
Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh aku sempatkan diri untuk berdiskusi dengan Pak Catur tentang interview suster baru usulan dari mbak Inayah, akhirnya kami bedua memutuskan interview dijam istirahatnya pak Catur yaitu jam dua belas siang. Sebenarnya aku mengusulkan Akhir pekan saja namun pak Catur nya yang tidak mau menurut dia terlalu lama, sedangkan maunya pak Catur segera ada suster yang mendampingiku seperti waktu dulu. Begitu kesepakan sudah kami ambil aku segera menghubungi mbak Inayah agar calon suster bisa datang ke rumah dijam dua belas siang ini juga.
"Afri, mana?" tanya pak Catur begitu mau sarapan.
"Dia masih di kamar," jawabku.
"Baiklah, aku lihat sebentar." pak Catur melangkahkan kakinya menuju kamar Afriana.
Aku masih sibuk dengan Afwa dan Afwi yang sudah bangun dan ikut duduk di kursi makan.
"Ayah," sapa Afriana yang baru keluar dari kamarnya.
"Baru saja ayah mau nanggil mbak Afri," Pak Catur kembali lagi di meja makan.
"Assalamu'alaikum, ibuk Assalamu'alaikum dik," sapa Afriana girang.
"Wa'alaikum salam kak Afri." sahutku menyerupai suara anak kecil.
__ADS_1
"Buk Yah, besok Afri, sudah boleh sekolah kan?" tanya Afriana penuh harap.
"Kata dokter kan harus istirahat sekana tiga hari? Jadi lusa jak Afri baru boleh sekolah." jelasku.
"Tapi buk, Afri bosen di rumah, main sama adik juga gak boleh," rajuk Afriana.
"Kalau kak Afri sudah sembuh tentu boleh bermain dan sekolah, nah sekarang dan besok kak Afri istirahat yang banyak supaya jak Afri cepat sembuh." nasehat pak Catur ikut memberi pengertian pada Afriana.
"Baiklah, kalau Afri, masuk sekolah Afri tidak perlu ketinggalan banyak pelajarannya." kekeh Afriana.
"Ayah sudah pesan pada guru Afri agar tugas-tugas Afri dibawakan oleh mbak Rahma." ucap Pak Catur.
"Ayo yang semangat kak Afri, nanti sepulang sekolah mbak Rahma kesini lo, sekarang kita sarapan dulu jangan ada yang debat," ucapku.
"Na Na na mam mam mam." celoteh Afwa dan Afwi yang mulai memainkan piring dan sendok belajar makan sendiri
"Anak ayah sudah pinter makan sendiri ya," Puji pak Catur begitu mihat tingkah Afwa dan Afwi.
__ADS_1
"Adik, pelan-pelan makannya jangan cepat-cepat, sini kakak suapi." Afriana sudah kembali ceria begitu melihat tingkah si kembar." Buk boleh aku suapi adik?" tanya Afriana padaku.
"Boleh," ucapku memberi ijin.
"Kalau begitu ayah juga mau dong di suapi kak Afri seperti adik," gurau pak Catur.
"Tangan Afri cuma dua, hanya cukup buat nyuapi adik, ayah minta suap ibuk saja, sekalian aku juga mau di suapi ibuk." ucap Afriana dengan wajah lucu tanpa dosa.
"Pinter ya kak Afri, ngomong saja minta di suapi oleh ibuk, tapu boleh juga usul kak Afri," ungkap pak Catur yang setuju akan ide Afriana.
"Lalu siapa yang nyuapi ibuk." protesku.
"Tentu ayah yang nyuapi ibuk!" seru Afriana tanpa dosa.
Kami bertiga langsung tertawa, bukan hanya kami bertiga mbak Qibtiyah dan Mbak Inayah yang ada di dapur juga ikut ikut tertawa.
"Baiklah, biarkan pagi ini makan seperti ranti makanan." celetuk pak Catur dengan senangnya.
__ADS_1
Akhirnya kami berlima makan bareng dengan saling menyuapi, mbak Inayah dengan reflek dia ngambil hand phon dia langsung membuat video aktifitas kami yang unik. Afwa dan Afwi seolah juga ikut menikmati kebersmaan kita pagi ini, Afwa dan Afwi yang biasanya tidak mau diam sekarang mereka berdua diam duduk di kursinya masing-masing tanpa protest.
Setelah selesai sarapan mbak Inayah memutar video yang tadi kami semua tertawa nihsr tingkah kami seperti anak kecil yang sedang mainan, dan yang paling absurd baju pak Catur yang bersih kini kotor karena ulah Afwa dan Afwi. Afwa dan Afwi menumpahkan makanannya di atas meja dan Oak Catur berusaha untuk membersihkan malah Afwa dengan wajah tanpa dosanya menenpelkan tangan motornya pada baju pak Catur, tawa kami semua akhirnya kembali pecah memenuhi ruang makan kami.