
"Ayah!" seru Afriana saat melihat baju kotor pak Catur.
"Jagoan ayah gak mau ditinggal ayah kerja ya, makanya bikin kotor baju ayah," ucap Pak Catur dengan gemasnya.
Afwa dan Afwi malah tertawa teebahak, karena hari sudah agak siang Pak Catur segera ganti baju lagi, lalu segera pamit untuk pergi ke kantor. Meja makan kali ini lumayan kotor karena ulah si kembar.
"Mbak Na, sudah di kabari calon suster yang akan bekerja di sini?" tanyaku lagi.
"Sudah buk, dia akan datang dijam dua belas siang, sesuai jadwal." terang mbak Inayah.
Selesai sarapan aku memandikan Afwa dan Afwi dengan di bantu oleh mbak Inayah serta Afriana. Si kembar sangat suka jika mandi karena mereka senang bermain dengan air.
Sesuai dengan jadwal jam dua belas siang suster rekomendasi dari mbak Inayah datang, seorang wanita berusia tiga puluh tahun, dia cantik dan supel, karena pak Catur masih belum pulang, maka aku suruh dia untuk menunggu sebentar. Di luar dugaan ternyata pak Catur tidak bisa pulang di siang ini karena ada pekerjaan yang mendadak dan tidak bisa ditinggalkan. Dengan terpaksa aku melakukan interview sendiri dengan didamping oleh mbak Inayah serta ketiga anakku, aku melihat interaksi dia dengan anak-anakku cukup bagus, terutama berinteraksi dengan si kembar sehingga aku putuskan untuk menerimanya bekerja di tempatku.
"Terima kasih mbak, semoga mbak betah kerja di sini, ya beginilah keadaan keluarga kami, serta pekerjaan di tempat kami sangat banyak, jika tidak paham bisa bertanya langsung pada saya sendiri atau pada yang lain," ucapku di Akhir interview.
"Saya yang mengucapkan banyak terima kasih buk, inshaallah saya jalanan tugas-tugas saya dengan baik, tegur bila saya melakukan kesalahan." jawab mbak Binti.
__ADS_1
Binti itu nama dari suster baruku kali ini, dia janda muda tanpa anak, dia lebih cantik dari kedua susterku yang dulu, menurut cerita dari mbak Inayah dia baik, yah semoga begitu.
"Tugas mbak Binti sekarang cukup menjadi suster pribadiku dan calon bayiku ini, aturannya sama dengan yabg lain, mbak Binti punya passport ?" tanyaku.
"Passport?" tanya Inayah dan Binti bersamaan.
"Ya," jawabku meyakinkan.
"Gak, punya, adanya cuma dokumen yang saya serahkan pada ibuk ini," jawabnya seperti ragu.
"Berarti kita sama," jawabku enteng.
"Siapa tahu kita bisa jalan-jalan ke luar negeri, kakak-kakak bapak kan ada yang tinggal di luar negeri siapa tahu dapat kado ticket pergi ke luar negeri," jelasku di luar nalarku, entah kenapa tiba-tiba aku kepingin jalan-jalan ke luar negeri di tempat mas Dwi dan mas Tri tinggal.
"Jujur buk, saya takut naik pesawat," ucap Binti seketika.
"Saya malah kepingin naik pesawat," jelas Inayah.
__ADS_1
"Asyik lo mbak naik pesawat itu, saya aja kepingin lagi," pamer Afriana girang khas anak kecil.
"Kalau begitu, mbak Binti boleh kembali pulang besok jangan lupa databg ke sink lagi, untuk mulai bekerja," ucapku.
"Kerja di sini pasti enak kok Bint, aku saja betah, orangnya baik semua, gaji besar, bonus terus mengalir, pekerjaan tidak begitu banyak," pamer Inayah sehingga membuat Binti semakin yakin.
"Terima kasih, mbak Na, sudah menawariku pekerjaan ini sehingga aku bisa segera mendapatkan pekerjaan lagi, tanpa harus menunggu lama," ucap Binti, haru.
"Kebetulan sudah kita makan siang dulu saja, ayo mbak Binti, mbak Na," perintahku.
"Baik bu," Binti langsung menyetujui tanpa penolakan.
Dengan wajah yang berbinar-binar Binti ikut makan siang bareng kami, acara makan siang kali ini sangat menyenangkan karena bisa makan siang bareng anak-anak, jarang sekali pas hari kerja gini bisa makan bareng dengan anak-anak, karena biasanya Afriana baru pulang sekolah di sore hari. Setelah selesai makan mbak Binti baru pamit pulang, selama makan siang tadi Aku memperingatkan gerak-gerik Binti dengan secara seksama.
Sepeninggalan Binti aku dan anak-anak sholat dhuhur lalu pergi ke kamar anak untuk menemani anak-anak tidur siang, siang ini rasanya aku ngantuk sekali hingga begitu merebahkan tubuhku di kasur bersama anak-anak aku tidur duluan.
Tidurku lalu ini benar benar pulas selalu, hingga aku tidak tahu kapan kedua bacah kembarku pergi meninggalkan aku dan Afriana, ya begitu aku membuka mata yang aku lihat sekarang adalah Afriana yang msih terlelap dengan mimpinya. Aku pandangi wajah polos Afriana, aku teringat akan ceritanya dalam mimpi, serta penjelasan pak Catur semalam tentang mas Ringgo yang menjalani pengobatan di RSJ solo jawa tengah.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa menjadi anak yang sholehah, Nduk, maafkan ibuk karena tidak bisa memberikan keluarga yang utuh padamu, kini kamu harus mersakan terpisah jauh dengan bapakmu." gumamku dalam hati sambil membelai lembut pucuk kepala Afriana yang masuh terlelap dengan mimpinya.
"Aku sayang ibuk, aku juga sayang ayah." aku mendengar Afriana sedang mengigau " Afri, tetap sayang ayah ibuk dan adik-adik, bismillahirahmanirrahim." dalam igauannya Afriana sedang melafalkaj ayat surat pendek, ya sekarang Afriana memang sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke pobdik menjadi hafidzah sehingga setiap hari dia selalu menghafal beberapa surat pendek, selain di bawah bimbingan ku sendiri pak Catur juga mendatangkan seorang guru ngaji yang susah hafidz, sehingga hari-hari Afriana di sibukkan dengan belajar.