
Adzan subuh berkumandang aku tertidur hingga bapak sama ibukku berangkat ke pasar aku sampai tidak tahu, aku segera bangun melaksanakan kewajibanku, aku juga langsung masak, karena Nafisa sedang hamil aku melarangnga untuk memasak.
"Masak apa mbak?" Nafisa sudah berada di dekatku.
"Nyayur lodeh." sahutku sambil terus melanjutkan aktifitasku.
Kegiatan pagi sangatlah sibuk, karena kami semua memiliki aktifitas masing-masing. Hari ini terakhir aku masuk kantor untuk ngambil cuti pernikahan, alhamdulillah semua pekerjaanku juga sudah selesai tepat waktu, jam empat sore aku pulang dari kantor dengan mengendarai sepeda motor maticku, sengaja aku untuk pulang sendiri, karena pak Catur masih banyak pekerjaan.
Sabtu siang aku dan mbak Rani serta Nina sedang berkumpul di rumahku untuk melepas kangen karena hampir empat bulan tidak berjumpa sebab kesibukan kita masing-masing, mbak Rani sibuk karena menjabat jadi pengawas pengepakan menggatikan posisiku sedang Nina sibuk kerja dan kuliah.
Kami bertiga bertiga bercengkerama di ruang tengah melepas kangen, dan sampai saat ini mbak Rani maupun Nina juga belum tahu dengan rencana pernikahanku.
"Mbak Ran, Nin, maaf sebelumnya, sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian namun tolong rahasikan dulu ya?" pintaku dengan wajah memohon pada mereka.
"Ada apa, Fah, jangan bilang kamu mau resigned?" tebak mbak Rani.
"Iya, mbak Fah, ada apa?" Nina tambah penasaran.
"Sebenarnya... ehmm... ehm.... " lidahku rasanya kelu untuk mengatakannya, di saat bersamaan Afriana yang bermain di teras berteriak.
"Ibuk ayah datang!"
Aku langsung terkejut, aku intip ternyata benar pak Catur sama Rahma masih di dalam mobil pak Catur yang baru terparkir di halaman rumah, Nina dan mbak Rani tak kalah bingung.
"Ringgo?" seru Mbak Rani dan Nina, dengan wajah penasaran, "Jangan bilang kamu balikan sama Ringgo ya, Fah?" hardik mbak Rani langsung sewot.
"Iya, aku juga gak setuju." sahut Nina tak kalah judes.
Aku belum sempat menjawab mbak Rani dan Nina saking penasarannya langsung bangkit dari rebahannya menuju jendela kaca depan untuk melihat siapa yang dimaksud oleh Afriana.
__ADS_1
"Allahhu Akbar, Fah, bosmu siang-siang kesini ngapain? Apa kamu bikin masalah di kantor?" mbak Nina langsung mencecarku berbagai macam pertanyaan penuh kecemasan.
"Iya, mbak Fah, kamu gak melakukan kesalahan kan?" ganti Nina yang melontarkan pertanyaan penuh dengan kecemasan.
"Kenapa juga ni orang kesini." gumamku dalam hati. "Kalian jangan khawatir." jawabku asal karena tidak tahu harus jawab apa.
"Fah, tuh Afri, kenapa kelihatan akrab banget dengan bosmu dan anaknya? kamu gak selingkuh dengan bosmukan?" tanya mbak Rani curiga, dan Nina juga menatapku curiga.
"Mbak Fah, kenapa Afriana manggil ayah pada bos kita kamu benar-benar gak selingkuh dengan bosmukan?" Nina tak kalah curiga.
Aku belum sempat menjawab pak Catur setelah bercengkerama dengan Afriana sebentar langsung menuju pintu rumahku dengan senyum yang mengembang indah.
"Lah lah, Fah mateng bosmu kesini, bagaimana ini." mbak Rani rempong sendiri.
