
Cinta dan kasih sayang dari keluragaku membuatku semakin mudah dalam menjalani kehamilan anak kembarku.
"Mas tidak ke kantor hari ini?" tanyaku karena suamiku masih bersantai di atas kasur.
"Dua minggu lagi HPL, nya mas takut terjadi hal-hal tidak diinginkan." jawab pak Catur aku tahu jika pak Catur sangat was-was tantang kehamilanku apalagi dari segi usia juga sudah tidak muda lagi.
"Bagaimana dengan pekerjaan mas?" tanyaku, aku ikut duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Ada mbak Priska, aku sudah minta tolong ke mbak Priska," sahut pak Catur santai " Sayang semakin seksi." rayu pak Catur sambil mencium perutku yang membuncit, pak Catur sangat suka mencium perutku yang buncit " Assalamu'alaikum anak-anak ayah, baik-baik di dalam ya, ayah akan selalu bersama kalian." seru pak Catur, pak Catur menenpelkan telinganya di perutku.
"Alhamdulillah." seruku sedikit meringis karena tendangan dari bayiku sangat kencang sekali, tendangan itu tepat di pipi pak Catur.
"Anak ayah mau ngajak main bola apa lari-lari ini." sambung pak Catur dengan senyum bahagia "Nendangnya jangan kencang-kencang sayang nanti bundanya kesakitan lo." cicit pak Catur sambil membelai lembut perutku.
"Kalau mas gak kerja temani aku jalan-jalan di taman, supaya kakiku tidak bengkak." pintaku, menjelang hari kelahiranku kakiku sering bengkak efek hamil anak kembar.
"Ayo, permaisuriku paduka akan setia mengawal kemanapun permaisuriku pergi." gurau pak Catur.
"Jangan ngrayu, pasti ada maunya !" tebakku.
"Mau apa coba?" goda pak Catur.
"Pasti mau yang enak-enak, tebakku." karena aku sudah tahu apa yang ada di dalam pikiran suamiku.
"Tenang sayang, tunggu si kembar lahir, baru giat bikin adik buat si kembar." gurau pak Catur.
"Mas." rajukku.
"Iya, iya sayang." pak Catur semakin menggodaku.
Kami berdua turun dari ranjang, pak Catur dengan siaga membantuku untuk turun dari ranjang, di usia kandungan ku yang sudah memasuki bulan ke delapan mbuatku semakin kepayahan saat berdiri, saat menuju taman pak Catur tidak melepas genggaman tanganku. Pak Catur dengan telaten menamaniku berjalan santai memutari taman belakang, taman belakang tidak begitu luas namun cukup untuk sekedar olah raga ringan, rumahku tidak terlalu ramai mama sedang berada di dapur bersama dengan mbak Qibtiyah dan mbak Inayah, entah apa yang mereka lakukan, saat melintasi dapur aku melihat sekilas mereka sedang tertawa lepas.
"Fah, jangan terlalu capek!" seru mama dari pintu dapur, antara dapur dan Taman belakang menang ada tembusan.
__ADS_1
"Iya, Mah." sahutku dengan senyum.
"Istirahat dulu sayan." perintah pak Catur setelah jalan tiga kali putaran.
Aku menuruti perintah pak Catur aku istirahat duduk di salah satu kursi yang ada di taman belakang, tanpa disuruh mbak Inayah datang membawa segelas air, dan vitamin. Baru jalan tiga putaran saja nafasku sudah ngos-ngos an, aku duduk di kursi panjang untuk istirahat, dan tendangan anakku semakin kencang. Aku bersandar sambil meluruskan kakiku dan meringis menahan tendangan dari anakku, pak Catur dengan reflek memijit kakiku yang aku luruskan di kursi.
"Nendang lagi?" tanya pak Catur padaku.
"Iya, Mas." sahutku masih memejamkan mata.
Pak Catur langsung mengelus lagi perutku, dengan senyum kebahagiaan.
"Ton, Fah, nanti aku mau ikut jemput Afriana dan Rahma di sekolah, sekalian mau ngajak mereka makan di McDonald's." mama minta ijin kepadaku dan suamiku.
"Iya, Ma, terima kasih." sahutku senang.
"Terima kasih ma." pak Catur menyahuti dengan senang pula.
