TALAK

TALAK
Part 62 TALAK


__ADS_3

Di dalam kamar pak Cakra, pak Catur sedang berbincang dengan Pak Cakra perihal perkembangan pabrik yang ada di kota Madiun dan juga tentang perkembangan pembangunan pabrik baru yang ada di kota Madiun juga.


Pak Catur menjelaskan secara terperinci tanpa ada yang di tutup-tutupinya, dalam pekembangan pabrik rokok pak Cakra mengandalkan bu Irma dan Pak Catur, sedang Dwi dan Tri bergelut dengan provesinya masing-masing, Dwi milih menjadi dokter sedang Tri memilih menjadi arsitek kapal. Pak Cakra bukan tipe orang tua yang memaksakan kehendak jadi anak-anaknya bebas memilih profesi sesuai dengan kata hatinya yang penting bisa bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri.


Di dapur para wanita sedang sibuk menyiapkan menu untuk makan malam, khususnya Afifah yang juga ikut berkecimpung di dapur untuk memasak menu kembang kates pesanan bu Cakra. Sebenarnya sebagian menu sudah pesen lewat restaurant namun setiap makan di rumah tetap harus ada menu rumahan.


Jam tujuh lebih tiga puluh menit semua penghuni keluarga Cakra tidak terkecuali sudah berkumpul di meja makan yang sangat besar, enam belas orang berkumpul melingkar di meja makan, semua yang makan nampak sangat senang menikmati hidangan yang di sajikan oleh bu Cakra.


"Kali ini kita punya menu special, oseng kembang kates, kalian harus mencoba, pasti ketagihan." ucap bu Cakra sambil mengambil oseng kembang kates buat pak Cakra dan dirinya sendiri.


"Pasti, mahal tahu." timpal pak Catur.


"Beneran, mahal, Ton?" tanya Dwi.


"Ya jelas mahal, wong kembang katesnya saja naik pesawat executive." timpal bu Irma.


"Mahal mas, dan juga langka." jawab pak Catur.


"Wah, benar -benar enak." celetuk Tri yang sudah menyendok nasi dan kembang kates.

__ADS_1


"Benarkan." timpal pak Cakra " Tidak salahkan aku suruh kalian datang, menu kita beda dari biasanya, chefnya saja mendatangkan langsung dari kota Madiun." kelakar pak Cakra.


"Mbak, Fah, kalau aku ke Madiun boleh ya mampir kerumahmu, ehmm... Sekalian minta kembang katesnya tapi jangan di kasih yang mentah yang sudah mateng kaya gini." ucap Dwi yang juga meniknati oseng kembang kates buatan Afifah.


"Silahkan, pak, kalau mau mampir tapi gubuk saya jelek pak." ucapku sopan.


"Jangan formal gitu mbak, panggil saja Mas, biar lebih akrab, lagian...." ucap Tri gantung.


"Lagian apa mas?" tanya pak Catur.


"Lagian, kita kan gak tua -tua amat, masa dipanggil pak, kan cocok kalau di panggil mas, wong jarak kita gak jauh beda begitu." ucap Tri buat alibi karena hampir keceplosan.


Dalam hati kecilku, aku merasa iri melihat keluarga kecil mereka yang begitu harmonis, anak -anak yang manis, semua kakak-kakak pak Catur memiliki anak lebih dari satu. Bu Cakra dan Pak Cakra malam ini terlihat sangat bahagia, terlihat dari pancaran air mukanya beliau sangat menikmati kebersamaan ini. Selesai makan malam kami semua berkumpul diruang keluarga tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan atau bisnis semua hanya bercerita tentang keluarga masing -masing. Kami semua bercerita tentang anak -anak atau kegiatan para istri yang harus mengatur antara pekerjaan dan keluarga.


"Alhamdulillah ya Pa, anak -anak bisa ngumpul seperti ini, rasanya sudah lama tidak berkumpul seperti sekarang." ucap bu Cakra.


"Ya, ma, tinggal satu yang kurang lengkap, kalau Tono sudah menikah lagi pasti tambah lengkap." jawab pak Cakra si iringi tawa bahagia.


"Ton, dengerin mama, papa." celetuk Dwi.

__ADS_1


"Ya, aku dengar," jawab Pak Catur sedikit canggung" Kelihatannya sudah malam, anak -anak cepetan tidur, ayo kita tidur." ajak pak Catur karean berusaha untuk menghindari.


"Mbak, Fah, semoga kamu nyaman untik di sini, mereka kalau lagi ngumpul memang begitu, tapi ya jarang bisa ngumpul santai seperti ini, biasanya Dwi sama Tri akan datang hanya waktu tertentu saja." ucap bu Cakra.


"Ton, kalau pas longgar ajaklah mbak Fah, main ke London, kita bisa liburan bersama di sana." ucap Dwi, Dwi tinggal di London bersama keluarga.


"Inshaallah, mas jika ada waktu longgar, lagian sekarang kita lagi menangani pembangunan pabrik baru, dan rencana mau bangun taman dan villa, mungkin akan sibuk sekali." jawab pak Catur.


"Mbak, Fah, datanglah ke tempat kami, kami pasti senang." ucap Dwi.


"Jangan lupa pula ke Hongkong ya mbak, Fah." ucap Tri.


"Mbak Fah, kelihatannya sekarang yang jadi adiknya mas Tri dan mas Dwi itu bukan aku." gerutu pak Catur pura-pura cemburu.


"Inshaallah, pak, terlalu jauh buat saya." jawabku dengan ramah.


"Baiklah, sekarang sudah malam, cepatlah istirahat, besok kita akan ada rapat pagi-pagi sekali." perintah pak Cakra dan Pak Cakra langsung berdiri dari duduknya karena jam sudah menunjukan pukul sembilan lebih tiga puluh menit.


Semua penghuni rumah pak Cakra masuk kamar masing-masing begitu pula aku, aku menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah, sedang semua anak -anak pak Cakra menempati kamar yang ada di lantai dua semua.

__ADS_1


Kamar yang aku tempati begitu mewah, sangat jauh beda dengan kamar yang ada di rumahku, namun demikian perasaan tidak nyaman tetap menghinggapi hatiku, dan rasa nyaman itu tetap aku dapatkan saat berada di kamarku sendiri.


__ADS_2