
Jam sebelas malam setelah mandi dan menidurkan Afriana aku membuka gawaiku, dan segera memfoto Afriana yang tidur sambil memeluk boneka pemberian pak Catur dan juga baju tidur pemberian pak Catur.
Saat aku membuka Wa aku melihat ada pesan masuk dari Pak Catur.
[Cepat istirahat, semoga besok lancar sidangnya, dan segera selesai] pak Catur.
[Terima kasih, sudah memperkenalkan aku dengan Afriana , hari ini benar-benar membuatku sangat bahagia, rasa yang tidak berani aku bayangkan selama tujuh tahun ini, melihat Afriana bahagia seperti tadi sungguh membuatku sangat bahagia] pak Catur.
[Terima kasih, pak untuk semua hadiah-hadiahnya, menurut saya ini terlalu berlebihan, semoga suatu saat bapak segera mendapatkan jodoh, supaya bapak bisa merasakan kebahagiaan yang seperti bapak impikan] aku send
Tidak lupa aku kirimkan Foto Afriana yang tidur sambil memeluk boneka melodi dan tidak perlu lama pak Catur sudah membalasnya.
[Semoga suatu saat yang di peluk oleh Afriana bukan hanya boneka tapi aku juga dipeluknya] pak Catur.
__ADS_1
[Lah, bukannya tadi sudah di peluk oleh Afriana?] aku send.
[Selamat tidur, sampai jumpa besok di kantor] pak Catur.
Aku tutup gawaiku setelah membaca chat dari Pak Catur, semakin hari perlakuan pak Catur padaku dan keluarga semakin tidak bisa aku tebak. Seperti tadi entah bagaimana ceritanya, dia begitu akrab dengan Afriana, dan juga cerita panjang lebar tertawa dengan Afriana maupun Fauzan.
Hari ini, jadwal sidang perceraianku yang kedua, jam delapan pagi aku di antar dan di temani oleh mas Jamal ke pengadilan agama, aku mendapat nomer urutan ke lima setelah minggu hampir dua jam akhirnya tibalah nomor urutku. Aku masuk ruang sidang dan mas Ringgo mengikuti langkahku.
"Selamat siang bu, pak." sapaku kepada Hakim dan krunya dengan sopan.
"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh." Hakim membuka sidang dengan ucapan Salam.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh." jawab kami semua yang ada di ruang sidang.
__ADS_1
Hakim dan krunya memperkenalkan diri sebelum sidang di mulai.
"Ibu Afifah bapak Ringgo saya sudah membaca berkas-berkas kalian, karena kalian tidak ada jalan damai saat menjalani mediasi maka sidang pertama akan segera di mulai." ucap bu Hakim tegas dan berwibawa, mengetukkan palu tiga kali.
"Ibu Afifah nurlaili usia tiga puluh dua tahun, Ibu Afifah apa benar anda telah menggugat cerai terhadap bapak Ringgo selalu mantan suami anda, dan apakah anda sudah yakin seratus pesen untuk bercerai dari saudara Ringgo tolong jelaskan alasannya!" perintah Hakim pemimpin sidang tegas.
"Terima kasih bu Hakim, ya saya telah mengajukan gugatan perceraian terhadap saudara Ringgo, selalu tergugat, saya sudah yakin seratus pesen, saya tidak akan pernah membatalkannya, saya tetap memilih bercerai dari saudara Ringgo, alasan saya mengajukan gugatan cerai karena saudara Ringgo tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim sholat lima waktu sejak kami menikah, dan karena saudara ringgo juga tidak bekerja selama sepuluh tahun sehingga saudara Ringgo tidak menafkahi saya dan anak kami selama sepuluh tahun, terakahir karena saudara Ringgo sudah menjatuhkan TALAK kepada saya pada tanggal sekian, sehingga jika di itung secara detail satu tahun dua bulan yang lalu saudara Ringgo sudah menjatuhkan TALAK di depan kedua orang tua saya dan telah memulangkan saya kepada orang tua saya, saudara Ringgo sebelum menjatuhkan TALAK saudara Ringgo jika sedang marah juga sering purik(minggat dari rumah) kerumah orang tuanya selama seminggu bahkan sampai dua minggu, itulah alasan saya ingin bercerai secara resmi dengan saudara Ringgo, Terima kasih." jelasku tegas dan sopan sesuai dengan yang aku tulis beberapa waktu yang lalu.
"Bapak Ringgo apa anda setuju dengan gugatan Ibu Afifah?" tanya Hakim pada mas Ringgo.
"Sebenarnya saya sangat keberatan dengan gugatan Afifah, saya tidak ingin bercerai dari Afifah, saya ingin rumah tangga kami kembali utuh seperti dulu, karena saya masih memikirkan masa depan anak, saya tidak ingin anak saya hidup tanpa ayah." kilah mas Ringgo dengan wajah sedikit memelas.
Mendengar pengakuan mas Ringgo membuat aku ingin tertawa terbahal-bahak, namun karena berada di dalam ruang sidang maka aku hanya menyunggingkan sedikit senyum sinis.
__ADS_1
"Saudara Ringgo, anda sekarang merasa keberatan apa anda pernah melakukan jalan damai antara anda dengan ibu Afifah, maupun dari keluarga?" tanya bu Hakim tegas.
"Tidak, bu, karena saya tidak di kasih waktu oleh Afifah." jawab mas Ringgo lesu.