dari Pak Catur hanya ber-oh ria, tak pernah aku terpikirkan jika pak Catur bisa mikir sejauh itu, mikir keselamatan karyawannya.


"Lalu, urgennya di mana pak, seperti yang bapak bilang di pesan wa?" tanyaku masih penasaran dengan kata urgent.

__ADS_1


"Yang urgent ehmm.... ?" jawab pak Catur menggantung sambil memakai helm dan sudah duduk di jok sepeda motornya.


"Iya, yang di pesan bapak tadi?" tanyaku masih penasaran ingin tahu jawaban dari Pak Catur.


__ADS_2