TALAK

TALAK
Part 195 TALAK


__ADS_3

Acara tujuh bulanan Nafisa dan Fauzan telah usai, para kerabat juga sudah banyak yang pamit pulang, tanpa aku sadari ternyata sekarang sudah jam sebelas malam, mbak Us dan Mbak Yah di bantu kerabat yang masih nginap, mencuci peralatan dapur sambil bercerita ringan, aku dan Nafisa membantu merapikan saja.


"Fah, Naf, beristirahatlah jangan terlalu capek kasihan bayimu," perintah ibukku.


"Sebentar lagi buk," jawabku.


"Iya, buk," Nafisa langsung masuk kamar diikuti oleh Fauzan.


"Sudah malam, Fah," perintah ibukku lagi.


"Baiklah bu," Aku beranjak, dan menghampiri pak Catur yang masih ngobrol dengan bapak serta saudara yang lainnya.


"Mas," panggilku.


"Sudah malam tidurlah," perintah bapak pada semuanya.


"Mari," pamit pak Catur dan beranjak dari tempat duduknya.


Aku dan Pak Catur masuk rumahku, sedang Afriana ikut tidur anaknya mbakku di rumah orang tuaku.


"Sayang, capek?" tanya pak Catur yang sudah berbaring di sebelahku.


"Capek mas," sahutku lemah karena memang sudah sangat ngantuk.

__ADS_1


"Tidurlah, selamat malam sayang," Pak Catur mengecup mesra keningku dan mempererat pelukannya.


Kehamilanku yang sekarang memang sangat berbeda jauh dari kehamilanku yang dulu, sekarang aku lebih suka berdekatan dengan suamiku, bisa dikatakan lebih manja, jika malam harus berada dalam pelukan suamiku baru bisa tidur nyenyak, jika tidak maka aku tidak bisa tidur. Dinginnya malam membuatku semakin nyaman dalam dekapan suamiku, hingga alarm di kamar berdering menunjukan pukul tiga pagi, aku membuka mata begitu juga pak Catur, setelah nyawa terkumpul aku ke kamar mandi untuk ambil air wudhu begitu pula pak Catur, kami berdua melaksanakan sholat tahajud bersama. Karena tubuhku terasa pegal-pegal dan kantuk berat aku memilih tidur kembali walau tidur ayam, dalam artian tidak tidur nyenyak, dan suamiku tetap melanjutkan dzikirnya hingga adzan subuh berkumandang aku bangun sebelum dibangunkan oleh suamiku. Aku dan Pak Catur pergi ke mushola bersama-untuk melaksanakan sholat berjamaah di mushola. Sepulang dari mushola aku membantu ibukku dan saudaraku di dapur untuk masak, sedangkan Pak Catur melakukan rutinan subuhnya mengaji.


"Mbak Us, pulang minggu kan?" tanyaku.


"Iya, katanya mau ngajak ke rumahnu Fah,?" mbak Us tanya balik.


"Nginep, ya, mbak Yah, juga?," pintaku.


"Us, saja yang nginep, aku pulang kasihan masmu, sudah berhari-hari ngrawat ternak dan jaga toko sendirian, aku lain kali saja nginepnha jika kamu lahiran atau tujuh bulanan" jawab mbak Yah dengan senyum.


"Ya, biar aku saja yang nginep, sekalian pulang," jawab mbak Us.


"Mas Sapta juga ikut kan?" tanyaku pada mbak Us.


"Alhamdulillah, mbak, semua baik-baik saja, cuma suamiku sangat berlebihan dalam menjagaku, sekarang saja mas sudah myewa suster untuk menjagaku, pembantu untuk Afriana juga ada, aku sebenarnya bersyukur sekali tapi bagaimapun aku merasa tidak enak, mbak, entahlah mbak" aku sedikit berkeluh kesah pada mbak Us.


"Bersyukurlah Fah, tidak semua wanita bisa memiliki suami yang bertanggung jawab seperti suamimu sekarang, semua ini berkat kesabaranmu beberapa tahun ini Fah, nikmati dan syukuri harapan mbak apapun yang kamu miliki sekarang jangan sampai membuatmu lupa daratan, Fah," nasehat mbak Us.


"Inshaallah mbak." jawabku senang.


Aktifitas pagi ini masih dalam rangka bersih-bersih sisa acara tujuh bulanan kemarin, kami saling bahu membahu sambil ngobrol atau bersendau gurau, walau kali ini hanya keluargaku sendiri. Karena sisa makanan kemarin masih jadi kami tidak masak untuk sarapan hanya ngangetin masakan kemarin saja(blendrang).

__ADS_1


"Fah, suamimu gak kamu masakin yang baru?" tanya mbak Us yang meletakan piring di atas meja makan.


"Gak usah mbak, mas sudah terbiasa makan seperti kita kok." sahutku sambil menata makanan di atas meja.


"Aku kira dia gak doyan blendrang Fah!" celetuk mbak Us.


"Dua itu semua doyan mbak asal makannya dekat mbak Fah," sahut Nafisa yang ikut menata lauk dia atas meja.


"Mantu ibuk, bapak itu gak ada yang pilih-pilih kok Us, aku dulu sampai heran waktu suaminya Afifah makan blendrang gori di rumahku, kok doyan malah nambah, padahal waktu itu belum jadi suaminya Afifah," tambah mbak Yah ikut ngerumpi.


"Masa mbak kapan kok aku gak tahu?" tanyaku pada mbak Yah peansaran, karena memang aku tidak tahu tidak ada yang cerita.


"Tanya saja sama suamimu, Fah." ucap mbak Yah sambil ngelap panci.


"Buk sarapan," seru Afriana yang sudah memakai seragam dan duduk di kursi.


"Mbah Zahra sudah pulang to bupuh?" tanya Afriana pada mbak Yah.


"Sudah pulang, sama pakpuh tadi pas kamu mandi." sahut mbak Yah.


"Sarapan yang banyak, Af," perintahku.


"Ayah gak sarapan buk?" tanya Afriana padaku.

__ADS_1


"Nanti sepulang ngantar kamu," sahutku sambil menunggu Afriana sarapan


Hatiku bahagia sekali beberapa hari ini aku punya banyak waktu untuk menemani Afriana, waktu pagi aku tidak lagi terburu-buru bahkan aku tidak harus memasak. Selesai sarapan Afriana ke sekolah di antar oleh pak Catur sendiri dengan mengendarai sepeda motor.


__ADS_2