TALAK

TALAK
Part 190 TALAK.


__ADS_3

Sebab terlalu capek aku sampai ketiduran, aku baru bangun setelah jam menunjukan pukul empat, di dalam kamar aku tidak menemukan pak Catur. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi dengan memakai wardrobe, dan rambut yang sudah basah. Tanpa aku sadari ternyata pak catu sudah berada kembali di dalam kamar.


"Aku kira belum bangun sayang, sholat dulu dan kita berangkat, nanti keburu malam, tadi Afriana juga sudah telpon menanyakan kapan kita sampai," ucap Pak Catur.


"Mas gak bangunin aku sih mas?" protesku.


"Mas sebenarnya juga baru bangun, sayang, tadi ke dapur ambil air, sini aku bantu-in keringkan rambutnya," pinta Pak Catur.


"Terima kasih,"


Aku duduk di depan meja rias, pak Catur membantuku mengeringkan rambutku menggunakan hair dryers dengan sabar dan telaten. Pak Catur sering membantuku untuk mengeringkan rambut, atau menyisir rambutku, setelah selesai semua jam lima sore aku dan Pak Catur berangkat ke rumahku sendiri dan orang tuaku untuk tidur di sana. Begitu kami berdua sampai keluargaku menyambut dengan antusias, padahal baru dua minggu aku meninggalkan rumah namun rasanya membuat aku sudah merasa sangat kangen. Selesai sholat isya kami semua berkumpul di rumah kedua orang tuaku, kami bercengkerama bersama sambil membahas acara tujuh bulanan Fauzan dan Nafisa yang akan di selenggarakan dua hari lagi.


"Semalam bilang sebulan lagi katanya acaranya?" ucapku.


"Lupa mbak," sahut Fauzan.


"Adikmu ya begitu Fah, di rumah siap-siap dia malah tidak tahu," jawab ibukku "Bagaimana kandunganmu Fah, kamu kelihatan kurang sehat,?" tanya ibukku cemas.


"Alhamdulillah, baik buk, cuma sekarang mudah lelah, tidak seperti waktu hamil Afri, jadi sekarang Fah tidak bekerja lagi," jelasku pada ibukku.


"Setiap anak bawaannya sendiri-sendiri Fah, jangan kamu samakan," nasehat ibukku.


"Alhamdulillah, inshaallah kami akan memiki anak kembar, itu sebabnya istriku mudah lapar dan mudah lelah, dan dia tidak akan makan jika tidak masak sendiri" ucap Pak Catur.

__ADS_1


"Alhamdulillah," jawab semua orang.


"Resepnnya apa mas kok manjur sekali, sekalinya bikin langsung jadi dapat dua lagi, aku saja harus nunggu lama," kelakar Fauzan.


"Kamu kurang cocok vitaminnya, Zan," sahut pak Catur santai.


"Rejeki sudah ada yang ngatir Zan," seloroh bapak.


"Alhamdulillah, kita tambah tua pak, benar kata mbakmu dalam satu tahun menerima dua cucu, Fah perbanyak ngajinya terutama baca surat maryam dan surat yusuf, amalkan setiap hari begitu pula kamu nak Catur usahakan amalkan membaca surat maryam dan Surya yusuf, supaya anakmu Sholeh dan sholehah," nasehat ibukku.


"Inshaallah buk, buk ada kembang kates, rasanya saya pingin sekali malm kembang oseng kembang kates," tanya pak Catur pada ibukku.


"Ada di pohon belakang rumah tapi cuma sedikit," jawab ibukku.


"Jangan-jangan masmu yang ngidam Fah," tebka ibukku " Kamu gak ngidam pingin sesuatu gitu?" padaku.


"Mungkin juga buk lawong dia itu aneh-aneh saja, kalau aku sendiri maunya cuma pingin tidur dan makan saja buk dan paling inginnya selalu dekat dengan mas," jelasku.


"Berati adik Afri ada tiga, bulek Nafis satu dan ibuk punya dua, perut ibuk gak besar-besar?" tanya Afri polos.


"Nanti perut ibuk juga besar sayang," jawab pak Catur.


"Sudah malam kalian istirahatlah," perintah bapakku.

__ADS_1


"Buk, aku ikut tidur ibuk ya," pinta Afriana manja.


"Boleh, sayang," Pak Catur dengan cepat langsung menyetujuinya.


"Af, kamu tidur sama mbah saja, takutnya kamu nendang perut ibukmu, kasihan kalau ketendang nanti adiknya sakit," ibukku berusaha me larang Afriana, ya memang benar Afriana Ana jika tidur tidak bisa diam.


"Tapi mbah aku kan kangen ibuk," rengek Afriana.


"Gak apa-apa buk, biar Afri tidur sama kami saja, inshaallah aman," sahut pak Catur bijak.


"Afri akan diam kok mbah," jawab Afri.


"Ya, sudah pamit mbak dan bulik, serta paklik kita pulang, besok harus sekolah kan," nasehatku.


"Sebentar aku mau ambil kembang kates," ucap Pak Catur langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Gelap mas!" seru Fauzan.


"Pakai senter," Pak Catur tetap ngeyel.


"Yo wes ayo tak antar mas nanti kecantol gendruwo," kelakar Fauzan.


"Biar bapak saja yang ngambil, istri kalian sedang hamil, malam-malam jangan kelayapan di belakang salah-salah bisa sawanen," nasehat bapak.

__ADS_1


Akhirnya Fauzan tidak jadi mengambil kembang kates, karena bapak melarangnya, malam ini Afriana ikut tidur denganku dan Pak Catur padahal biasanya dia tidur sendiri. Kami bertiga tidur satu kasur dengan posisi Afri paling ujung aku berada di tengah dan Pak Catur berada di sebelahku.


__ADS_2