TALAK

TALAK
Part 34 TALAK.


__ADS_3

Pagi - pagi buta aku sudah di repotkan dengan banyak aktifitas, memasak, menyiapkan bekal untuk Afriana, membantu mempersispkan Afriana ke sekolah,persiapan untuk diriku sendiri berangkat kerja.


Jam enam pagi semua sudah selesai, Afriana juga tinggal sarapan saja, tiba - tiba hand phonku berbunyi aku lihat ternyata nama pak Catur yang muncul di layar monitor.


[Assalamu'alaikum, pak] tanyaku di telephone


[Wa'alaikum Salam, aku sudah di jalan depan rumahmu] pak Catur di seberang telephone.


Tanpa menjawab aku keluar dari dalam rumah dan melihat betapa terkejutnya aku ternyata pak Catur benar -benar sudah berada di jalan depan rumahku dengan naik sepeda motor bu Priska kemarin.


[Baiklah, tunggu saya, saya masih ngurus anak saya] ucapku


[Aku tunggu] ucap Pak Catur.


"Ni, orang benar - benar gila " gumam ku dalam hati " Af sudah selesai? " tanya ku pada Afriana yang sedang sarapan.


Aku menghampiri pak Catur yang duduk di atas sepeda motornya, di pinggir jalan " Silahkan masuk dulu pak, biar saya siap - siap " ucapku ramah.


"Terima kasih " jawab Pak Catur nuruti permintaanku


"Maaf, gubuk saya jelek, silahkan duduk dulu " Aku persilakan pak Catur duduk di kursi plastik yang ada di ruang tamu.


"Sudah buk, motor ibuk mana?" tanya Afriana padaku.


"Motor ibuk di kantor jadi pagi ini, Afri berangkat sekolah di antar pak lek ya, oh ya salim sama paman dulu" ucapku pada Afriana.


"Iya, Buk" jawab Afriana" Paman ini siapa buk ?" tanya Afriana yang sudah memakai sepatu dan menggendong tas punggungnya.


Afriana menuruti perintahku langsung salaman dan mencium punggung tangan Pak Catur, aku melihat ada ekpresi berbeda di wajah pak Catur, saat bersalaman dengan Afriana.


"Teman, ibuk " jawabku singkat "Ya sudah ayo berangkat panggil paklek, Fauzan " perintahku

__ADS_1


"Pak lek, Afri sudah siap!" teriak Afriana begitu keluar dari rumahku memanggil adiku Fauzan.


"Siap berangkat, ayo naik ke motor paklik" ucap Fauzan yang sudah mengeluarkan motornya dari dalam rumah.


Afriana segera Salaman dan mencium tanganku sebelum naik ke sepeda motor Fauzan.


"Assalamu'alaikum, Buk " ucap Afriana bahagia.


"Wa'alaikum salam, pegangan pinggang pak lek " pesanku.


Aku masuk ke dalam rumah dan tidak lama aku keluar membawa segelas teh kesukaan pak Catur" Silahkan di minum dulu pak, atau bapak mau sarapan dulu?" tanyaku ramah.


"Sarapan di kantor saja" jawab pak Catur.


"Baiklah, saya ambil tas dulu dan mengunci rumah" ujarku.


"Mbak, Fah!" seru Nafisa yang masuk ke rumahku " Eh ada tamu, maaf pak " ucap Nafisa.


"Mau minta sarapan, lagi pingin maem di sini " ucap Nafisa.


"Ambil sendiri di lemari, ya sudah aku berangkat, tolong kamu kunci rumahnya, ya" pintaku.


"Lawong bapak lho masih sarapan, kok mbak dah mau berangkat ?" tanya Nafisa yang masih di dekatku.


"Aku... Aku saja bapak ini " ucapku sekenanya.


"Sebentar... Loh mas ini kayaknya aku pernah lihat deh, tapi di mana ya ?" ucap Nafisa berusaha mengingat ngingat.


"Saya, temannya Bu Afifah, kelihatan waktu di alon - alon kota, mbak " jawan pak Catur.


"Ohh... Iya aku ingat sekarang " ucap Nafisa sambil nyengir.

__ADS_1


"Ya, sudah aku berangkat, jangan lupa kunci pintunya, jika ada sesuatu yang kamu inginkan dariku, bilang saja saya usahakan untuk mendapatkannya" pesanku pada Nafisa" Mari pak berangkat, nanti keburu telat " ucapku.


"Beres, mbak, hati - hati " pesan Nafisa padaku.


"Mari mbak, Assalamu'alaikum " pamit pak Catur pada Nafisa.


"Wa'alaikum salam " jawab Nafisa


Pak Catur memboncengku dengan kecepatan sedang, dan hari ini aku dapati aura wajah pak Catur sangat jauh berbeda dari biasanya. Aura wajah yang menampakkan kebahagiaan dan apa alasannya aku juga tidak tahu.


"Pak kok pelan sekali kalau terlambat bagaimana ?" protesku.


"Sekali kali telat tidak apa -apa to mbak " jawab pak Catur.


Pagi ini pertama kalinya aku di bonceng oleh laki - laki lain yang aku kenal, biasanya hanya keluargaku yang memboncengku. Canggung itulah yang aku rasakan, entah setan apa yang merasuk pal Catur hingga di bela - bela in jemput aku di pagi buta.


Kalau biasanya aku hanya butuh tiga puluh menit, tapi sekarang malah empat puluh lima menit baru sampai kantor. Kami berdua telat sepuluh menit, masuk gerbang pabrik pak Catur langsung memarkir sepeda motornya di parkiran dekat mobilnya bu Priska.


"Bapak, tidak pulang dulu untuk ganti baju ?" tanyaku pada pak Catur.


"Kenapa, ada yang salahkan dengan pakaianku ?" Pak Catur tanya balik padaku.


Pagi ini pak Catur tampil casual tidak seperti biasanya yang memakai hem an setelan jas resmi.


"Tidak, apa - apa " jawabku Canggung.


Untung saja di parkiran sepi tidak yang melihatku dan Pak Catur berboncengan datang bersamaan ke kantor. Pak catur melangkah duluan ke ruangannya sedang saya mengikutinya di belakang pak Catur sambil menenteng tas yang berisi bekal kami.


Sesampainya di lantai atas, kami berpisah dan masuk ke ruangan kami masing - masing. Aku melakukan tugasku seperti biasa sebelum mengecek para berkas yang sudah menanti dan melambaikan tangannya di atas meja.


Pak Catur juga langsung fokus dengan pekerjaannya, karena hari ini Banyak banget tugas, sebab kemarin seharian penuh aku tidak masuk ke kantor, mengikuti pak Catur meninjau pembangunan pabrik baru di desa sebelah.

__ADS_1


__ADS_2