
"Ayah punya rencana jika Dinda setuju, ayah akan membukakan rekening atas nama Afri, sendiri supaya mudah bagi Ringgo untuk mentransfer uangnya ke Afri secara langsung tanpa harus lewat kita, bagaimana Dinda setuju atau tidak?" usul pak Catur.
"Dinda setuju saja itu lebih baik, dengan begitu Afriana tahu nyata jika bapaknya masih menyayanginya," jawabku langsung menyetujui usulan pak Catur.
"Syukur alhamdulillah, kapan-kapan kita hubungi Afriana dan kita tunjukkan uang pemberian bapaknya, dan kita sampaikan tujuan kita untuk membuka rekening pribadinya."
Kami berdua akhirnya sama-sama menyetujui untuk membuat rekening buat Afriana untuk mempermudah jika mas Ringgo ingin memberi uang kepada Afriana.
Sesuai dengan janjiku pada mbak Qibtiyah hari ini aku ajak mbak Qibtiyah untuk belanja oleh-oleh buat mbak Qibtiyah pulang kampung, karena dia bilang mau ada acara lamaran aku membelikan oleh-oleh lebih banyak dari biasanya dan juga dengan jajan yang berbeda dari biasanya, sebenarnya mbak Qibtiyah menolaknya namun aku tetep membelikannya. Mbak Qibtiyah pulang dengan diantar oleh sopir disamping oleh-oleh berupa jajan aku juga memberikan uang saku sedikit berlebih karena mbak Qibtiyah sudah lama bekerja dengan keluargaku.
Dengan berjalannya waktu keluargaku semakin bahagia bahkan anakku juga bertambah dua lagi mereka kembar laki-laki dan perempuan. Untuk hubungan keluargaku dengan mas Ringgo juga semakin baik, mas Ringgo menepati janjinya setiap bulan mas Ringgo rutin mentransfer uang ke rekening Afriana namun demikian pak Catur tetap tidak pernah mengijinkan mas Ringgo untuk menemuiku, sebagai seorang istri aku tidak pernah protes dengan keputusan suamiku toh itu semua demo kebaikan kita semua.
Afwa dan Afwi kini sudah duduk di bangku sekolah dasar hari ini kedua putraku sedang melaksanakan khitan, si kembar ikut khitan masal yang diselenggarakan oleh panti asuhanku, Afwa dan Afwi ikut khitan masal bersama dengan sekitar dua ratus anak yatim piatu maupun anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Mama, papa Cakra, mbak Irma beserta keluarga, mbak Priska beserta keluarga ikut menghadiri khitan masal tidak ketinggalan juga seluruh keluargaku, mereka sangat mendukung sekali acara yang kami selenggarakan. Acara berjalan lancar setelah selesai acara kami istirahat dulu di panti asuhan kami tidak langsung pulang, Afwa dan Afwi istirahat disalah satu ruangan dengan beberapa penghuni panti asuhan yang juga ikut khitan masal.
"Af, bagaimana rasanya? kenapa Afwa dan Afwi ikut khitan masal?" tanya mama Cakra dan papa Cakra.
"Rasanya kaya digigit semut, kalau khitan masal banyak temannya jadi gak terasa sakit." jawab Afwa sambil berbaring.
"Iya benar kata mas Afwa, dan juga kita dapat bingkisan " timpal Afwi sambil menunjukkan bingkisan.
"Pintar cucu nenek," Puji mama Cakra.
Seperti yang diucapkan Afwi semua peserta khitan masal mendapat bingkisan berupa peralatan sekolah, Al qur'an, sarung dan juga uang saku. Ketika anak-anakku ingin mengikuti khitan masal aku maupun pak Catur tidak melarang bukan karena aku pelit namun aku memang sengaja mengajari anak-anakku untuk tetap bisa berbaur dengan anak-anak panti tanpa harus membedakan status sosial jadi sudah tidak heran jika semua anak-anakku bisa berteman akrab dengan anak-anak penghuni panti.
__ADS_1
Di rumahku tetap diadakan tasyakuran kecil-kecilan atas terlaksananya khitan kedua putraku. Acara tasyakuran cuma di hadiri oleh keluarga terdekat saja untuk tetangga aku hanya membagikan nasi tumpeng kecil, selain membagikan pada tetangga aku juga membagikan pada anak-anak panti asuhan dan juga panti singgah lansia.
