
"Alhamdulillah, akirnya selesai juga bisa pulang kerumah secepatnya " ujarku sambil mengemas pakaian ke dalam koper kecil yang aku bawa
"Alhamdulillah, lega ya mbak, akirnya kita bisa menyelesaikan tugas kita " sahut Rindy juga sedang mengepak pakaiannya.
Selesai merapikan peralatan semua peserta berkumpul di ruangan tempat pelatihan, karena acara perpisahan maka hanya sampai 12 siang dan selanjutnya semua peserta kembali ke kota masing - masing.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam dari kota Jakarta menuju Madiun, menjelang dini hari akirnya sampailah aku dan rombongan di stasiun Madiun.
Aku dan teman - temanku di jemput keluarga masing -masing. Aku di jemput adiku Fauzan dengan menggunakan sepeda motornya, setelah 30 menit perjalanan akirnya aku sampai juga di rumahku dengan selamat.
Karena hari ini hari sabtu dan aku baru pulang dari pelatihan maka aku dapat ijin libur kerja. Pagi ini setelah mengantar Afriana ke sekolah aku pulang dan membersihkan rumahku, yang sudah satu bulan aku tinggalkan.
"Fah" suara ibuku dari luar sedang memanggil namaku
"Iya, buk!" sahutku yang sedang merapikan pakaian di dalam kamar.
"Gimana, pelatihannya? lancar?" tanya ibuku
"Alhamdulillah, lancar buk" jawabku " Afriana, bagaimana buk ?" tanyaku
"Semua, baik - baik saja, cuma Afri tidak mau kerumah mbahnya " jawab ibuku
"Gak, apa - apa bu, nanti sore coba aku rayunya, siapa tahu mau kerumah mbahnya " ujarku " Bapak kemana buk?" tanyaku lagi
"Bapakmu, lagi sarapan, bapak sama ibuk mau bicara, kamu sudah longgar apa belum ?" tanya ibuku
"Ada, apa buk ?" tanyaku
"Tentang Ringgo " jawab ibuku
Aku mengikuti langkah ibuku untuk masuk kerumah orang tua ku, di rumah bapakku sudah duduk di ruang tengah menunggu kami.
Aku, ibuk dan bapak duduk di lantai beralaskan tikar, bapak memulai percakapan dengan hati - hati sekali.
__ADS_1
"Fah, sudah 6 bulan Ringgo pergi tanpa ada kejelasan, apa keputusanmu, rumah tangga kalau di biarkan Begini tidak baik, beberapa hari yang lalu masmu kesini kalau kamu setuju nanti malam kita kerumah keluarga Ringgo untuk minta kejelasan dari Ringgo, bagaimana, kamu setuju tidak?" tanya bapakku
"Kalau ini yang terbaik Ifah ikut bapak saja, kita coba" jawabku datar
"Perasaan mu pada Ringgo itu bagaimana to Fah?" tanya ibuku
"Sebenarnya, Ifah, sudah capek buk, pak, entahlah Ifah males mikirnya " jawabku asal
"Jangan begitu, Fah, kalau di biarkan begini terus gak baik untuk perkembangan mental, Afri, bagaimana pun bapak tidak ingin rumah tangga anak bapak, berantakan selagi masih bisa di perbaiki ya di perbaiki, Fah" nasihat bapakku bijak
"Benar, Fah, apa yang bapakmu bilang, gak baik rumah tangga menggantung seperti ini " nasihat ibuku
"Buk, Pak, sebenarnya, aku juga tidak ingin seperti ini, aku capek buk, pak dengan semua ini, apapun yang aku lakukan salah di mata mas Ringgo, maaf buk, pak karena Ifah tidak bisa membina rumah tangga dengan benar" ucapku sopan dengan di iringi deraian air mata.
"Sudah, semua sudah takdir, kita hanya bisa menjalaninya, pasrahkan semua kepada Allah SWT. Ya, sudah nanti bpak tak telpon masmu supaya kesini" ucap bapakku
"Kami orang tua sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian, Fah, tapi sebagai orang tua ibuk, bapak dan masmu tidak terima dengan perlakuan Ringgo terhadapmu dan Afri" tambah ibuku sedikit geram.
Setelah berbicara denganku bapak langsung telpon masku agar bisa datang secepatnya, kali ini hanya keluarga masku yang datang sedang mbak ku tidak datang.
