TALAK

TALAK
Part 79 TALAK


__ADS_3

[Assalamu'alaikum, pak, ada yang bisa saya bantu?] aku.


[Wa'alaikum Salam, mbak, oh ya mbak tadi ada beberapa email dari Pt Citra , apa mbak sudah mengeceknya, mereka mintanya cepat, maaf sebenarnya ini kesalahanku juga, karena tadi Aku tidak konsentrasi saat meting?] pak Catur.


[Baru saya cek, pak tapi belum semuanya, saya usahakan untuk mengerjakan besok, inshaallah masih bisa terkejar] aku.


[Baiklah, bagaimana keadaan mbak sekarang?] pak Catur.


[Alhamdulillah, baik pak tidak ada yang perlu di khawatirkan, inshaallah besok juga sudah bisa kembali bekerja seperti biasanya] aku.


[Ada, apa-apa mbak bisa minta bantuan ke aku, semampuku aku akan berusaha untuk membantu mbak] pak Catur.


[Terima kasih, pak] aku.


[Selamat istirahat mbak] pak Catur.


[Terima kasih, pak, selamat istirahat juga buat bapak] aku.


Aku letakan kembali hand phonku aku kembali melanjutkan pekerjaanku untuk mengecek email dari Pak Catur dan juga dari Pt Citra, namun bukannya konsentrasi dalam pekerjaan aku pikiranku malah melayang memikirkan ucapan dari Nafisa maupun bu Priska mengenai pak Catur. Dari awal aku menjadi sekretarisnya pak Catur dia memperlakukanku berbeda jauh dengan karyawan lainnya, apalagi di saat rapat dewan direksi di Jakarta beberapa hari lalu dengan terang-terangan pak Catur mengakui keberadaanku yang sangat berarti dalam kemajuan karirnya.

__ADS_1


Belum lagi sikap keluraga besar pak Catur, mereka menganggapku bukan sekedar sekretarisnya pak Catur namun lebih ke ikatan keluarga.


Malam ini aku tidur sendiri karena Afriana tidur di rumah orang tuaku demi keselamatannya, orang tuaku takut jika mas Ringgo akan menyerang Afriana secara tiba-tiba. Mas Ringgo berkeinginan untuk memisahkan aku dan Afriana, karena mas Ringgo tahu kelemahanku pada Afriana.


Jam sembilan malam aku sudah mulai merebahkan tubuhku untuk beristirahat karena beberapa hari ada serangan mistis.


Pagi ini antar oleh bapak lagi, ya entah samapi kapan sebenarnya aku tidak ingin merepotkan keluargaku namun aku juga harus nuruti demi keselamatanku. Di saat aku turun dari motor bapak aku juga melihat mobilnya pak Catur juga baru masuk ke gerbang pabrik. Di pabrik kami memang hanya ada satu pintu gerbang untuk keluar masuk karyawan kantor maupun karyawan pabrik.


Aku langsung melihat jam, masih jam tujuh empat puluh menit, tapi pak Catur sudah sampai di kantor lebih awal dari biasanya.


Aku langsung masuk kantor menuju ruanganku yang ada di lantai atas dengan Pak Catur, saat mau masuk ruanganku sendiri pak Catur sudah berada di belangku.


"Wa'alaikum salam pak, maaf saya yang terlambat apa bapak yang datang kepagian?" tanyaku asal.


"Ada pekerjaan yang harus selesai kan segera, mbak masih sakit kok fi antar sama bapaknya ?" tanya pak Catur padaku.


"Sedikit." jawabku asal.


"Mbak masuk dulu keruanganku, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu!" perintah pak Catur padaku.

__ADS_1


"Baik pak!" jawabku mengikuti langkah pak Catur untuk masuk ke ruangan pak Catur.


"Silahkan duduk, mbak!" perintah pak Catur lagi.


"Terima kasih." jawabku .


"Maaf mbak apa mbak punya masalah yang berat, tentang perceraian mbak mungkin, maaf bukannya ingin ikut campur cuma bagaimanapum mbak karyawanku dan aku tidak ingin mbak terlalu stres dengan masalah pekerjaan dan masalah pribadi?" tanya pak Catur sopan.


"Maaf, pak kalau masalah pribadi saya mengganggu pekerjaan saya, inshaallah saya bisa mengatasinya." ucapku hati-hati.


"Mbak, boleh cerita ke aku kalau mbak mau, anggap saja aku ini teman atau barang kali mas, apalah! Bagaimanapum hampir tiap hari kitakan bersama jadi jangan terlalu sungkan jadi dengan senang hati aku akan membantu mbak jika mampu." ucapku pak Catur bersungguh-sungguh.


"Terima kasih, pak, mungkin lain kali tidak sekarang." jawabku sopan.


"Jangan takut, tidak akan ada yang cemburu terhadapku, kalau mbak takut bakal ada yang cemburu." kelakar pak Catur tiba -tiba.


"Maaf, bukannya itu pak." jawabku sedikit kikuk.


"Ya, sudah tolong buatkan teh, sperti biasa dan kita kembali bekerja lagi !" perintah pak Catur.

__ADS_1


Aku segera berdiri dan menuju pantri untuk membuat teh pesanan pal Catur, Sekalian agar aku bisa segera menghindar dari Pak Catur.


__ADS_2