TALAK

TALAK
Part 266 TALAK


__ADS_3

Afriana diam bukan tidak ingin bertemu dengan Ringgo namun karena Afriana masih terkenang dengan memori masa kecilnya, dulu sewaktu kecil Afriana sering melihat langsung bagaima Ringgo sering memarahinya dan juga memarahi Afifah, bahkan sifat dingin dan cueknya Ringgo sehingga membuat Afriana sangat tertekan. Setengah jam telah berlalu tidak ada tanda-tanda kehadiran Catur dalam keluarga Ringgo, Jamal mulai Cemas sebab catur juga tidak memberi kabar padanya, namun tidak dengan orang tua Afifah, orang tua Afifah tetap tenang.


"Catur pasti datang, kami tenang saja," ucap bapaknya Afifah pelan.


"Baik pak," jawab Jamal.


Afriana masih diam tak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya, entah apa yang ada di dalam pikirannya hanya dia yang tahu. Kenapa keluarga Afifah memilih menghubungi Catur untuk membujuk Afriana bukan Afifah sebagai ibunya, keluarga Afifah tahu akan kedudukan Catur sebagai kepala keluarga dalam rumah tangga Afifah, dan kalaupun nanti Catur tidak bisa mengatasi Afriana biar Catur sendiri yang meminta pada Afifah.


[Maaf mas Jamal saya telat ada sedikit hal di kantor penting] Catur.


Jamal membuka pesan di hpnya dan ternyata sebuah pesan dari Catur, ddnwgan segera jamal membuka pesan dan membalas pesan tersebut.


[Baik, kita tetap menunggumu dan mengharao bantuanmu] Jamal send.


Mereka yang ada rumah Ringgo kembali dengan obrolan ringan mereka sekarang tidak ada yang berani membujuk Afriana, beberapa tetangga datang kerumah Ringgo untuk mengucapkan selamat atas kesembuhan Ringgo, disamping memberi ucapan selamat, menjenguk orang yang baru keluar dari rumah sakit sudah menjadi tradisi warga di kampung .


Deru mobil pak Catur sudah terdengar memasuki halaman rumah, perasaan lega di hati Jamal dan juga perasaan penuh harap dari Ringgo terungkap dari wajah Ringgo, dua jam Ringgo dan Afriana berada dalam satu ruangan namun Afriana hanya diam membisu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," Pak Catur masuk dan mengucap Salam.


"Wa'alaikum salam." sahut semua yang ada di dalam ruangan.


Semua orang yang ada di dalam rumah keluarga Ringgo tidak ada yang heran dengan kehadiran Catur, sebab tanpa Ringgo ketahui hampir seluruh warga RT sudah mengenal Catur sebagai ayah sambung Afriana. Mereka semua menyambut kehadiran Catur dengan ramah dan hormat.


"Silakan masuk dan duduk." semua yang ada mempersiapkan Catur.


Catur dengan sopan menyalami semua orang yang ada di rumah Ringgo secara bergantian satu persatu tanpa membesarkan tua muda, bersih kotor semua di salami tidak ada yang tertinggal. Begitu Catur sudah selesai menyalami semuanya Catur menghampiri Afriana yang duduk diantara kedua orang tua Afifah.


"Ayah, ada di sini, Afriana jangan takut semua menyayangi Afri," ucap Catur lembut " sebentar saya ajak Afri keluar dulu," pamit Catur pada semua orang yang ada di dalam rumah orang tua Ringgo.


"Silakan." jawab semua orang.


Catur membawa Afriana keluar namun Catur juga meminta Jamal untuk ikut serta bersamanya untuk membantu membujuk Afriana.


Ringgo melihat pemandangan itu benar-benar menampakkan wajah penyesalannya, menyesal putrinya sendiri saja ketakutan dengannya malah putrinya nyaman dengan orang lain yang notabennya hanya seorang ayah sambung. Semua yang ada di sana tidak ada yang berani berkomentar tentang Ringgo maupun Catur, mereka semua berusaha menjaga perasaan Ringgo mengingat Ringgo baru keluar dari rumah sakit jiwa, mereka takut sedikit berbicara bisa menyinggung perasaan Ringgo dan menyebabkan hal yang fatal.

__ADS_1


Setengah jam telah berlalu Afriana, Catur dan Jamal sudah kembali bergabung dengan yang lainnya di dalam ruanh keluarga Ringgo, kini wajah Afriana tidak setegang tadi. Kini ganti Catur meminta pada Ringgo untuk berbicara secara khusuh dengannya dan tidak lupa Catur juga meminta Jamal untuk ikut serta bagaimanapun juga Catur juga harus waspada jika terjadi hal yang tidak di inginkan, kini ketiganga keluar dari ruangan tersebut dan mereka berbicara di tempat yang sepi namun masih bisa di jangkau oleh mata cuma apa yang mereka bicarakan hanya mereka yang tahu. Mereka bertiga kembali setelah hampir satu jam berunding sekarang wajah Ringgo juga sudah tidak segusar tadi, Ringgo kembali duduk di tempatnya semula sedangkan Catur berusaha duduk di dekat Ringgo agar Afriana mau mendekat dengan Ringgo.


"Af, sini," Catur memanggil Afriana yang duduk diantara kedua orang tua Afifah.


Afriana dengan perasaan sedikit ragu menghampiri Catur dan juga Ringgo.


"Af, Afri sayangkan sama ayah, seperti ayah bilang tadi, bapak Ringgo tetap bapaknya Afri, sekencang apapun kita lari, tetap ada darah bapak Ringgo dalam tubuh Afri, kalau Afri sayang dengan ayah Afri juga harus sayang dengan bapak, ya sayang," Catur merayu dan memberi pengertian pada Afriana dengan lembut "Ayo peluk bapak, kami semua menyayangimu Afri termasuk bapak." pungkas Catur.


Afriana dengan ragu memeluk Ringgo begitu pula Ringgo langsung memeluk Afriana dengan haru, kini keduanya saling melepas rindu Ringgo benar-benar menangis haru bisa memeluk Putri kecilnya. Semua yang ada di dalam ruangan itu ikut menitikan air mata haru.


"Af, maaf kan bapak," suara Ringgo di tengah-tengah isak tanngisnya "Bapak sayang Afri, bapak sadar dulu bapak banyak sekali melakukan kesalahan." Aku Ringgo jujur, Ringgo tidak malu lagi mengakui kesalannya di masa lalu di depan kalayak umum.


"Afri sayang bapak," mendengar ungkapan Afriana tangis Ringgo semakin pecah dan menyesakkan dada.


Afriana dan Ringgo berpelukan hingga beberapa saat, setelah mereka puas saling melepas rindu kini Ringgo ganti menjabat tangan dan memeluk Catur" Terima kasih mas, terima kasih banyak maafkan kesalahan kebodohanku di masa lampau." ungkap Ringgo jujur dan tulus.


"Aku juga minta maaf, sekarang kita saudara ada Afriana yang sangat membutuhkan kita." ungkap Catur bijak.

__ADS_1


__ADS_2