TALAK

TALAK
Part 285 TALAK.


__ADS_3

"Masyaallah," suara pak Catur membuka pembicaraan.


"Kenapa mas,?" tanyaku.


"Suara Afri, suara Afri semakin hari semakin bagus," Pak Catur memuji akan keindahan suara Afriana.


"Dia memiliki bakat bapaknya." ungkapku.


"Maksudnya?" tanya pak Catur penasaran dengan ucapanku.


"Kalau suara bagus memang bapaknya memiliki suara bagus, sebenarnya dulu waktu remaja bapaknya Afri sering memenangkan lomba Qori walau hanya tingkat sekolahan, namun karena terjerumus pergaulan dan lingkungan yang salah sehingga membuatnya lupa dan terlena." jelasku, ya memang begitu nyatanya mas Ringgo memiliki kelebihan suara merdu, karena di tempat kerjanya dulu dia salah bergaul dan menyebabkan kehilangan pekerjaan sehingga merubahnya menjadi Ringgo yang berbeda, mas Ringgo dipecat dua minggu sebelum pernikahanku dengannya.


"Masyaallah, aku baru tahu tentang itu," sahut pak Catur kagum.


"Itu alasan bunda menciptakan lingkungan yang baik, dan lingkungan yang baik itu pertama harus diciptakan oleh orang tua dan pendidik agar lebih bisa memotivasi anak untuk lebih siap dalam menghadapi tantangan dimasa depan, dan bisa mengarahkan anak untuk lebih terarah ke jalan yang positif, terima kasih mas selalu mendukungku dalam mendidik anak-anak." ucapku " Alasanku menciptakan lingkungan yang baik untuk anak-anak itu hasil dari pengamatanku tentang lingkungan mas Ringgo yang kurang pas sehingga membuatnya salah jalan dan ya begitulah, dan aku ingin anak-anakku menjadi anak yang Sholeh dan sholehah." terangku.


"Terima kasih, Dinda sayang." ucap Pak Catur terlihat bahagia.


Setelah menunggu beberapa menit kedua mempelai memasuki tempat dudukmya untuk melakukan akad nikah, kedua mempelai duduk di meja akad nikah yang sudah ada bapak penghulu, wali nikah dan juga para saksi nikah yang telah menunggunya.


Lantunan sholawat Nabi berhenti sejenak karena akan segera dilaksanakan akad nikah, kini dari pengeras suara sudah terdengar suara dari bapak penghulu yang telah memulai acara akad nikah dengan bacaan basmalah dan juga doa pembuka. Hanya dalam hitungan menit mas Ringgo sudah menyelesaiakan akad nikahnga dan sekarang mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.

__ADS_1


Selesai akad nikah langsung disambut dengan merdunya lantunan sholawat Nabi oleh group hadrah, selesai sholawat langsung disambung dengan Qori, Afriana yang melantunkan ayat suci Al qur'an, suara Afri sangat merdu nan Indah, bisik-bisik para tamu yang berada di sekitaku mereka memuji keindahan suara Afriana dalam melantunkan sholawat Nabi dan juga pembacaan ayat suci Al qur'an. Para undangan tidak hanya kagum dengan suara merdu Afriana namun mereka juga kagum dengan kesediaan Afriana untuk mengisi acara di hari pernikahan bapaknya.


Alhamdulillah acara berjalan lancar, walau tidak ada acara resepsi nakun cukup meriah setelah acara sambutan dan doa penutup, di lanjut dengan sesi foto. Dalam sesi foto Afriana di minta untuk berkali-kali ikut serta, hampir lima puluh persen ada foto Afriana. Berkali-kali mbak Isnaini memintaku untuk ikut sesi foto bersama dengannya dan mas Ringgo namun aku menolaknya dengan halus, bagaimanapun ada hati seorang kepala keluarga yang harus aku jaga. Aku tahu sebaik-baiknya hati pak Catur dia masih sangat cemburu dengan mas Ringgo, namun dia tidak menampakkannya, hingga mbak Isnaini sendiri menghampiri tempat dudukku dan pak Catur.


"Mbak boleh kan sekali saja kita foto bertiga dengan Afri," pinta mbak Isnaini penuh permohonan.


