TALAK

TALAK
Part 104 TALAK.


__ADS_3

Sesuai janji pak Catur semalam, begitu sampai di kantor pak Catur langsung memangilku melalui intercom. Aku langsung masuk untuk menemuinya sebenarnya jadwal kita hari ini sangat sibuk jam sepuluh pagi harus menghadiri meting bersama para semua staf di kantor, siangnya harus menjunpai para petani yang tergabung dalam kemitraan bersama perusahaan Cakra lima.


"Silahkan mbak periksa suratnya, mungkin ada kesalahan dalam pengetikanku." ucap pak Catur sambil menyerahkan dua lembar surat pernyataan dari perusahaan yang sudah berlegalisir.


"Terima kasih, pak."


Aku periksa surat dari Pak Catur, semuanya benar dari nama dan lamanya masa kerjaku di pt Cakra lima. Aku tidak menyangka jika pak Catur benar-benar memenuhi janjinya, pikirku siang atau sore baru di kasih ternyata pagi-pagi benar suratnya sudah jadi.


"Aku harap dengan surat itu bisa mempermudah jalan sidang perceraianmu nanti mbak, semoga cepat selesai dan mbak bisa hidup lebih damai dan bahagia." ucap Pak Catur dengan pandangan penuh arti.


"Aamiin yarobbal'alamin, terima kasih untuk semuanya pak, bagaimana bapak bisa secepat ini kasih suratnya, saya pikir nanti siang atau sore." ucapku begitu selesai membaca surat dari Pak Catur.


"Takut lupa, lebih cepat lebih baik, kamu sudah nulis jawaban dari tuntutan Ringgo?" tanya pak Catur padaku penuh selidik.

__ADS_1


"Belum sempat pak, akhir pekan saja kalau pas longgar." jawabku


"Baiklah sebentar lagi kita harus menuju ruang meting, sudah siap?" tanya pak Catur.


"Alhamdulillah, semua sudah saya siapkan." jawabku.


Aku segera bangkit dari dudukku, aku kembali ke ruanganku untuk mempersiapkan bahan yang akan di bahas dalam meting nanti. Tanpa aku panggil pak Catur sudah menghampiriku, kami berdua menuju ruang bersama-sama, di saat sampai di ruang meting para peserta sudah siap berada di ruangan.


Pak Catur memulai meting dengan Salam, dengan berwibawa pak Catur menerangkan tentang pencapaian perusahaan yang semakin gemilang, pak Catur juga membahas tentang pembukaan lowongan penerimaan karyawan baru untuk pabrik baru.


Meting berjalan dengan lancar, pak Catur dan aku segera meninggalkan ruangan meting, kami berdua segera melaksanakan sholat dhuhur di mushola sebelum tolak ke sebuah desa untuk bermusyawarah dengan mitra para petani tembakau.


Sesampainya di lokasi para petani sudah berkumpul di pendopo balai desa. Begitu kami berdua sampai kepala desa dan para petani yang bekerja sama dengan perusahaan pt, Cakra Lima menyambut dengan antusias.

__ADS_1


Tanpa basa-basi pak Catur segera memulai musyawarahnya, pak Catur menerangkan tentang program bagi hasil antara petani dan perusahaan serta tentang kontrak kerja sama. Para petani menyambut dengan senang tidak ada penolakan dari para petani tentang program-program yang di tawarkan oleh pak Catur.


Pertemuan dengan para petani kemitraan lebih cepat dari yang di tafsirkan, tiga puluh menit lebih awal dari perkiraan. Kami berdua pamit dan meninggalkan para petani, senyum kebahagiaan terpancae dari wajah pak Catur karena hari ini semua pekerjaan berjalan dengan lancar tiada kendala suatu apapun.


"Pak, kita ke kantor saja, karena bapak sudah perjalanan untuk menjemput saya." punyaku pada pak Catur yang sedang menyetir mobil.


"Sampai kapan mbak akan terus di antar jemput, sebegitu berbahayakah serangan dari mantan suami mbak?" ini pertama kalinya pak Catur menanyakan tentang alasanku di antar jemput.


"Sangat berbahaya, karena mas Ringgo menyatukan kekuatan dari tiga dukun, namun sebenarnya saya tetap prihatin dengan dengan mertuaku, entahlah setelah ini musibah apa yang akan menimpa mereka, walau keluargaku tidak membalasnya namun perjanjian yang di lakukan oleh mas Ringgo dengan dukunnya sangat mengancam keluarganya sendiri, dan kali ini serangannya bisa datang sewaktu-waktu." Aku berusaha menjelaskan pada pak Catur.


"Lalu langkah apa yang kalian lakukan untuk menghalau itu semua, apakah kalian bisa menyelematkan keluarga mertuamu?" tanya pak Catur semakin penasaran.


"Kami hanya membentengi diri dengan tawakal, mendekat kan diri pada Allah SWT, untuk menyelamatkan mertuaku dari serangan dukun mas Ringgo kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghalau, kemungkinan berhasil memang sangat kecil namun kami akan tetap berusaha untuk menyelamatkannya, bagaimanapun mereka tetap ada hubungan darah dengan anak saya, saya juga tidak ingin Afriana memiliki kesan buruk pada kami semua, semaksimal mungkin kami menekan ego kami." ucapku menerawang jauh.

__ADS_1


"Masyaallah, semoga mbak dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT." ucap Pak Catur.


Sesampainya di kantor, aku segera turun dari mobil, karena jam kantor sudah selesai aku segera menemui bapak yang sudah menungguku di pos satpam, pak Catur dengan hormat juga menemui bapakku.


__ADS_2