TALAK

TALAK
Part 208 TALAK


__ADS_3

Perjuanganku dalam satu bulan ini benar-benar di uji dengan hadirnya kedua bayiku yang sangat rewel, dalan satu bulan ini anakku selalu nangis di malam hari, namun demikian aku sangat bahagia pak Catur sangat siaga dan selalu meluangkan waktu untuk keluarganya.


"Jagoan ayah tidur yang nyenyak ya, ayah kerja dulu." pamit pak Catur sambil mengecup kedua bayiku yang tertidur pulas di dalam boxnya.


Pak Catur sudah siap dengan pakaian kerjanya, walau aku tidak kerja setiap pagi aku akan berusaha rapi dan cantik di depan suamiku, seperti hari ini aku sudah cantik dengan gamis dan kerudung dengan model simpel dan yang mbuatku kadang ingin tertawa sendiri karena tubuhku tidak selangsing dulu, baju beberapa bulan yang lalu sudah tidak muat lagi.


"Istriku tambah cantik saja." puji pak Catur padaku.


"Ngrayu pasti ada maunya?" ucapku mengiringi langkah suamiku menuju meja makan.


"Bener, nanti mas pulang agak telat aku ke pabrik baru, habis magrip baru sampai rumah." pesan suamiku padaku.


"Iya, Mas, ngak apa-apa ada mbak Inayah yang bantu, mas tenang saja." ucapku.


"Selamat pagi Afri sayang." sapa pak Catur begitu berada di meja makan.


"Selamat pagi ayah, ibuk." sahut Afriana yang sudah rapi dengan seragamnya.


"Af, pagi ini ayah antar ya, sudah lama ayah tidak antar kamu, ayah sibuk dengan adik." jelas pak Catur." Mbak Qib nanti Afri biar aku antar saja sekalian mau berangkat ke kantor."


"Adik kan masih kecil, Afri sekarang sudah besar." jawab Afriana percaya diri.


"Anak pinter." Puji pak Catur.


"Af, ayo sarapan dulu." perintahku.


"Buk suapin ya!" pinta Afriana sambil nyengir kuda.

__ADS_1


"Boleh." sahutku.


"Aku juga mau buk." pak Catur ikut-ikutan minta di suapi.


"Ya, semua ibu suapi, ayo sini, Afri dulu apa ayah dulu?" tanyaku sambil mengambil nasi dan beberapa lauk yang sudah tersedia di atas meja


"Ayah dulu saja, setelah ayah baru Afri." sahut Afriana girang.


"Cepetan ya nanti adik keburu nangis."


Aku menyuapi mereka berdua dengan sabar, ya aku tahu beberapa bulan ini aku sedikit abai dengan Afriana karena kondisi kehamilanku dan juga melahirkan, betapa rempongnya ngurus dua bayi sekaligus, tidak perlu lama mereka berdua sudah selesai makan.


"Terima kasih buk." Afriana langsung memeluk dan menyiumku, begitu pula pak Catur bertingkah seperti Afriana.


"Sama-sama sayang, Af belajar yang rajin, dan ayah cepetan pulang." pesanku pada mereka berdua setelah mereka melepas pelukannya.


Dari dalam kamar aku mendengar kedua bayiku menangis bersamaan, aku langsung bangkit berdiri.


"Bunda jangan lupa sarapan, mbak Qib tolong bawa sarapan ibu ke kamar ya." Aku mendengar suara pak Catur mengingatkanku dan memerintahkan Qibtiyah untuk membawakan sarapan buatku.


Sesampainya di kamar aku langsung menggendong Afwa karena mbak Inayah sedang menggendong Afwi.


"Buk, sarapan dulu biar aku yang gendong dik Afwi." Qibtiyah menaruh nampan berada di atas meja kamarku.


"Sebentar lagi mbak Qib, biar adik tenang dulu." sahutku sambil menenangkan Afwi.


"Ibu belum sarapan?" tanya Inayah padaku.

__ADS_1


"Belum mbak Na, tadi ibu nyuapin dik Afri dan bapak, malah ibu sendiri belum sarapan." Qibtiyah tanpa di minta sudah menjelaskan pada Inayah.


"Masyaallah, sudah sepantasnya bapak sayang sekali." timpal Inayah kagum sambil menggendong Afwa.


"Alhamdulillah mbak." sahutku dengan senyum indahku.


"Buk di Afwa aku mandiin dulu," pamit Inayah " Mbak Qib tolong gendong Afwa dulu biar aku siapkan baknya." pinta Inayah pada Qibtiyah.


"Baik, mbak Na." Qibtiyah langsung menggatikan posisi Inayah.


Kebahagiaanku benar-benar lengkap, setelah kehadiran pak Catur dalam hidupku, di tambah hadirnya dua malaikat kecil dalam kehidupan rumah tanggaku yang sekarang.


Jika ingat akan pernikahanku yang dulu benar-benar terbalik, sekarang aku bak seorang ratu yang sangat dicintai oleh sang raja dan juga anak-anak, akupun tidak perlu kerepotan dalam mengurus keluargaku. Mas Ringgo, semenjak berpisah denagannya aku sama sekali tidak tahu akan kabarnya, pernah kedua orang tuaku memberitahuku ketika mas Ringgo benar-benar membutuhkan pertolongan, sejak saat itu aku tidak lagi tahu tentangnya, keluargaku juga berusaha menutup rapat tentang keadaan mas Ringgo, walau sebenarnya aku tahu jika orang tuaku tetap membantu dalam pengobatannya.


Setelah kedua bayiku mandi dan aku sudah selesai sarapan aku berolahraga ringan agar tubuhku segar, sekarang kedua bayiku kembali terbuai dengan mimpinya lagi.


Ting ting ting.


Aku ambil gawaiku aku lihat pesan masuk, ternyata dari suamiku.


[Sayang jangan lupa sarapan, terima kasih atas cinta dan kasihmu] pak Catur.


[Aku merindukanmu dinda] pak Catur.


[Kangmas sayang] aku.


[Begitu pekerjaanku sudah selesai aku akan segera pulang] pak Catur.

__ADS_1


[Aku akan setia menunggumu kangmas sayang] aku.


Lima belas menit antara aku dan suamiku saling balas chat, semakin hari suamiku semakin sayang, Bukan hanya sayang padaku namun dengan Afri dan juga kedua putra kami, itu sebabnya pak Catur sering pulang cepat dan Kalaupun harus lembur di kerjakan di rumah, kadang aku tidak tega karena setiap malam pak Catur juga ikut begadang ketika kedua anak kami rewel. Beberapa kali aku menawarkan diri untuk membantu menyelesaikan pekerjaannya nyatanya selalu di tolak dengan alasan kesehatan, pak Catur khawatir jika aku terlalu stress bisa mempengaruhi produksi Asi-ku, apalagi ada dua nyawa yang harus aku susui.


__ADS_2