
Sampai di rumah aku langsung mandi, selesai mandi aku ambil kembang kates di rumah ibuku. Untung kembang katesnya sudah di bersihkan oleh ibuku, jadi besok pagi tinggal mencuci dan masak.
Ketika mengambil kembang kates ibuku bertanya dengan ekpresi sedikit heran, karena aku masak kembang kates dalam jumlah banyak. Ketika aku jelaskan alasannya ibuku hanya bisa geleng - geleng kepala, sambil menasehatiku untuk tetap sabar.
Oseng oseng kembang kates dan urap sudah siap, dari jam 4 pagi aku sudah berkutat dengan kompor dan bumbu dapur. Oseng kembang kates aku bagi menjadi empat bungkus, satu buat mbak Rani dan Nina, satu bungkus untuk bu Friska, dan buat ku sendiri serta pak Catur.
Pagi ini Aku berangkat diantar bapak dengan membawa banyak bekal, terlihat sudah seperti tukang katering bukan sekertaris.
Sebelum berangkat aku sudah WA mbak Rani dan Nina untuk mengambil oseng kembang kates di pos satpam.
Di pos satpam Nina sudah berdiri tegak dengan senyum bahagianya " Banyak amat mbak bawaannya?" tanya Nina
"Iya, Nin, nih buat kamu dan Mbak Rani " ucapku pada Nina sambil menyodorkan sebungkus oseng kembang kates" pak ini sarapan buat bapak " Aku menyerahkan dua bungkus nasi urap untuk pak satpam yang jaga.
"Makasih mbak, Fah " ucap Nina langsung pergi karena sudah hampir jam masuk kerja.
"Terima kasih, Mbak, alhamdulillah, semoga mbak Fah, sehat dan rejekinya tambah berkah " ucap pak satpam sajing senangnya.
Akupun langsung pergi meninggalkan pak satpam menuju ke ruanganku dan menata ruanganku sebelum pak Cahyo datang. Aku segera mengecek ulang berkas berkas yang kemarin aku kerjakan sebelum aku serahkan kepada pak Cahyo untuk di tanda tangani.
"Pagi, Fah" sapa bu Priska
"Pagi,bu, kebetulan nih, ini bu saya bawakan oseng kembang kates buat ibu " ucapku sambil menyodorkan sebungkus kembang kates.
"Alhamdulillah, terima kasih, Fah, makanan langka ini, nanti tinggal beli nasi putih di kantin, gimana kerja sama pak Catur ?"
"Alhamdulillah bu, sedikit menyebalkan " ucapku
Aku menceritakan tentang pekerjaanku dua hari ini, di tambah dengan koplaknya pak Catur yang minta di bawakan bekal, untuk sarapan dan makan siang. Bu Priska yang mendengar ceritaku malah tertawa terbahak - bahak, sambil menyerahkan dokumen yang dibawanya.
Saat kami berdua sedang bersendau gurau sambil memeriksa dokumen pak Catur datang tanpa kami ketahui karena asik bercerita sambil membolak balik dokumen dari bu Priska.
"Pagi, Mbak tolong siapkan sarapanku !" pinta pak Catur datar langsung masuk ruangannya.
"Pagi" jawab kami berdua
__ADS_1
Bu Priska saking terkejutnya sampai bengong, baru kali ini ketemu GM yang cuek.
"Dah, masuk turuti bosmu, sebelum mengaum kaya singa kelaparan!" perintah bu Priska
"Begitu, ya, bu !"
"Lain kali, kita ngobrol " ucap bu Priska dan langsung pergi meninggalkan meja kerjaku.
Aku masuk ruangan pak Catur segera menyiapkan seperti yang diminta tanpa banyak bicara. Hanya dalam 15 menit menu untuk sarapan pak Catur sudah tertata rapi di atas meja lengkap dengan air minumya.
"Silahkan, Pak " ucapku
"Terima kasih, tolong kamu bereskan dokumen yang ada di atas meja itu !" perintah pak Catur.
"Baik, Pak " jawabku
Aku langsung menuju meja kerja Pak Catur, meja pak Catur sudah berantakan lagi padahal tadi pagi sudah aku periksa dan aku rapikan. Tanpa banyak tanya aku rapikan kembali meja kerja pak Catur seperti semula.
