
Jam kantor seperti biasa aku selalu mengerjakan tugas-tugasku, hari ini lebih santai dari pada minggu lalu, kalau minggu lalu aku masih sangat canggung ketika harus berhadapan dengan Pak Catur namun tidak dengan hari ini.
Jam sepuluh pagi intercom di atas mejaku berbunyi, panggilan dari ruangannya pak Catur, aku langsung masuk ke dalam ruangan pak Catur sambil membawa dokumen yang pak Catur minta.
"Silahkan duduk, mbak!" perintah pak Catur formal.
"Terima kasih, Pak." akupun tak kalah formal dan sopan, lalu aku serahkan dokumen yang pak Catur maksud.
"Din, Mama besok kembali ke Jakarta, nanti mama ngundang kita untuk makan siang di rumah mbak Priska, jam sebelas kita harus berangkat, dan besok pagi-pagi sekali kita harus mengantar mama ke bandara, jadi besok pagi-pagi sekali aku jemput Dinda di rumah, sekalian mau ketemu putriku." pak Catur menjelaskan maksudnya sambil tetap menatap wajahku serius.
"Maaf pak sekarang kita di wilayah kantor." Aku berusaha mengingatkannya, aku masih belum siap jika berita pernikahanku dengan Pak Catur menyebar cepat di wilayah kantor maupun karyawan pabrik.
"Di sini cuma kita berdua tidak ada yang tahu dan tidak ada CCTV bernyawa, aku sangat suka jika kamu malu-malu kaya gitu Dinda, menggemaskan." ucap Pak Catur menggoda.
"Emange aku anak kecil apa!" seruku "Besok jam berapa bapak jemput saya, jadi biar saya siap-siap."
"Jam tujuh pagi aku jemput Dinda, kemarin siapa yang merias, tambah cantik dan manis." pak Catur terus menerus menggombal.
__ADS_1
"Baiklah, jam tujuh, saya tunggu, kemarin mbak Us yang meriasku, kenapa ada yang salah?" tanyaku pas ak Catur.
"Ada."
"Mana yang salah pak?" tanyaku penasaran.
"Yang salah, kenapa Dindaku tambah cantik, sayangnya masih harus menunggu dua bulan lagi" gurau pak Catur "Kemasi mejamu Dinda, sebentar lagi kita pulang, mama sudah kangen dengan mantunya." pak Catur semakin menggodaku.
"Iya pak, memange dua bulan lagi kenapa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Mengikat janji di depan pak penghulu dengan Dinda Afifah. " jawab pak Catur serius" Siap-siaplah nyonya Catur." pak Catur semakin menggodaku.
"Baiklah, saya mau kembali ke ruangan saya, sebentar lagi jam sebelas, kita berangkat." Aku langsung berdiri berusaha untuk menghindar dari godaan Pak Catur.
"Tunggu, sebentar kita berangkat sekarang." ucap Pak Catur langsung mematikan komputernya.
"Bukannya masih setengah jam lagi?, kenapa bapak ikut berdiri, dan pekerjaan bapakkan masih." ujarku.
__ADS_1
"Hanya ingin memastikan, bahwa dindaku aman dan selamat." jawab pak Catur santai.
Aku tidak menjawab, dengan santai aku langkahkan kakiku menuju ruanganku sendiri, sedang pak Catur terus mengekoriku, Sesampainya di ruanganku aku segera mengemas mejaku dan juga mematikan komputerku, tanpa kata dan aku biarkan pak Catur duduk di sofa yang ada di ruanganku. Tidak perlu waktu lama hanya butuh waktu lima belas menit aku sudah selesai selesai mengemas mejaku, kami berdua meninggalkan kantor, ketika berjalan meninggalkan kantor masih seperti biasa aku berjalan mengekori pak Catur, dengan metode diam seribu bahasa seperti biasa.
Sesampainya di parkiran mobil aku dan Pak Catur segera masuk kedalam mobil pak Catur, dengan santainya pak Catur mengendarai mobilnya menuju rumah bu Priska.
"Kangmas boleh Dinda tanya sesuatu?" tanyaku sesopan mungkin.
"Silakan." pak Catur mempersilakan, dengan senyum penuh kabahagian.
"Kapan Kangmas memberi tahu pada Afriana tentang renacana pernikahan kita, dan Dinda juga heran sejak kapan Kangmasku ini bisa dekat dengan mas Jamal dan keluarga?" tanyaku penasaran.
"Baru, kurang lebih dua minggu yang lalu di saat dindaku di dalam kantor dan aku melarikan diri, aku datang ke rumah bapak, aku dan bapak yang memberi pengertian pada putriku Afriana." jawab pak catur.
"Bisa Kangmas menceritakan padaku!" punyaku pada pak Catur.
"Siap nyonya." jawab pak Catur "Nanti di rumah mbak Priska aku ceritakan, sekarang sudah sampai kita turun dulu dan temui mama dan papa."
__ADS_1
Aku nurut perintah, aku segera turun,kami berdua langsung menemui mama, papa, bunda dan mak, sedang mbak Irma membantu mbaknya di dapur untuk mengolah menu untuk santap siang.