
Pak Catur tidak langsung pulang, dia langsung ke rumahnya bu Priska untuk menemui kakung. Setelah memarkir motornya di halaman depan rumah bu Priska, pak Catur langsung masuk masuk rumah.
"Assalamu'alaikum." ucap pak Catur.
"Wa'alaikum salam, akirnya yang di tunggu datang juga." sahut bu Priska, pak Anam dan Kakung bersamaan.
"Duduk, mau minum apa?" ucap bu Priska.
"Nanti aku ambil sendiri saja mbak." jawab pak Catur dan langsung duduk di sofa ruang keluarga.
"Dapat pesan apa le?" tanya Kakung pada pak Catur.
"Pesan apa to Kung?" tanya bu Priska pada Kakung.
"Kamu gak akan mampu untuk bisa memahami ilmu Kakung, Ma." ucap Pak Anam.
"Kamu dari tadi siang kemana saja to,Ton?" tanya bu Priska.
__ADS_1
"Lihat pabrik baru, mbak kan hari minggu depan ada rapat di Jakarta, supaya mudah untuk bikin laporan."jawab pak Catur jujur.
"Kamu sama pegawaimu yang Ayu itu ya, Le? Dia pesan apa?" rajya Kakung.
"Iya, Kung, saya sama sekretarisku kok Kung, dia bilang suruh tanya pada Kakung, katanya bakal ada tamu yang akan datang la saya ya nggak paham, dan dia juga tidak mau menjelaskan maksudnya." ucap Pak Catur sopan.
Pak Anam yang susah sedikit tahu hanya diam menyimak, dan juga Bu Priska tidak lagi mengajukan pertanyaan.
"Gini, lho le, apa yang di katakan oleh pegawaimu benar, kamu harus hati-hati, amalkan sholat malam dan dzikir malam untuk keselamatanmu karena yang akan di serang itu kamu pribadi jadi kamu harus punya benteng yang kuat, dan amalkan baca ayat kursi tujuh kali setiap selesai sholat lima waktu, dan baca Al qur'an hanya itu penawarnya, yang pasti tetap meminta perlindungan dari Gusti Allah, ya Le." pesan Kakung.
"Kung, sebenarnya saya masih belum mengerti kenapa dia tahu kalau bakal ada tamu yang akan menyerangku, dari mana dia tahu?" tanya pak Catur semakin penasaran.
Mereka bertiga mendengarkan nasehat kakung dengan seksama tanpa ada yang berani menyela sepatah katapun sampai kakung selesai berbicara.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Kung?" tanya pak Catur semakin penasaran.
"Kamu cukup bersikap seperti biasa, selagi kita tidak mengganggu maka tidak akan terjadi apa-apa, karena sifatnya itu menolong, Le." ucap Kakung.
__ADS_1
"Kung, aku kok tambah penasaran, dengan apa yang Kakung katakan." ucap Pak Anam heran "Apa Kakung sering ketemu dia?" tanya pak Anam.
"Bocah gemblung, ilmumu tidak nyampai, tidak semua orang memiliki Kodam pengikut, Waallahua'lam, semua sudah menjadi ketentuan Allah" nasehat Kakung " Ton kamu masih lancar gak ngajinya?" tanya kakung pada pak Catur.
"Inshaallah, Kung walau cuma beberapa ayat inshaallah tiap hari masih ingat ngaji kok Kung." jawab pak Catur jujur.
"Bagus, sekaya apapun dan setinggi apapun kedudukan kita di dunia jika tidak tekun untuk beribadah kepada Allah, itu tidak ada gunanya kita hidup, ingat yo kalian tetap utamakan untuk beribadah," nasehat kakung" Sekarang sudah malam aku mau istirahat, kamu cepat pulang dan segera amalkan apa yang aku katakan tadi, inshaallah bisa menghalau tamumu yang memiliki tujuan tidak baik" perintah Kakung.
"Inshaallah, Kung." jawab pak Catur.
Kakung segera berdiri dan meninggalkan mereka bertiga setelah selesai memberi nasehat pada pak Catur, setelah kepergian kakung pak Catur juga segera pamit untuk pulang karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Ton, kamu setengah hari kemana saja sama Afifah, tumben keluar sama perempuan pilihanku tidak salahkan?" tanya bu Priska yang mengantar pak Catur ke depan.
"Terima kasih, mbakku, terlalu sempurna buatku mbak." ucap Pak Catur yang sudah di atas kok motornya.
"Aku, harap kalian berjodoh, Kakungpun sangat setuju kalau kalian berjodoh, tetaplah berusaha untuk menaklukan hatinya, aku tahu orang macam Afifah tidak mudah untuk di taklukan dan dia tipe wanita yang sangat setia" ucap bu Priska.
__ADS_1
"Jangan terlalu jauh mikirnya mbak, tapi tetap doakan saja ya, mbak" pinta pak Catur sambil senyum-senyum dan pakai helm " Assalamu'alaikum mbak." pamit pak Catur langsung menstarter motornya.
"Wa'alaikum salam, hati-hati." ucap bu Priska.