"Kamu sudah sarapan?" tanyanya padaku
"Lain kali temani aku sarapan di sini !" perintahnya datar
"Baik, Pak " jawabku sambil membersihkan meja
"Ini, uang 10 juta, untuk belanja makananku selama sebulan, jadi setiap hari kamu harus memasak buatku, kecuali hari libur, ini bagian dari training dariku karena aku ingin tahu kwalitas rekan kerjaku. Aku tidak mau memiliki rekan kerja yang tidak bisa di andalkan, aku harap kamu mampu menjalankan tugas dariku dengan benar, oh ya menunya harus sesuai dengan permintaanku untuk menu sarapan dan makan siang, menu makan malam tidak perlu " ucap Pak Catur menjelaskan.
"Baik, Pak, " jawabku singkat " Benar - benar terlalu, perasaan dulu sekertaris pak Cahyo tidak perlu masak " gumamku dalam hati
Selesai membersihkan meja bekas sarapan pak Catur aku langsung kembali ke meja kerjaku, segelas kopi yang selalu setia dan menemaniku setiap saat tanpa mengeluh.
Saking banyaknya pekerjaan sampai aku tidak sadar jika jam sudah menunjukan pukul 12 siang lebih 15 menit. Aku langsung merapikan meja kerjaku dan menutup laptop, pertama yang aku lakukan menemui pak Catur untuk menanyakan tentang makan siang.
Ketika aku bertanya pak Catur memilih untuk sholat dzuhur dulu, pak Catur minta jam 1 untuk makan siang, supaya tidak tergesa - gesa dan bisa sholat berjamaah di mushola bersama karyawan lainnya.
Kemabali dari mushola aku langsung menyiapkan seperti yang pak Catur minta, sebenarnya aku sangat sungkan jika harus makan satu meja dengan Pak Catur, akupun takut akan beredar gossip yang tidak sedap.
__ADS_1
"Semua ini kamu yang masak?" tanya pak Catur padaku
"Iya, Pak, maaf jika tidak sesuai dengan lidah bapak " ucapku sopan
"Enak, bagaimana kamu membagi waktu, untuk bekerja dan rumah tanggamu ?" tanya pak Catur padaku
"Tidak ada yang special, Pak, sudah biasa, asal iklas inshaallah semua akan mudah " jawabku sekenanya sambil menikmati oseng kembang kates
"Habis ini tolong, panggilan Bu Priska untuk menghadap saya !"perintah pak Catur
"Baik, Pak "
Segera aku selesaikan makanku secepatnya karena rasanya makanan yang aku telan jadi tidak nikmat, biasanya makan bereng teman lainnya dengan santai sekarang serba tidak nyaman.
Segera ku tekan intercom untuk memanggil bu Priska agar segera menghadap pak Catur sesuai perintanya.
Tidak lama bu Priska masuk ke dalam ruangan pak Catur dengan santai, aku tetap berada di meja kerjaku untuk melanjutkan pekerjaan yang menumpuk seperti gunung.
"Selamat siang Pak" sapa bu Priska sopan
"Silahkan duduk Mbak, gak usah formal mbak, kaya sama siapa saja " ucap Pak Catur ramah
"Mana tahu jika kamu berubah!" ucap bu Priska bercanda
"Berubah tua!" canda pak Catur di iringi tawa " Mbak gak pingin balik ke Jakarta lagi?"
"Sudah terlalu cinta di kota ini, tidak perlu macet, udaranya juga masih segar, biaya hidup juga murah, mau liburan cari yang segar dan alami tidak perlu jauh - jauh, keamanan untuk anak - anak juga terjamin, yang aku suka dari lingkungan tempat tinggalku juga sangat ramah dan religious, makanya kau betah di sini, rilex tidak terlalu stress " jelas bu Priska panjang
"Pantas, di pindah selalu menolak!, bagaimana keluarga mbak?"
"Alhamdulillah, semua sehat, mainlah ke rumah, kamu ni aneh aneh saja masa sekertaris suruh masak buat kamu, training model barukah?" canda bu Priska
"Jangan bilang mbak Irma ya soal makanan. Aku males beli makanan di luar pingin masakan rumahan, gini kan enak aku tinggal ngomong saja, lagian di rumah juga gak ada temannya untuk makan, sekalian di sini ada temannya, mbak besok temani makan di sini ya, gak enak kalau cuma berdua " ucap Pak Catur
"Hmmm, baiklah, saran ku menikah lah, sudah lama kamu sendirian " nasihat bu Priska
__ADS_1
"Persis mbak Irma, kalau ngomong "