TALAK

TALAK
Part 129 TALAK


__ADS_3

Akhirnya mereka yang kami nantikan datang juga dari dalam sudah terlihat rombongan keluarga pak Catur, ada mama dan papanya pak Catur, Mak ibu kandungnya bu Priska, bunda dan bu Irma beserta suami, begitu melihat kami berempat mereka melambaikan tangannya dan melontarkan sebuah senyuman kebahagiaan. Semakin dekat mereka melangkah menuju ke arah kami hatiku semakin berdebar kencang tidak karuan keringat dingin juga sudah keluar, untuk mengatasi semua ini berkali-kali aku baca istiqfar berkali-kali namun kegugupanku tetap tidak bisa aku kendalikan.


"Assalamu'alaikum, selamat datang di kota Madiun." ucap kami bersamaan.


"Wa'alaikum salam." mereka menjawab bersamaan dengan sebuah senyuman yang mengembang penuh kedamaian dan kebahagiaan.


Kami menyambut mereka penuh dengan kebahagiaan, aku menyalami dan mencium tangan mamanya pak Catur sebagai tanda penghormatan terhadap orang yang lebih tua, di luar dugaanku mamanya pak Catur malah langsung memelukku seperti seorang ibu yang kangen berat dengan Putrinya, tak hanya mamanya pak Catur saja, Bunda, Mak dan bu Irma juga melakukan hal yang sama terhadapku. Kalau mereka melakukan itu pada bu Priska aku rasa sudah seharusnya bagaimanapun bu Priska bagian daru keluarga Cakra, namun tidak dengan diriku yang hanya seorang karyawan biasa saja.


Pak Catur, pak Anam dan bu Priska melakuakan hal yang sama pula, akhirnya para kaum lelaki berjalan di belakang kami sambil mendorong troly barang, kami para perempuan berjalan di depan. Sebelum kami melakukan perajalan menuju kota madiun kami semua makan dulu di restaurant yang ada di area bandara, kami terbagi menjadi dua meja.


Setelah selesai makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju kota Madiun, pak Cakra bu Cakra dan bunda berada satu mobil dengan kami, sedang Mak dan bu Irma beserta suami berada di mobil pak Anam.


Pak Cakra duduk di bangku depan menemani pak Catur sedangkan aku duduk di bangku belakang menemani bu Cakra dan Bunda. Bunda dan bu Cakra tak henti-hentinya bercerita tentang pak Catur sewaktu kecil hingga dewasa.


"Mbak Fah, sudah tahu calon istrinya Tono?" bu Cakra bertanya padaku.


"Belum bu, lawong pak Caturnya tidak memberitahu saya, katanya jika sudah lamaran saja baru di kasih tahu." jawabku apa adanya.


"Kamu itu ya keterlaluan Ton!" keluh bu Cakra sambil geleng-geleng kepala.


Pak Catur bukannya menjawab malah tersenyum puas" Belum waktunya Mah." ucap Pak Catur.


"Mau bikin kejutan? awas kalau sampai bikin mbak, Fah, pingsan." seru bu Cakra dengan nada pura-pura mengancam.

__ADS_1


"Ton, mbak Fah itu bukan Priska yang selalu kamu bikin kesal." giliran bunda yang membuka suara.


"Bunda, mama jangan khawatirkan mbak Fah, mbak Fah itu tidak akan mudah pingsan, kalau aku yang pingsan mungkin iya, seumpama lamaranku di tolak, entahlah mungkin aku langsung kembali ke kota Jakarta." jawab pak Catur dengan ekpresi yang berbeda dari tadi.


"Saya rasa, wanita itu tidak akan berani menolak bapak, itu menurutku lo pak, dan semoga tidak ditolak, kalau wanita itu menolak bapak, saya bantu untuk melamarkan pak ." ucapku.


Semua orang yang ada di mobil langsung tersenyum girang " Kamu itu benar-benar unik dan polos, mbak Fah , benar kata Tono, Pantas saja kerja Tono semakin cemerlang lawong sekretarisnya saja super unik, dan bisa bikin penambahan energi otomatis." gurau pak Cakra sambil terkekeh.


"Papa ini apa-an sih Pa, jangan buat rasahasiku terbongkar pah." pinta pak Catur.


"Mbak Fah, jika mbak Fah yang di lamar oleh Tono bagaimana di tolak apa diterima ?" Pak Cakra ganti bertanya padaku sambil menoleh ke arahku.


"Wah pasti senang hati saya terima pak seandainya iya, tapi nyatanya bukan saya jadi ya saya tolak." jawabku asal.


"Maksud mbak Fah, mbak Fah mau menerima lamaran dari saya?" tanya pak Catur antusias.


"Besok lusa aku lamar mbak." ucap Pak Catur asal.


"Oalah pak, kalau ngomong itu mbok ya jangan ngawor," ujarku" Akhir-akhir ini pak Catur itu ngomongnya selalu ngawor lho pak, bu, kadang saya heran, entah kesambet setan dari mana juga!" aduku pada bu Cakra pak Cakra dan Bunda.


Mendengar ucapanku mereka semua kembali tertawa lagi dengan senangnya.


"Kalian itu benar-benar aneh bin lucu." celetuk bunda girang.

__ADS_1


Kami semua yang ada di mobil kembali tertawa lagi, setelah mendengar ucapan bunda. Perajalan yang kami tempuh akhirnya berjalan lancar pak Catur bisa bolak balik madiun-solo-madiun nyetir mobil sendiri tanpa harus di gantikan.


Setelah menempuh perjalan kurang lebih tiga jam, kami semua sampai di rumah bu Priska, dengan senang hati aku bantu mama dan bunda untuk masuk ke dalam rumah bu Priska.


"Assalamu'alaikum nenek.... " seru Rahma senang langsung bersalaman dan memeluk bu Cakra, Mak, bunda, bu Irma secara bergantian.


"Wa'alaikum salam, cucu nenek yang cantik dan sholehah." sambut bu Cakra girang.


"Mbak Alya gak ikut bude?" tanya Rahma pada bu Irma.


"Mbak Alya harus sekolah sayang, kalau keseringan bolos nanti dapat nilai jelek." nasehat bu Irma pada Rahma.


"Padahal kalau mbak Alya kesini mau tak ajak main bersama Afri, anaknya tante Afifah, seru bude." lapor Rahma girang.


"Lain kali, oke Rahma." ucap bu Irma.


Kami semua duduk di ruang tengah, karena hari juga sudah sore Pak Catur melarangku untuk kembali ke kantor.


"Tugas mbak sekarang menemani mama dan Bunda, soal kantor bisa aku handel sendiri." perintah pak Catur padaku.


"Baik, pak asal ibu dan bunda berkenan untuk saya temani dengan senang hati saya akan menemani beliau." ujarku jujur apa adanya.


"Kami justru senang sekali, mbak Fah, jika mbak Fah bersedia menemani kami untuk jalan-jalan di kota ini." ucap bu Cakra dengan sorot mata penuh harap.

__ADS_1


"Lihatlah mbak, semua mendukung kamu mbak, jika sudah ada mbak Fah, aku merasa jadi anak tiri!" protes pak Catur sedikit mengadu ke kedua orang tuanya.


"Sudah kalian jangan bertengkar, kalian berdua anak-anakku semua," ucap bu Cakra menengah, kami semua tersenyum senang.


__ADS_2