"Alhamdulillah, Putra ayah sudah besar, Afwa dan Afwi mulai sekarang kalian harus lebih rajin dalam ibadah jaga sholat jangan sampai bolong." nasehat pak Catur lembut pada kedua putraku yang sedang terbaring di ranjang masing-masing sampai saat ini kedua putraku masih tidur dalam satu kamar.
"Kalian harus bisa menjadi contoh yang baik buat adik-adik ya," nasehatku.
"Malam ini ayah akan menemani kalian tidur," ucap pak Catur lembut.
"Terima kasih ayah." sahut kedua putraku.
"Bunda mau menamani adik, ada apa-apa minta tolong kepada ayah ya," pesanku pada kedua putraku.
"Baik bunda." jawab mereka berdua.
"Masyaallah, bagi mama seperti mimpi melihat anak-anak kalian semuanya sehat, bersyukur sekali kalian memiliki anak yang banyak dan kalian bisa mengasuh anak-anak dengan baik, mama dan papa benar-benar terharu, anak mama yang dulu hampir kehilangan hidupnya sekarang dia yang paling banyak memiliki anak, sekarang dia sangat bahagia." mama tak hentinya-hentinya mengucap syukur melihat damainya keluargaku.
"Semua ini berkat doa-doa mama dan papa," jawabku sopan.
Malam semakin larut aku ajak Putra Putriku untuk tidur, pada awalnya Abidah dan Alifa menolak karena masih ingin bermain dengan kakek dan neneknya, namun setelah aku rayu mereka mau mengikuti arahanku, setelah ke empat anakku tidur aku kembali menuju ke kamar Afwa dan Afwi, Afwa dan Afwi juga sudah tidur namun tidak dengan Pak Catur pak Catur duduk di meja belajar Afwa dan Afwi pak Catur masih sibuk dengan laptopnya. Untuk penghuni rumah lainnya semua sudah masuk kamar masing masing.
"Mas." sapaku aku sudah berdiri di samping suamiku.
"Dinda belum tidur?" tanya pak Catur padaku.
"Sebentar, tidak terasa kita sudah tua mas." ucapku aku sudah duduk di salah satu kursi di sebelah pak Catur " Lihatlah mereka sudah khitan dan Afriana sebentar lagi juga akan masuk bangku kuliah, rasanya begitu cepat perasaan baru kemarin aku susui mereka, aku timang mereka, dan mungkin beberapa tahun lagi kita akan menimang cucu," ucapku sambil membayangkan aku menjadi nenek.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kita di beri kesempatan begitu indah, bisa memiliki mereka semua, oh ya ayah ada kabar bagus tentang bapaknya Afriana," ucap Pak Catur dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Barita bagus apa?" tanyaku penasaran.
"Ringgo mengundang ayah untuk hadir dalam acara lamarannya minggu depan, dan kalau bisa ajak Afriana." jelas pak Catur.
"Alhamdulillah, ayah tahu dengan siapa?" tanyaku.
"Dia bilang dengan salah satu guru di pesantren tempat tinggi mengabdi dan katanya dia masih kerabat pemilik pesantren tersebut," jelas pak Catur.
"Alhamdulillah, Dinda ikut senang." jawabku
Aku tidak begitu tahu tentang kehidupan mas Ringgo aku hanya tahu sekarang dia mengabdi di pesantren itupun aku dengar cerita dari Pak Catur karena selama ini yang menjalin hubungan baik dengan mas Ringo malah pak Catur suamiku sendiri.
"Calon istri Ringgo ingin bertemu dengan dinda dan juga Afriana, ayah akan menjemput Afriana agar Afri bisa hadir di acara lamaran bapaknya." jelas pak Catur.
"Hahh... !" Aku terkejut mendengar ucapan pak Catur.
"Ya, kita akan ikut juga anak-anak akan ayah ajak, seperti permintaan Ringgo." jelasnya.
"Tumben, ayah gak cemburu lagi?" goda ku.
"Cemburu tetap ada tapi ayah tidak khawatir lagi karena Ringgo sudah akan menikah, dan kita juga sudah memiliki anak yang begitu banyak, terima kasih sayang, dan rencananya dua minggu setelah lamaran mereka melangsungkan pernikahan, sekarang Ringgo juga sudah mendaftarkan rencana pernikahannya di KUA." jelas pak Catur lagi.
"Alhamdulillah," Syukurku.
__ADS_1