
Sesampainya di rumah pak Catur langsung masuk rumah, memarkir sepeda motornya di garasi , mandi dan segera mengerjakan sholat isya', karena tadi belum mandi. Pak Catur segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Kakung, hingga jam setengah sebelas pak Catur baru selesai dzikir dan ngaji, malam ini pak Catur mengaji menyelesaikan satu juz, pak Catur keturunan dari keluarganya yang kaya akan materi namun ilmu agama tetap diutamakan. Sebelum tidur pak Catur mengirim pesan ke Afifah
[Terima kasih, sudah mengingatkanku, selamat istirahat ] send.
Pak Catur membaringkan diri di atas kasurnya, sambil memainkan gawainya dan menunggu balasan dari Afifah, namun hingga jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Afifah , sehingga tertidurlah pak Catur di atas ranjangnya hingga alarm berbunyi menunjukan pukul tiga malam yang berarti waktu yang tepat untuk bermunajat. Begitu bangun pak Catur langsung ambil air wudhu untuk melaksanakan sholat malam. Setelah selesai sholat subuh pak Catur mengecek email yang masuk sambil menikmati secangkir teh hangat.
Aku yang sudah sibuk dengan aktifitas pagiku, memasak, mencuci baju, menyiapkan keperluan Afriana dan mempersiapan diriku sendiri untuk bekerja, tiba-tiba aku baru ingat jika aku belum pesan kembang kates pada ibuku, aku langsung lari masuk ke ruang ibuku untuk mencari ibuku di dapur.
"Buk!" panggilku sambil masuk ke dapur.
"Ada apa, Fah?" sahut ibuku.
"Buk, masak apa? Buk tolong carikan kembang ketes ya, minggu pagi mau tak bawa ke Jakarta, orang tua bosku minta di bawakan kembang kates," ucapku " Bosku itu aneh-aneh saja masa minta kok kembang kates." gerutu ku .
"Ya, nanti tak carikan, minta berapa?, kamu pikir bosmu saja yang minta kembang kates, lawong langganane ibuk itu juga begitu, sering kirim kembang kates untuk majikannya anaknya, katanya di sana gak ada." ucap ibuku sambil goreng ikan asin.
"Wah, enak nih kayaknya, buk minta ya?" ucapku.
"Ya, ambil sana, kamu tadi masak apa, jangan tiap hari telor ceplok saja." ucap ibuku.
"Ya, Allah, Buk wong Aku lho jarang masak telor ceplok baru akir-akir ini karena pekerjaanku banyak jadi gak sempat" ucapku sambil mengambil lauk di dapur ibuk" Terima kasih buk" ucapku sambil pergi meninggalkan dapur ibuk.
"Buk ada tepon!" teriak Afriana dari dalan rumah sambil sarapan.
__ADS_1
"Siapa?"
"Nggak tahu buk!"
Begitu melihat nama yang tertera langsung aku geser tombol hijau.
[Assalamu'alaikum] aku.
[Wa'alaikum salam, mbak bisa bantu saya] pak Catur.
[Ya, pak, bantu apa ya pak?] aku.
[Tolong, berangkat lebih awal ada hal penting] pak Catur.
"Af, sudah selesai ibuk harus ke kantor lebih awal!" seruku setelah selesai menjawab panggilan dari Pak Catur.
"Sudah selesai buk, ayo kalau gitu," jawab Afriana " Sekarang ibuk sibuk terus, tapi kalau ibuk gak kerja nanti gak punya uang untukku bayar sekolah ." gerutu Afriana sambil memakai sepatunya.
"Sabar dulu ya Af, ibuk bekerja supaya kita punya rumah bagus, bisa ajak Afriana jalan-jalan, bisa beli sepeda baru, dan Afriana bisa memiliki apa yang tenan Afri miliki." nasehatku sambil duduk memakai sepatu.
"Tapi kenapa bapak tega sama kita buk, bapak jahat" ucap Afriana tiba-tiba.
"Af, yang penting sekarang ibuk sayang banget sama Afri, dan ibuk janji sepulang dari Jakarta ibuk ajak Afri, mbah Kung, mbah Putri, pak lek,bulek, dan mbak Zahra untuk pergi ke pantai" rayuku sambil memeluknya.
__ADS_1
"Terima kasih buk, aku sayang ibuk" ucap Afriana sambil memeluku.
"Sekarang, kita berangkat, nanti kalau ibuk pulang cepat ibuk belikan ice cream." ucapku.
"Terima kasih ibuk." ucap Afriana.
Kami berdua berangkat, seperti biasa aku antarkan Afriana ke sekolah dulu sebelum berangkat kerja.
"Af, maaf ibuk lupa, minggu kemarin gak ngantarin kamu ke rumah mbah, minggu depan kesana ya." pintaku sambil membonceng Afriana.
"Gak, usah buk, bapak saja gak perduli sana aku, aku gak mau kesana" sahut Afriana.
"Af, gak boleh begitu, bagaimanapun beliau bapakku, dan mbah pasti kangen sama kamu." bujuku sambil mengendarai sepeda motor menuju ke sekolahan Afriana.
"Gak mau buk, aku mau di rumah saja sama ibuk." jawab Afriana.
"Ya sudah, kalau turun dulu sudah sampai, belajar yang pintar jangan nakal dengerin bu guru ya." pesanku.
"Ya, Buk, assalamu'alaikum " jawab Afriana sambil mencium tanganku dan langsung pergi membaur dengan teamb lainnya yang baru datang.
"Wa'alaikum salam." jawabku dan aku langsung mengendarai sepeda motor menuju kantor dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya.
Biasanya jam delapan kurang sepuluh menit aku masuk kantor, kali ini jam tujuh lebih tiga puluh menit sudah sampai kantor, dan aku melihat pak Catur juga sudah berada di ruangannya sedang sibuk dengan komputernya.
__ADS_1
"Tumben ni, orang jam segini sudah sampai, ada masalah apa ya?" gumamku dalam hati sambil meletakan tas dan bekal sarapanku.