Jam berganti hari, hari kelahiranku semakin dekat, suamiku semakin tidak pernah meninggalkanku bahkan kedua susterku harus nginap di rumah, saking khawatirnya suamiku.
Malam ini aku sudah mulai merasakan kontraksi ringan namun aku masih tetap diam, aku berbaring minta bantuan suamiku untuk mengelus pinggangku yang sudah mulai nyeri, dan aku sudah mulai sulit tidur.
"Aku panggilkan dokter." ucap Pak Catur melihat reaksiku yang memang sudah tidak nyaman.
"Besok pagi saja mas, sudah malam kasihan Dokternya," pintaku, sekarang jam sudah menunjukan pukul dua belas malam "Mas tidur lah, biar aku di temani mbak Rom saja, gak apa-apa mas." ucapku.
Pak Catur mengabaikan ucapanku, tanpa menjawab pak Catur telpon dokter yang biasa menanganiku.
"Mas tidak akan tenang selagi mas belum tahu keadaan kalian." sahut pak Catur setelah selesai memanggil dokter.
Aku melihat mata sayu pak Catur yang begitu kelelahan padahal sudah nyewa dua suster namun pak Catur tetap siaga, kadang aku hanya heran buat apa bayar orang? Kalau dia sendiri selalu siaga.
"Kadang aku tuh heran sama mas, sudah bayar suster tapi mas tetap siaga, terima kasih mas." ucapku haru.
__ADS_1
"Apa salahnya kita berbagi rejeki pada mereka, dengan begitu mereka punya pekerjaan dan penghasilan, dan jika aku tidak ada di rumah minimal hatiku tenang ada yang jaga permataku." sahut pak Catur lembut.
Karena malam hari, setelah setengah jam seorang dokter masuk ke kamarku dengan di kawal mbak Rom, hari ini mbak Rom yang dapat jatah jaga malam.
"Selamat malam, terima kasih dok." ucap Pak Catur menyambut kedatangan dokter.
Dengan senyum ramah dan cekatan dokter langsung memeriksa keadaan ku.
"Inshaallah tidak lama lagi ibu akan melahirkan dan kemungkinan dua atau tiga hari lebih awal dari HPL, kontraksi seperti ini sudah biasa terjadi menjelang melahirkan." ucap Dokter setelah memeriksa dan menanyai tentang keluhanku.
"Apa yang harus saya kakukan doj?" tanya Pak Catur cemas.
"Jangan biarkan ibu beraktifas yang berat-berat, jangan biarkan ibu sendirian terutama jika berada di kamar mandi, ini posisi kepala bayi sudah pas tinggal menunggu waktu yang tepat," dokter menjelaskan dengan gamblang " Jika jarak kontraksi sudah semakin dekat segera bawa ke rumah sakit dan jangan lupa hubungi saya." tambah dokter lagi.
"Terima kasih dok." sahut kami semua.
Dokter kembali pulang setelah memeriksaku, karena ada dokter yang datang penghuni rumah ikut terbangun, mama dan mvak Qibtiyah juga ikut masuk ke kamarku untuk memastikan keadaanku.
"Bagaimana keadaannya, aoa sudah mau lahiran?" tanya mama antusias.
"Belum ma, cuma tanda-tanda ta sudah ada, dan posisi kepala bayi juga sudah berada di bawah, tinggal menunggu saja." jawabku menurunkan ucapan dokter
"Ton, kamu kelihatan capek, tidurlah biar mama yang menemani istrimu, mama tahu istrimu tidak bisa tidur." ucap mama.
"Aku tidak bisa tidur ma, mama saja yang istirahat." tolak pak Catur lembut.
"Ton, istirahatlah, sebab besok kamu membutuhkan tenaga yang banyak jangan sampai kamu sakit saat istri dan anakmu membutuhkanmu." nasehat mama lembut.
"Iya, pak biar mbak Afifah kami yang jaga." Mbak Romlah ikut menimpali.
Akhirnya pak Catur megalah dia merebahkan tubuhnya di kamar sebelah karena di akamr ada mama dan mabk Romlah yang menemani.
"Fah, kalau kamu bisa tidur, tidurlah, walau hanya sekejab." perintah mama lembut.
__ADS_1