TALAK

TALAK
Part 133 TALAK


__ADS_3

Aku benar-benar tidak menyangka jika yang dipilih oleh pak Catur adalah diriku sendiri, hingga bu Irma dan bu Priska datang memelukku aku masih belum percaya dan aku juga masih belum bisa berkata apa-apa "Ya Allah semoga keputusanku ini benar." doa ku dalam hati.


"Nak Afifah sebagai tanda pengikat antara nak Afifah dan Tono Putra mama, maka mama yang akan sematkan cin-cin ini di jari nak Afifah, terima kasih sayang." ucap bu Cakra lembut penuh kasih sayang.


"Terima kasih, bu, terima kasih karena ibu dengan ikhlas bisa menerima kami." ucapku lembut.


"Mbak senang sekali, selamat datang di keluarga kami Afifah." bu Irma memberiku selamat dengan senyum yang merekah indah.


"Nak Afifah, mak bahagia sekali akhirnya Putra mak bisa berjodoh dengan nak Afifah." ucap mak sambil memelukku.


"Terima kasih mbak." jawabku dengan senyum.


"Ya Allah, Afifah, mbak benar-benar senang sekali, doa-doa kami terkabul semua." ucap bu Priska sampai menitikan air mata.


Mereka tidak hanya memelukku namun juga memeluk anakku Afriana serta ibukku.


"Ton, sekarang kamu harus bisa mencangkul sawah, menjempur padi, pak kalau adikku ini tidak mau bantu bapak pekerjaan di sawah pecat saja jasi mantu bapak." kelakar pak Anam.

__ADS_1


Semua yang ada di dalam rumah jadi tertawa, pak Catur juga ikut tertawa kecil.


"Ya, tidak to pak Anam, terima kasih kepada keluarga Cakra, karena sudi menerima putri kami yang penuh dengan kekurangan, saya harap nak Catur bisa membimbing putri dan cucu kami ke jalan Allah." ucap bapak.


"Inshaallah, bapak, restu bapak sangat saya harapkan, terima kasih bapak dan ibuk sudah bisa menerima saya apa adanya, mohon bimbinganya pak agar saya tidak salah jalan dalam membimbing anak dan istri saya nanti." ucap Pak Catur sopan.


"Mbak Afifah terima kasih sudah dengan ikhlas menerima pinangan dari aku." ucap Pak Catur padaku.


"Terima kasih pak Catur." jawabku sedikit sungkan.


"Kalian ini, sudah hampir jadi suami istri manggilnya masih kaya di kantor saja." seloroh bu Priska.


Aku hanya tersenyum simpul, bagaimanapun tidak mudah merubah sebuah panggilan dalam waktu yang singkat.


"Maaf pak Catur bisa bapak ikut saya sebentar, ada hal yang ingin saya bicarakan dengan bapak." punyaku pada pak Catur dengan hati yang masih berdebar kencang.


"Baik mbak Fah." jawab pak Catur dan Pak Catur langsung berdiri dadi tempat duduknya.

__ADS_1


"Kami tinggal sebentar." pamitku dengan seulas senyum.


Aku ajak pak Catur untuk berbincang di dalam rumahku sendiri, walau rumahku belum selesai seratus persen namun masih bisa untuk duduk karena di dalam rumah ada kursi plastik dan meja yang bersih, aku ajak pak Catur duduk di ruang tamu rumahku sendiri.


"Maaf pak, apa bapak tidak salah orang kenapa bapak melamar saya sedangkan saya juga baru saja selesai sidang cerai?" tanyaku penuh ke hati-hatian.


"Sebenarnya sudah sejak lama, sebelum aku mengenal mbak." ucap Pak Catur bersungguh-sungguh.


"Maksud bapak?" tanyaku penuh selidik.


"Aku sendiri tidak tahu, namun sejak dua tahun yang lalu ada dorongan dari hati agar aku kembali ke kota Madiun, pada waktu itu aku ngadu ke Kakung, Kakung menyuruhku untuk kembali ke kota ini, mungkin inilah yang di namakan takdir, waktu itu pak Cahyo harus pensiun dini karena sakit, atas saran dari kakung aku kembali ke kota ini untuk memimpin perusahaan di sini, sebenarnya waktu itu aku juga tidak nyaman ketika mbak Irma dan mbak Priska memilihkan sekretaris perempuan buatku, bahkan aku sendiri sangat malas untuk menemui para peserta namun waktu mbak Irma menyuruhku untuk membaca biodata para peserta di saat membaca biodatamu pikiranku langsung berubah, dari semua para peserta kamu yang paling tinggi poinnya, dan aku merasa dekat denganmu meskipun kita tidak pernah bertemu, aku langsung putuskan untuk memilih kamu tanpa berpikir panjang, bahkan mbak Irma dan mbak Priska sangat terkejut dengan keputusanku biasanya aku sangat memilih dalam partner kerja, aku sangat bersyukur dan terima kasih mbak menerima lamaran dariku." ucap Pak Catur bersungguh-sungguh.


"Apakah saya pantas untuk masuk dalam keluarga bapak,bersanding dengan bapak?, siapalah saya? dari segi pangkat dan derajat kita jauh berbeda!" ucapku karena sebenarnya aku kurang yakin dengan keputusanku.


"Mbak sangat pantas dan hanya mbak yang paling pantas untuk keluarga kami, siapa mbak?, mbak adalah sebongkah berlian yang terbungkus kain, hanya orang tertentu yang bisa melihatnya, siapa bilang mbak tidak punya derajat, sebenarnya derajat mbak lebih tinggi dariku, karena mbak seorang ibu, bagiku seseorang yang paling tinggi derajatnya adalah seorang ibu." ucap Pak Catur bersungguh-sungguh dengan tatapan penuh ketulusan.


Aku benar-benar sangat terharu mendengar jawaban dari Pak Catur, tidak pernah terpikirkan olehku jika apa yang di katakan oleh pak Catur selama ini memang untukku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2