
"Ibu Afifah berapa umur anak anda sekarang, tanggal berapa anak anda lahir dan siapa nama lengkap anak anda, sekarang kelas berapa?" Hakim ganti mececarku dengan berbagai macam pertanyaan.
"Anak saya sekarang berumur delapan tahun, anak saya lahir di tanggal sekian bulan sekian tahun sekian jam sekian, nana Afriana sholehah, sekarang duduk di bangku kelas dua sekolah ne gerih." jawabku sopan dan tenang.
"Ibu Afifah apa anda bisa membuktikannya jika rumah yang kakak bangun merupakan hasil kerja anda, dan apa anda juga bisa membuktikannya tentang kepemilikan tanah yang anda tempati untuk bangun rumah?" tanya hakim padaku.
"Bisa, untuk semua bukti sudah saya siapkan dan juga sudah saya foto copy menjadi tiga." jawabku tenang dan tegas.
"Ibu Afifah apa anda membawa bukti ya sekarang?" tanya Hakim.
"Iya, saya sudah siapkan." jawabku.
"Silahkan bawa maju ke depan !" pinta Hakim padaku.
Aku dengan langkah percaya diri menyerahkan semua bukti-bukti yang sudah saya siapkan dari rumah, tiga bendel foto copy aku bawa maju semua, setelah saya menyerahkan bukti Hakim memeriksa satu persatu bukti-bukti yang aku berikan.
"Ibu, Afifah untuk memperkuat bukti-bukti ini maka setiap lembar harus di tempeli materai, dan ini jumlahnya ada lebih dari seratus lembar apa ibu Afifah sanggup untuk membeli materai sebanyak itu?" tanya Hakim padaku.
"Sanggup." jawabku mantap dan tanpa ragu.
"Baiklah, sekarang saya akan bertanya pada saksi-saksi kalian, Ibu Afifah apa anda membawa saksi?" tanya Hakim padaku.
__ADS_1
"Sudah, mereka ini saksi saya." jawabku yakin dan me oleh ke arah bapak dan mbak Yah.
"Saudara Ringgo apa anda membawa saksi?" tanya Hakim pada mas Ringgo.
"Tidak." jawab mas Ringgo dan lesu.
"Saudara Ringgo kami memberikan kesempatan kepada pada sidang selanjutnya untuk membawa saksi jika bapak mau menghadirkan saksi." ucap Hakim.
"Tidak bu, saya tidak menghadirkan saksi, jadi saya harap sidang selesai hari ini juga." jawab mas Ringgo seperti pasrah.
"Baiklah, saya akan bertanya kepada saksi dari ibu Afifah, bapak apa benar anda bapaknya Afifah?" tanya Hakim pada bapak.
"Pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian dan jam sekian apa benar saudara Ringgo telah menjatuhkan TALAK pada saudari Afifah, dan telah mengembalikan saudari Afifah pada anda dan juga menyerahkan hak asuh Afriana pada ibu Afifah dan anda? Dan tolong di jelaskan " tanya Hakim pada bapak.
Bapak menjawab dengan tenang, bahkan dengan detil juga bapak menceritakan kejadian waktu itu di saat mas Ringgo menceraikanku dan meninggalkanku dan Afriana.
"Apakah keluarga bapak pernah mendamaikan mereka, dan sesering apa pasangan saudara Ringgo dan Afifah bertengkar, apa benar selama ini saudari Afifah yang menjadi tulang punggung keluarga?"
Hakim mencecar berbagai macam pertanyaan pada bapak, masih dengan tenang bapak menjawab semu dan menjelaskan semua, tentang langkah damai yang telah di lakukan oleh keluargaku.
"Selanjutnya saksi kedua, saya akan bertanya pada ibu, apa hubungan anda dengan saudari Afifah?" tanya Hakim pada mbak Yah.
__ADS_1
"Saya kakak iparnya." jawab mbak Yah tenang.
"Apa anda pernah melihat dari pihak kekuraga untuk mendamaikan mereka ?" tanya Hakim pada mbak Yah.
"Pernah karena suami saya sendiri yang ikut mendamaikan mereka, bahkan keluarga Afifah sudah banyak memberi kesempatan pada saudara Ringgo namun saudara Ringgo mengabaikannya, bahkan Afifah dengan sabar menanti Ringgo agar bisa memperbaiki kehidupan rumah tangganya namun saudara Ringgo tetap acuh, bahkan dengan lantang menantang Afifah untuk segera berpisah." jawab mabk Yah berapi-api.
Hakim bertubi-tubi dan memutar pertanyaan pada bapak dan mbak Yah, alhamdulillah mereka bisa menjawab pertanyaan Hakim dengan jelas tanpa grogi.
"Sekarang saya kembali bertanya pada saudari Afifah, Ibu Afifah apa anda akan tetap pada keputusan anda untuk bercerai dengan saudara Ringgo atau anda berubah pikiran?" tanya Hakim padaku.
"Saya tetap pada pendirian saya, saya tetap ingin bercerai dari saudara Ringgo." jawabku tegas dan sopan.
"Saudara Ringgo bagaimana dengan anda, apa anda tetap pada tuntutan anda atau berubah pikiran, jika anda tetap pada tuntutan harta gono goni maka anda harus menyiapkan uang sekian juta untuk naik banding dan siapkan bukti-bukti yang kuat untuk di ajukan di pengadilan nanti." Hakim menjelaskan pada mas Ringgo.
Mas Ringgo nampak bingung mau menjawab apa, maka tidak ada jawaban yang keluar dari mulut mas Ringgo hingga beberapa waktu.
"Ibu Afifah apa anda sanggup until menghadapi sidang banding?" tanya Hakim padaku.
"Sanggup bu." jawab tetap berusaha tenang, jujur dalam hati aku selalu berdoa semoga sidang selesai hari ini karena aku benar-benar sudah sangat lelah lahir batin.
"Bagaimana saudara Ringgo sudah ada jawabannya?" tanya Hakim pada mas Ringgo.
__ADS_1