Siang hari aku jemput Afriana ke sekolah mumpung libur pikirku. Karena ada sesuatu yang ingin aku beli, sebelum menjemput, Afri, aku mampir dulu di sebuah toko yang tak jauh dari sekolahan, Afri.
Saat belanja aku ketemu salah satu kerabat mas Ringgo, ya walau bukan kerabat dekat aku berusaha untuk menyapa dengan ramah toh kita sudah saling kenal.
"Belanja, mbak!" sapaku ramah
"Mbak, Ifah, iya, mbak, tumben mbak Ifah hari sabtu di rumah, gak kerja to mbak ?" tanya nya
"Kebetulan lagi libur mabk " jawabku sambil milih milih belanjaan di rak.
"Mbak, Ifah, kenapa sih bercerai dengan mas, Ringgo, jangan mentang - mentang mbak punya kerjaan enak seenaknya saja terhadap suami, mbak jadi istri itu harus nurut sama suami, walau kita punya pengahsilan sendiri " ujarnya sedikit sinis
"Semoga, mbak tidak mengalami nasib seperti saya, beruntung suami mbak bertanggung jawab, mbak tidak perlu susah - susah bekerja untuk mencari nafkah, dan lagi semoga apa yang saya alami tidak terjadi dalam kehidupan keluarga mbak, ingat mbak, mbak juga anak perempuan, kamu bisa mudah bilang begitu karena mbak tidak tahu apa - apa, jika suatu saat mbak atau anakmbak mengalami nasip sepertiku, di situ mbak baru akan tahu " ucapku datar langsung meninggalkannya tanpa pamit.
__ADS_1
Setelah selesai belanja dan membayar di kasir aku langsung pergi ke sekolahan, Afri, untuk menjemputnya. Begitu keluar dari kelas, Afri, sangat senang ketika melihatku yang sudah berdiri di depan gerbang sekolah, dengan setengah berlari, Afri, menghampiriku yang sudah menunggunya dengan ku tampilkan senyum ramahku
Dengan mengendarai sepeda motor berkecepatan sedang aku bonceng, Afri, menuju rumah. Dalam perjalanan, Afri, dengan antusiasnya bercerita semua kegitannya saat berada di sekolah, dan juga kebiasaannya jika pulang di jemput oleh, Nafisa, adik iparku.
Hubungan, Nafisa , dan Afri, sangat baik, betapa bersyukurnya aku, walau suami tidak perduli namun semua keluarga ku sangat perduli dan sayang padaku dan Afri.
Sampai di rumah, Afri, langsung ganti baju dan merapikan sendiri tas dan sepatunya serta cuci tangan, cuci muka sebelum melakukan aktifitas lainnya.
"Af, kalau sudah selesai, sini lihat ibuk beli apa buat kamu !" panggilku pada Afriana
"Lihat, lihat" jawab anaku antusias " Aysikk, boneka Teddy bear!" seru anaku girang
"Afri, suka ?" tanyku
"Suka, sekali buk, terima kasih buk" ucap Afriana bahagia dan langsung memelukku.
"Af, belajar yang rajin ya, ini masih ada coklat kesukaanmu, ini buat kamu, ini buat bulik, Naf, tolong kamu kasihan bulik " perintahku
"Baik, Buk " jawab Afriana langsung berlari menuju rumah orang tua ku untuk mencari, Nafisa, sambil berteriak memanggil "Bulik, bulik, ada hadiah buat bulik"
Tidak lama, Afriana dan Nafisa masuk ke kamarku dengan senangnya.
"Makasih, mbk, aku suka sekali " ucap Nafisa senang.
"Naf, habis ini kita keluar yuk mumpung libur, sekalian ngajak, Afri, jalan - jalan " ujarku
"Sekarang, mbak?" tanya Nafisa antusias seperti Afriana
"Ya, sekarang tapi sholat dzuhur dulu, baru berangkat " ucapku
"Siap, beres, Af, cepetan ayo ganti baju dulu, sekalian mau minta ijin mas, Fauzan " ucap Nafisa senang. Hubungan ku dengan Nafisa sudah seperti kakak adik, kita sering keluar bareng sekedar melepas penat.
"Tadi, Fauzan, bilang boleh tapi langakah baiknya kamu minta ijin lagi " ujarku.
__ADS_1