TALAK

TALAK
Part 102 TALAK


__ADS_3

Sore ini menjelang magrib aku baru saja sampai rumah dengan di antar oleh pak Catur, berhubung waktu magrib sudah dekat maka pak Catur tidak langsung pulang, pak Catur melaksanakan ibadah sholat magrib di mushola yang dekat dengan rumahku.


Jujur saja semenjak aku menjadi sekretaris pak Catur aku jarang sekali melaksanakan sholat berjamaah di mushola, pertama karena aku sering pulang malam kedua karena aku lebih menutup diri semenjak aku dan mas Ringgo berpisah.


Seperti biasanya jika ada di rumah setelah sholat magrib aku mengaji Al-Quran, sambil menunggu Afriana pulang dari mushola bersama dendam ibukku dan juga Nafisa. Biasanya Afriana pulang dari mushola setelah sholat isya, karena habis magrib jadwal Afriana ngaji Al-Quran bergilir. Dulu sewaktu masih bersama dengan mas Ringgo Afriana tidak serajin sekarang, namun setelah mas Ringgo meninggalkan kami Afriana semakin rajin mengaji dan belajar di bawah bimbingan kedua orang tuaku, adikmu Fauzan dan adik iparku Nafisa. Karena Afriana tidak tidur di rumahku setelah sholat isya' aku pergi ke rumah orang tuaku untuk menanti Afriana pulang.


"Assalamu'alaikum, buk!" seru Afriana memberi salam saat membuka pintu rumah orang tuaku.


"Wa'alaikum salam, sudah pulang Af?" Aku sambut Afriana dengan perasaan bahagia.


"Buk, tadi Aku lihat paman bosnya ibuk sholat di mushola." lapor Afriana padaku.


"Terus?" tanyaku sedikit menggoda.


"Tadi, Paman bilang mau dengar Afriana ngaji, kalau Afriana ngajinya bagus kata Paman, Afriana mau di kasih hadiah." Afriana bercerita dengan lancar bahkan dari ekpresi wajahnya menunjukkan guratan kebahagiaan.


Mendengar Afriana bercerita hatiku semakin terharu, orang sekelas pak Catur dengan kedudukan sosial yang tinggi, namun dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim dengan taat. Selama aku mengenal pak Catur dia selalu mengutamakan dalam ibadah, sebisa mungkin untuk melaksanakan sholat lima waktu tepat waktu, jika dalam perjalanan akan selalu berhenti di mushola atau masjid terdekat.


"Terus, Paman jadi mendengarkan Afri ngaji gak?" tanyaku semakin penasaran.


"Nggak tahu buk, soalnya tadi Afriana kan di tempat santri putri." Afriana menjawab dengan polosnya.


"Terus di mana bertemu Paman?" tanyaku.


"Tadi waktu hampir adzan magrib, aku bermain di halaman dan Paman menghampiriku." cerita Afriana semakin antusias.

__ADS_1


"Apa benar Naf, apa yang di katakan Afriana?" tanyaku pada Nafisa.


"Aku sih gak tahu mbak, cuma tadi Afri juga bilang begitu, dia minta urutan pertama, karena bos mbak mau mendengarkan Afri ngaji, begitu, tadi Aku di dalam mushola terus sih, aku juga gak tahu jika bosnya mbak berjamaah di mushola." ujar Nafisa.


"Oh... Tadi Afri, ngajinya bagus nggak?" tanyaku ingin menggoda Afri.


"Bulek, tadi ngajiku bagaimana?" Afriana malah bertanya pada Nafisa.


"Bagus, tapi harus tetap harus belajar dan diperbaiki tajwid dan makrojnya biar tambah pintar, jika masuk ke pesantren biar lolos tanpa syarat." ucap Nafisa memberi nasehat pada Afriana.


"Terima kasih, Naf, kamu sudah mendidik Afriana dengan baik, aku sebagai ibunya malah selalu tidak ada waktu." ucapku sedih.


"Sudahlah mbak, mbak itu ibu yang baik, lihatlah Afri, bisa seperti ini karena didikan dasar mbak pada Afri sudah bagus, kalau aku kan cuma memolesnya agar hasilnya lebih bagus." ucap Nafisa bijak.


"Assalamu'alaikum." suara ibuk, Fauzan dan bapakku bersamaan.


"Paklek, mbahkung tadi Paman bosnya ibuk mendengarkan Afri ngaji gak?" Afriana dengan antusiasnya bertanya pada adik dan bapakku.


"Mana ada bosnya ibukmu, Af." goda Fauzan pada Afriana.


"Paklek, bukannya tadi Paman ngobrol sama paklek, masuk mushola juga bareng paklek." ucap Afriana sudah cemberut.


"Kamu itu Zan, sukanya goda Afri." kekuh ibukku.


Fauzan tidak menjawab malah ngeloyor masuk kamarnya, sedang Afriana tetap mengikuti Fauzan masuk kamar.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Af, ngikuti aku terus, paklek mau ganti sarung, nih." ucap Fauzan.


"Habis paklek bohong." protes Afriana yang sudah semakin cemberut.


"Lagian Af, ngaji itu niatkan bukan karena hadiah dari orang, tapi harus diniatkan karena Allah SWT." nasehat Fauzan bijak.


"Iya, paklek maaf, tapi bolehkan jika paman mau ngasih hadiah ke Afriana." Afriana tetap pada pendiriannya untuk mendapatkan hadiah.


"Af, kalau mau hadiah ibuk, belikan jangan minta kepada orang lain ya." nasehatku pada Afriana.


"Afri kan tidak minta buk, Paman sendiri yang berjanji." Afriana tetap ngeyel dengan pendiriannya.


"Baiklah, tapi jika paman tidak ngasih hadiah Afriana jangan marah atau benci pada Paman, ya." nasehatku pelan-pelan.


"Iya, buk." akhirnya Afriana mengerti.


"Benar, dan turuti nasehat ibukmu Af, jangan sampai nanti jika Afriana berulah terus ibukmu di pecat bagaimana?" nasehat bapakku.


"Iya, mbah, Afriana gak jadi dapat hadiah tidak apa-apa, asal ibuk jangan di pecat, kapan-kapan aku bilang ke Paman jika bertemu, jangan kasih hadiah ke Afri, supaya ibuk tidak di pecat." ucap Afriana polos.


"Ya sudah, sekarang ibuk cek PR kamu dan ibuk cek tas sekolah kamu." ucapku .


Aku langsung mengambil tas Afriana yang ada di buffet dekat TV, aku cek satu persatu bukunya aku cocokkan dengan jadwal mata pelajarannya.


Setiap hari aku selalu mengecek tas Afriana, bukannya aku tidak percaya pada Nafisa namun aku juga perlu tahu perkembangan anakku. Semaksimal mungkin aku berusaha untuk memberi perhatian dan juga kasih sayang terbaik kepada Afriana.

__ADS_1


Malam semakin larut jam sudah menunjukan pukul sembilan malam Afriana dan ibukku sudah masuk kamar, pertama karena ibukku harus bangun di jam dua malam untuk sholat tahajud sebelum berangkat ke pasar, kedua karena ibukku sudah terlalu ngantuk karena beberapa hari tidak tidur.


__ADS_2