TALAK

TALAK
Part 132 TALAK.


__ADS_3

Hari ini karena hari minggu dan aku tidak ada jadwal menemani orang tua pak Catur maka pagi-pagi sekali aku memulai agendaku untuk memindahkan pasir yang menghalangi jalan, aku dibantu oleh Fauzan. Afriana juga ikut membantuku namun namanya anak kecil ya dia malah bikin rusuh bersama anak tetangga.


Jam sepuluh pagi pekerjaanku untuk memindahkan pasir hampir selesai, saat itu juga aku benar-benar terkejut ketika melihat mobil pak Catur dan bu Priska memasuki halaman rumah.


"Mbak, bos mbak kok kesini, ada apa mbak?" bisik Fauzan padaku.


"Ya nggak tahu Zan, mungkin mau ngajak aku kali, cepetan masuk panggil ibuk dan bapak." jawabku asal " Apa mungkin mereka mau mengajakku untuk ikut dalam lamaran pak Catur." gumamku dalam hati.


"Baik, mbak." Fauzan segera masuk kedalam untuk memberi tahu kedua orang tuaku yang kebetulam sedang istirahat di dalam rumah setelah pulang dari pasar.


Dari dalam mobil pak Catur keluarlah pak Catur, Bunda, bu Cakra, pak Cakra, sedang dari mobilnya pak Anam keluar Kakung, bu Priska, bu Irma dan suaminya serta Mak, tak ketinggalan si kecil Rahma.


"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." ucap mereka dengan senyum ramah.


"Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh." jawabku beserta bapak dan ibukku yang sudah berada di dekatku" Silakan masuk." bapak dan ibukku menyambut dengan sopan dan ramah.


"Terima kasih." sahut mereka.

__ADS_1


Sebelum merka masuk rumah dengan cekatan Fauzan dan Nafisa menggeser kursi dan menggantinya dengan tikar. Mereka semua duduk di temani bapak dan ibukku beralaskan tikar, sedang aku pamit masuk rumah untuk mandi dan ganti baju karena bajuku masih motor dengan pasir, aku tidak mengerti maksud dan tujuan mereka datang. Aku memakai gamis dan kerudung yang pantas siapa tahu mereka datang untuk mengajakku dalam acara lamaran pak Catur.


Begitu keluar aku menyalami mereka satu persatu, begitu juga Afriana yang sudah mandi dan ganti baju juga ikut menyalami mereka semua. Selesai menyalami mereka, aku baru sadar ternyata beberapa parcel yang kita pesan beberapa hari yang lalu sudah ternyata rapi di atas meja.


"Maafkan atas kelancangan keluarga kami karena datang tanpa memberi tahukan sebelumnya, semoga kita bisa menjalin tali silaturahim yang baik." ucap kakung sopan.


"Tidak apa-apa Kung, suatu kehormatan bagi kami, keluarga Cakra berkenan datang di gubug kami, kami benar-benar tidak menyangka, terima kasih maaf ya beginilah keluarga kami, sekarang anaknya sudah ada silahkan bapak ibu sekalian bertanya langsung pada orangya, saya sebagai orang tua hanya dapat merestuinya." ucap bapak dengan sopan, aku masih tidak paham dengan maksud dari ucapan bapakku.


"Mbak Afifah, kami datang kesini ada maksud tertentu dengan mbak Afifah dan tadi kami sudah berbincang ke orang tua mbak Afifah dan orang tua mbak Afifah juga sudah setuju keluarga kami juga sudah setuju tinggal minta persetujuan dari mbak Afifah, dan semoga mbak Afifah bersedia seperti ucapan mbak kemarin." ucap Pak Cakra serius dengan wajah penuh harap.


Aku tidak langsung menjawab memandangi wajah kedua orang tuaku dan seluruh keluarga yang ada di ruang tamu satu persatu dan aku juga dapat melihat aura dari wajah pak Catur yang di selimuti kegelisahan.


"Sebenarnya kedatangan kami semua kesini memenuhi permintaan dari Tono, kami datang untuk melamar mbak Afifah untuk menjadi istri dari Tono putra kami." ucap pak Cakra serius.


Aku benar-benar sangat terkejut mendengar ucapan dari Pak Cakra, aku langsung melihat ke arah pak Catur dari wajah pak Catur aku berusaha untuk mencari jawabannya, dan dari wajah pak Catur aku menemukan jawaban atas kesungguhannya.


"Mau kah mbak Afifah menerima lamaran dariku." akhirnya pak Catur bersuara dengan penuh harap.

__ADS_1


Aku masih belum bisa menjawab karena keterkejutanku belum hilang.


"Kami semua berharap mbak bisa menerima lamaran dari anak kami." pinta bu Cakra penuh harap.


"Mbak Afifah, kami semua sudah setuju dan merestui pilihan putra kami Tono." bunda ikut berucap dengan penuh harap pula.


Aku masih diam terpaku karena masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan aku memandangi Afriana yang duduk di sebelahku dan aku pandangi kedua orang tuaku.


"Fah, keputusan ada di tanganmu, sebenarnya nak Tono dan Kakung sudah pernah minta ke bapak beberapa waktu yang lalu, namun bapak juga tidak menyangka jika beliau akan datang secepat ini untuk melamarmu." ucap bapak lembut.


Sebelum menjawab aku paham ucapan bapak, aku menarik nafas dalam-dalam sebelum aku memberi jawaban " Bismillahirahmanirrahim, kalau ini menurut bapak yang terbaik untuk hidup Afifah dan Afriana, Afifah ngikut bapak saja apapun keputusan bapak." jawabku dengan hati berdegup kencang tidak karuan.


"Alhamdulillah." Semua yang ada di ruang tamu bapakku berucap syukur penuh kebahagiaan, aku melihat pak Catur, langsung menunduk dan menitikkan air mata yah bukan hanya pak Catur saja namun hampir semua yang ada di ruangan menitikkan air mata kebahagiaan dan senyum yang mereka indah.


Bu Cakra dan Bunda langsung menghampiriku bu Cakra langsung memelukku dan menciumiku" Terima kasih nak, mama bahagia sekali, Putri mama bertambah satu lagi dan mama juga dapat cuci yang sholehah, terima kasih sayang." ucap bu Cakra tulus dengan mata yang sembab karena terlalu bahagianya.


"Bunda bahagia sekali, bunda akan punya putri lagi." ucap bunda sambil memelukku dan menitikkan air mata kebahagiaan penuh dengan ketululusan

__ADS_1


Ketika mereka berdua memelukku aku benar-bebar tidak bisa menjawab apa-apa aku hanya bisa menitikkan air mata.


__ADS_2