
Jam delapan pagi aku dan Pak Catur sudah berangkat ke kantor pusat untuk menghadiri rapat dewan direksi, bu Irma dan Pak Cakra berangkat bersamaan dalam satu mobil. Kita berempat ke kantor pusat menggunakan dua mobil jika bu Irma dan Pak Cakra menggunakan sopir, maka pak Catur milih mengemudi sendiri.
Perjalanan dari rumah ke kantor memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit jika tidak macet. Begitu sampai di kantor pak Catur langsung mengajakku untuk masuk ke ruang rapat, di dalam ruangan sudah ada beberapa orang yang sudah hadir.
Jam sembilan pagi rapat langsung di mulai setelah semua dewan direksi sudah hadir di ruang rapat. Pak Cakra yang memimpin rapat langsung, pak Cakra mendengarkan semua usulan dan laporan dari dewan direksi, dan juga pak Cakra meminta kepada pak Catur untuk melaporkan tentang keadaan pabrik yang di pimpinnya sekarang dan tentang pembangunan pabrik baru.
Dengan berwibawa pak Catur berdiri di depan layar monitor untuk mempresentasikan kemajuan pabrik yang ada di kota Madiun, sedang aku yang mengoprasikan komputer untuk menampilkan grafik penjualan di pabrik yang ada kota madiun.
"Assalamu'alaikum, terima kasih semua sudah memberi kesempatan kepada saya untuk memimpin pabrik cabang Cakra Lima yang ada di kota Madiun, saya akan melaporkan kemajuan pabrik selama tujuh bulan ini yang dan di bawah kepemimpinan saya, dari awal bulan saya bertugas penjualan meningkat lima persen dari bulan sebelumnya, dan alhamdulillah setiap bulan selalu ada peningkatan penjualan sebanyak sepuluh sampai seratus persen. Untuk pabrik cabang yang baru kita bangun alhamdulillah sekarang pembangunannya sudah sampai tiga puluh persen, diperkirakan dalam jangka satu tahun, pabrik baru sudah selesai pembangunan dan siap untuk mulai produksi, terima kasih bila ada yang mau di tanyakan silahkan." ucap Pak Catur mengakhiri presentasinya.
"Pak Catur, motivasi apa yang membuat anda bisa memimpin pabrik sehingga maju pesat seperti sekarang, dan ini yang paling amazing di antara pabrik cabang yang pernah bapak pimpin, maaf pak berdasarkan record kerja anda dulu paling banyak hanya meningkat sampai lima puluh persen dan sekarang bisa sampai seratus persen, bagaimana cara pencapaiannya?" tanya salah satu dewan direksi yang sudah lama bergabung dengan Cakra Lima.
"Kali ini, saya memilih partner kerja yang menang sudah menguasai keadaan pabrik dan pasaran di kota tersebut, beliau partner kerja saya yaitu ibu Afifah, karena pengalaman beliau sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di pabrik Cakra Lima yang ada di kota Madiun jadi sangat memudahkan saya dalam mencapai targed dan juga kinerja beliau sangat kompeten dan tidak diragukan lagi, jadi setiap saya ada kesulitan beliau yang memberi masukan dan arahan kepada saya, dan bisa di katakan beliau salah satu penyemangat saya." jawab pak Catur tegas.
__ADS_1
Rapat dewan direksi berjalan lancar memakan waktu selama tiga jam, dan selesai tepat jam dua belas siang, selesai rapat pak Catur mengajaku untuk masuk ruangan pak Cakra di sna sudah ada beberapa dewan direksi lainnya termasuk bu Irma dan Pak Cakra.
Di dalam ruangan semua memberi ucapan selamat kepada pak Catur atas keberhasilannya yang di capai dalam waktu yang singkat. Selesai berbincang-bincang sebentar kami semua menuju restaurant yang ada di dekat kantor untuk makan siang.
Aku pak Cakra, bu Irma dan Pak Catur berada di satu meja dn satu ruangan, bu Irma memilih meja yang ada di dalam ruangan, agar leluasa saat berbincang-bincang.
"Habis iki kamu kemana, Ton?" tanya bu Irma pada pak Catur.
"Mau ke makam, dan mau lihat rumah, serta mau kerumah bunda." jawab pak Catur sambil makan.
"Tidak pah, kemarin bunda minta supaya mengajak mbak Afifah." jawab pak Catur.
"Baiklah, ya kemarin bundamu telpon gak bisa datang karena tidak enak badan, padahal jauh-jauh hari sudah bilang mau ikut makan malam bersama kita." ucap Pak Cakra.
__ADS_1
Selesai makan bu Irma kembali ke kantor bersama pak Cakra sedang aku dan Pak Catur pergi ke makam istri anaknya pak Catur, setelah dari makam pak Catur mengajakku ke rumah mertuanya yang di panggil bunda. Rumah bunda bukan kawasan elit seperti keluarga pak Catur namun cukup luas dan juga asri.
Mobil pak Catur berhenti di halaman rumah bunda, dan bunda sudah menunggunya di teras bersama dengan anak remaja sekitar berusia dua belas tahun.
Bunda menyambut kami berdua dengan sangat antusias, bahkan bunda juga telah memasak menu kesukaan pak Catur. Entah apa yang di ceritakan oleh pak Catur pada bunda sehingga bunda juga menyambutku dengan senang hati bahkan bunda sampai mengucapkan banyak terima kasih kepadaku.
Satu jam kami berdua berada di rumah bunda, bunda banyak cerita tentang anaknya dan juga cucu-cucunya, serta bunda juga menceritakan tentang anaknya yang meninggal, ya yang di maksud istrinya pak Catur sendiri.
"Nak, Afifah tolong titip dan jaga anak ibu ini ya, dan kamu Ton, jangan kamu kasih pekerjaan yang berat-berat pada bak Afifah, sering-serunglah datang kemari." pesan bunda padaku saat kamu mau pulang.
"Inshaallah, bunda." jawabku karena bunda juga menyuruhku untuk memanggil bunda sama dengan Pak Catur dan anaknya yang lainnya.
"Kami, pamit dulu bund mau lihat rumah sebentar, sebelum kembali ke Madiun saya dan mbak Afifah pasti kesini lagi jaga kesehatan bund." pesan pak Catur pada bunda.
__ADS_1
"Hati-hati." pesan bunda.
Kami berdua masuk mobil dan meninggalkan kediaman bunda, mobil pak Catur melaju menuju rumah pak Catur sendiri di mana lokasinya aku juga kurang paham, karena aku juga tidak tahu tentang kota Jakarta.