"Assalamu'alaikum Dinda." pak Catur mengucap salam dia tidak tahu jika di dalam ada mbak Rani dan Nina
"Wa... wa'alaikum salam, silakan masuk pak." sahutku sedikit kaku.
"Oh, ada tamu, maaf mengganggu." ucap Pak Catur santai, dan langsung duduk di sofa ruang tamu.
Aku hanya senyum karena tidak tahu harus ngomong apa, sedang mbak Rani dan Nina masih menatapku curiga.
Belum sempat aku menjelaskan Afriana dan Rahma masuk ke rumahku "Paman kita jadi jalankan sama Afriana." seru Rahma bahagia me dekat pada pak Catur.
"Ayah, memang mau ngajak kita kemana?" tanya Afriana penasaran dan langsung duduk dekat pak Catur.
Mbak Rani dan Nina tambah menatapku dan Pak catur penuh den an kecurigaan.
"Sebentar ya sayang kalian main sebentar, nanti kita main bareng-bareng." ucap Pak Catur lembut" Kalau gak salah ini mbak Rani ya, dan ini mbak Nina." ucap Pak Catur ramah dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman, saking terkejutnya mbak Rani dan Nina bersalaman namun melongo tanpa menjawab "Maaf jika kedatangan saya ke sini tidak tepat dan membuat kalian tanda tanya?" ucap Pak Catur sopan.
__ADS_1
"Iya, maaf pak, apa bapak dan Afifah memiliki hubungan khusus?" tanya mbak Rani langsung nyeplos tanpa disaring.
"Maaf jika kami merahasiakannya dari semua." jawab pak Catur santai
"Fah?" mbak Rani menatapku penuh tanda tanya
"Mbak Fah." Nina tak kalah curiga.
"Tadi Aku itu tuh mau ngomong, eh." ucapku tidak aku lanjutkan.
"Begini mbak, maaf memang ini sengaja saya rahasiakan agar tidak mengganggu kinerja kita semua dan pastinya saya ingin menjaga nama baik mbak Afifah selaku calon istri saya." ucap Pak Catur tenang.
Aku sudah sangat bingung tidak tahu harus menjawab apa. Sedang mbak Rani dan Nina langsung terkejut sampai-sampai melongo dan matanya melotot menatapku dan Pak Catur secara bergantian.
"Apa, Fah kamu gak merebut suami orangkan?" teriak mbak Rani saking terkejutnya.
Aku hanya menunduk dan menggelengkan kepala.
"Jangan khawatir mbak, mbak Fah itu orangnya baik, dan bukan salah mbak Afifah juga, karena memang saya sudah lama ingin menpersunting mbak Afifah, Begini mbak, mbak Afifah tidak merebut siapapun karena saya sendiri tidak beristri, jadi begitu mbak Afifah selesai sidang langsung saya lanar, dan inshaallah dua minggu lagi kami akan menikah." jelas pak Catur secara gamblang.
"Apa?" seru mbak Rani dan Nina secara bersamaan" pantesan Afriana manggil ayah, kamu kenapa gak cerita ke kita Fah!" seru mbak Rani.
"Iya, maaf mbak Ran, Nin, tadi Aku tuh mau cerita sayangya terputus." keluhku dengan nada memelas.
"Pak, bapak lagi tidak memainkan Afifah kan?" tanya mbak Rani curiga.
"Alhamdulillah, saya bersungguh-sungguh dengan dinda Afifah." ucap Pak Catur dengan kesungguhannya dan senyum mengembang indah.
Karena hari pernikahanku sudah sangat dekat maka dengan gamblangnya, aku dan Pak Catur menceritakan tentang perjalanan kami kepada mbak Rani dan Nina. Setelah mendengar cerita dari kami mereka mbak Rani dan Nina ikut bahagia, apalagi tanpa sepengetahuanku mbak Priska dan Pak Catur sudah merencanakan posisi yang bagus dan pas untuk Nina.
__ADS_1