TALAK

TALAK
Part 253 TALAK


__ADS_3

"Yah, rasanya baru kemarin aku timang-timang Afriana sekarang dia sudah besar," ujarku.


"Perasaan Juga baru kemarin aku kenal dengan bunda sekarang sudah punya empat buah hati," jawab pak Catur dengan senyum khasnya.


"Ya Allah, Yah." ujarku.


"Ya iyalah, rasanya ayah bahagia sekali bisa memiliki kalian semua, lengkap sudah kebahagiaan ayah sekarang, semoga keluarga kita tetap sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin." ucap Pak Catur penuh syukur.


"Aamiin yarobbal'alamin."


Tidak begitu lama mereka berdua sudah kembali dari kamarnya Asiyah, mereka berdua sangat bahagia, kami berlima memutuskan untuk segera pulang ke kota Madiun, alhamdulillah alifa sangat anteng dia sama sekali tidak rewel biar kami ajak menempuh perjalanan yang lumayan lama.


"Buk dik Alifa kok anteng sekali sih?" tanya Afriana heran, begitu melihat Alifa yang selalu anteng dalam pelukanku.


"Dik Alifa memang anteng," jawabku.


"Ih ya Paman, tante tadi teman-teman mengucapkan banyak terima kasih atas oleh-olehnya," ucap Afriana.


"Sama-sama." jawabku dan Pak Catur bersamaan.


"Wah jalanannya semakin cantik dan bagus ya!" seru Rahma.


"Iya mbak Rahma, perasaan dulu tidak begini," tambah Afriana.


"Kalian suka?" tanyaku.


"Jelas suka sekali," jawab Afriana dan Rahma secara bersamaan.


"Syukurlah, kapan-kapan saja kita jalan-jalan ke kota," ucap Pak Catur.

__ADS_1


"Rasanya sudah lama tidak melihat kota!" seru Rahma, sebagai seorang santri mereka dilarang keluar dari area pesantren jika tidak dalam hal yang at sangat penting.


"Mondok itu ya begitu,mbak Rah," seruku.


"Ya iya sih tante, aku suka sekali kalau sudah kumpul dengan teman-teman itu mengasyikkan, apalagi tante di kamar kita itu ada teman yang sangat lucu sekali, tingkahnya itu ada saja bikin kami semua bahagia," cerocos Rahma.


Selama dalam perjalanan kami hiasi dengan canda tawa, hingga tidak terasa dua jam telah berlalu, itu artinya kami sudah berada di kota Madiun. Mobil kami memasuki rumah kami, dengan wajah berbinar-binar Afriana dan Rahma sudah keluar dari mobil duluan, di depan pintu sudah ada Afwa, Afwi dan Abidah yang sedang menunggu kedatangan kami.


"Assalamu'alaikum adik kakak yang manis, dik Afwa, dik Afwi dik Abidah!" seru Afriana pada mereka bertiga sambil jongkok dan merentangkan tangannya agar mereka bertiga dapat di peluknya secara bersamaan.


"Kak Afri!" seru mereka bertiga menuju ke arah Afriana dan memeluk Afriana penuh kasih.


Afwa, Afwi dan Abidah, berpelukan dengan Afriana untuk melepas rindu, sedang Rahma hanya bisa melihat dengan sedikit cemburu, aku rasa mereka berdua lucu mulai si kembar lahir Afriana dan Rahma selalu rebutan adik bahkan sampai sekarang


"Dik ganti peluk kak Rahma dong," rengek Rahma dengan wajah memelas.


Aku melihat tingkah mereka benar-benar sangat terharu," Ayo masuk dulu kak Afri dan Rahma ayo cuci tangan cuci kaki mandi baru boleh bermain dengan adik-adik, mas Afwa, mas Afwi, kak Abidah ayo biarkan kakak mandi dulu ya, setalah kakak selesai mandi hari kita semua bermain bersama," nasehatku.


Afwa dan Afwi menggandeng tangan Afriana kanan kiri sedangkan Abidah bersama Rahma, Rahma dan Afriana sangat luwes dalam mengajak anak-anak bermain bersama. Rahma sengaja tidak kami antar kerumahnya karena permintaan dari mbak Priska dan mas Anam. Tanpa membantah Afriana masuk kamarnya diikuti oleh Afwa dan Afwi sedang abidah tetap bersama dengan Rahma duduk di kursi setelah cuci tangan.


"Sebenarnya aku pingin tidur sini lo tante!" seru Rahma.


"Kamu baru pulang dari mondok yo jelas tidak boleh to Rah," ujarku sambil duduk di sofa menemani Rahma dan Abidah, sedang Alifa sudah ditidurkan.


"Ya kali aja tante, sama mama di bolehin," ujar Rahma.


"Kamu itu ya ada-ada saja Rah mama sama papamu kan yo kangen sama kamu to Rah," nasehatku "Emange Rahma gak kangen sama mama dan paps?" tanyaku, walau sebenarnya aku sudah tahu akan jawabannya.


"Ya jelas kangen to tante masa enggak kangen kan aneh," ujar Rahma.

__ADS_1


"Kah lahma kok lama dak kesini?" Rahul Abidah.


"Kakakkan sekolah," jawab Afriana singkat.


"Cekolahnya juuuuuuaaayuh ya kak?" tanya Abidah lagi dengan gaya khasnya.


"Jauuuuuuuhhh, harus naik mobil lamaaa," jawab Rahma gemas.


"Ati oleh itut?" tanya Abidah lagi.


"Kalau dik Bidah mau sekolah kaya kakak ya tunggu adik harus pintar ngaji dan sekolah lo," jelas Rahma.


"Iya, atu udah pintel lo kak," Abidah semakin ngeyel dengan gaya khasnya sebagai anak kecil.


"Kakak, tahu kalau di Abidah sudah pintel, tinggal tunggu dik bid'ah besar ya," rayu Rahma.


"Belalti aku kulang besal ya, kak?" tanta Abidah pada Rahma.


"Sudah besal tapi kulang besal," seru Rahma berusaha mempraktekkan dengan tangannya.


Aku melihat tingkah mereka berdua bikin perutku sakit dari tadi Aku sudah selalu tertawa, tiada henti.


"Mbak Rahma, aku sudah selesai mandi sekarang giliran kamu." perintah Afriana yang baru keluar dari kamarnya.


"OK, adik Abidah yang manis kak Rahma mandi dulu ya, habis mandi kita bisa maim lagi, sekarang dik Abidah bisa bermain dengan bunda atau kak Afriana." nasehat Rahma dewasa, dulu sebelum mondok Rahma sedikit manja namun begitu berada di pesantren dia mulai belajar sedikit-sedikit.


"Dik bid'ah ayo sama kak Afri, mas Afwa dan mas Afwi bermain," pinta Afriana.


Abidah tanpa di komando sudah ikut bergabung dengan dengan Afwa Afwi untuk bermain bersama.

__ADS_1


__ADS_2