"Pak Catur bolehkan sekali saja," pinta mbak Isnaini penuh permohonan.


Aku menoleh ke arah suamiku, dia nampak ragu, dan pada akhirnya pak Catur mengijinkan kami bertiga untuk foto bersama.


"Baiklah, kalian boleh foto bertiga dan setelah ini aku juga akan memaksa Ringgo untuk foto bertiga dengan Afriana, biar adil." ucap pk Catur pada akhirnya.


"Terima kasih," sahut mbak Isnaini bahagia.


"Tentu ayah, Afriana sangat bahagia punya dua ibu dan dua ayah, alhamdulillah." ucap Afriana bahagia.


"Kenapa ini kelihatannya kalian bahagia sekali?" tanya mas Ringgo yang ikut menghampiri tempat kami berempat berkumpul.


"Mereka bertiga foto bareng, aku juga mau foto bareng denganmu dan Afriana kita bertiga." ucap Pak Catur dengan wajah penuh persahabatan.


"Alhamdulillah," ucap syukur mas Ringgo haru, mas Ringgo langsung menyalami pak Catur dan Pak Catur langsung menarik mas Ringgo mereka saling berpelukan mereka seolah sahabat lama yang baru bertemu" Semoga kita tetap bisa menjalin tali silaturahim dengan baik," ucap mas Ringo.

__ADS_1


"Pasti, karena bagaimanapun juga kamu ayah kandung dari Putriku, dan hanya kamu yang berhak mengantarkan Afriana sampai di pelaminan nanti," ucap Pak Catur tulus.


"Terima kasih, dan aku harap kamu tidak lagi cemburu denganku, kita jalani takdir ini dengan baik, terima kasih sudah dengan iklas hadir dalam pernikahan kami, namun ada yang kurang." ucap mas Ringgo


"Apa yang kurang?" tanya pak Catur yang sudah melepaskan pelukan dan jabatan tangannya.


"Karena kalian tidak membawa adik-adiknya Afriana, padahal kami sudah membayangkan saat pernikahan kami, kami bisa berfoto dengan Afriana beserta adik-adiknya." ungkap Ringgo gamblang.


"Maaf, karena mereka terlalu kecil, dan tidak mungkin kami mengajak mereka semua sebab jika mengajak anak-anak berarti kami harus mengajak suster, hari ya tidak enak saja, inshaallah akan kami ajak pas ngunduh mantu di rumahmu nanti," jawab pak Catur.


Aku benar-benar terharu mendengar ucapan dari mereka bedua, ucapan dari suamiku dan mantan suamiku, dam pada akhirnya mereka bisa akur. Setelah acara selesai kami pamit pulang kebahagiaan terpancar dari wajah kedua mempelai, formasi masih seperti tadi pagi waktu berangkat, setelah mengantar para pengiring lainnya pulang, mobil pak Catur langsung menuju rumah kami, karena sampai rumah sudah sore kami langsung mandi dulu sebelum kami menemui anak-anak, setelah membersihkan diri kami tetap menyempatkan diri untuk menidurkan anak-anak sendiri walau badan sangat lelah.


"Alhamdulillah, rasanya lelah sekali," ucapku saat aku dan Pak Catur sama-sama berbaring di atas ranjang.


"Sekarang waktunya kita istirahat, bahagia rasanya bisa melihat Afriana bahagia," ucap Pak Catur.


"Mas tidak cemburu lagi?" tanyaku menyelidik.


"Cemburu tetap ada tapi tidak seperti dulu, dan aku lihat Ringgo sudah benar-benar ikhlas dengan takdir yang berlaku, dan besok kita bawa anak-anak di acara ngunduk mantu." ungkap pak Catur.


"Dinda ngikut mas saja." ucapku sambil memeluk erat suamiku.

__ADS_1


Pagi hari kami sudah di sibukkan dengan persiapan untuk menghadiri acara ngunduh mantu di keluarga mas Ringgo, karena acara jam sepuluh pagi maka jam sembilan pagi kami sedah mulai berangkat kali ini aku ajak semua anak-anakku dengan tetap mengajak sati suster untuk membantuku menjaga anak -anak.


__ADS_2