TALAK

TALAK
Part 110 TALAK.


__ADS_3

Dengan wajah yang berbinar-binar pak Catur segera menghampiri Afriana dan memeluk Afriana, Zahra anaknya mas Jamal ikut menghampiri pak Catur dan aku, Zahra tidak lupa bersalaman dengan Pak Catur sopan juga dengan diriku. Melihat kedekatan pak Catur dan Afriana membuat hatiku sangat bimbang, bagaimana tidak bimbang pak Catur bilang mau menikah namun perhatian pak Catur pada Afriana sangat berlebihan.


Dari wajah Mas Jamal dan mbak Yah memancarkan ekpresi kebahagiaan begitu melihat kedekatan pak Catur dan Afriana, sebenarnya dalam hati Kecilku, aku juga turut bahagia, toh selama ini Afriana tidak begitu dekat dengan mas Ringgo. Namun aku juga harus tetap menjaga sikap agar tidak ada kesalah pahaman di antara kami.


Tanpa basa basi, pak Catur segera mengajak Afriana, Zahra dan mas Jamal untuk bermain game, mas Jamal berpasangan dengan Zahra sedangkan Pak Catur berpasangan dengan Afriana. Mas Jamal dan Zahra sangat antusias, bagaimana bisa mas Jamal begitu akrab dengan mas Jamal seolah seperti sudah lama kenal.


Aku dan mbak Yah duduk di dekat arena permainan, sambil ngobrol dan mengamati meraka bermain.


"Yeah... Paman kita menang toss! Buk aku dan Paman menang!" seru Afriana girang.


Aku dan mbak Yah menyambutnya dengan sebuah senyuman dan dukungan.


"Af, main lagi ya!" pinta Zahra yang belum mau berhenti untuk bermain.


"Boleh ya Paman?" tanya Afriana tambah antusias.


"Boleh tapi satu kali lagi nanti ibukmu marahin Paman, Paman kan jadinya takut sama ibukmu." ucap Pak Catur gemas.


"Sekali lagi mbak Zahra!" seru Afriana tambah girang.


Aku dan mbak Yah tetap memandangi mereka berempat bermain game, betapa serunya mereka berempat.


"Fah, lihatlah Afri, dekat sekali dengan bosmu, bagaimana rencana kamu selanjutnya menikah atau giamana ?" tanya mbak Yah padaku tiba-tiba.

__ADS_1


"Untuk saat ini Aku fokus kerja dan membesarkan Afriana, mbak, belum terpikir oleh ku perihal pernikahan, yang aku khawatir kan sekarang malah tentang kedekatan Afri dan bosku, apalagi bosku katanya juga akan segera melamar calon istrinya dan dia bilang juga akan segera menikah, aku takut Afriana terlalu tergantung pada pak Catur, aku sudah berusaha mengingatkan pak Catur namun entah apa yang di pikirkan oleh pak Catur seolah dia mengabaikan peringatanku. " jelasku pada mbak Yah.


"Soal itu, kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, Afriana juga bakal paham." nasihat mbak Yah santai, sebenarnya aku sedikit menangkap keanehan dari jawaban mbak Yah.


"Semoga mbak, aku harap begitu." jawabku berusaha tenang.


"Kalian ayo di sudahi mainnya, hampir adzan ashar!" seru mbak Yah sedikit keras.


Mereka berempat menoleh ke arah kami berdua, tanpa ada bantahan mereka berempat sudah berada di dekat kami, aku dapat melihat pancarahan kebahagiaan dari wajah pak Catur, Afriana, Zahra dan juga mas Jamal.


"Kita sholat ashar dulu, setelah itu Paman ajak makan di yosinoya, Zahra dan Afriana mau?" ucap Pak Catur lembut.


"Aku mau Paman!" seru Afriana girang.


"Aku juga mau Paman, kata Afriana makanannya enak-enak ya paman?" tanya Zahra polos.


"Sekarang, kalian berdua sholat bareng ibuk dan bulek Fah, aku sama Paman." ucap mas Jamal.


Kami berenam menuju mushola yang ada di plaza lawu, dalam perjalanan menuju mushola dengan antusiasnya Zahra dan Afriana menceritakan semua kegiatannya pada kami semua. Kami berempat kadang menimpali cerita mereka berdua dengan sebuah gurauan.


Begitu sampai di mushola kami berempat menuju tempat wudzu, selesai mengerjakan sholat ashar kami berempat menuju restaurant jepang yoshinoya yang ada di dalam plaza lawu.


Kami bererenam segera mengambil tempat duduk yang berhadapan, mbak Yah, Zahra dan mas Jamal duduk dalam satu baris sedang aku, Afriana dan pak Catur duduk satu baris berhadapan dengan mas Jamal.

__ADS_1


"Hayo segera pesan, Zahra dan Afriana mau makan apa?" tanya pak Catur sambil menyodorkan menu ke arah Afriana dan Zahra.


"Afri, mau ayam teriyaki, sama ebi goreng dan siumay, minumnya es kacang merah, seperti dulu Paman, mbak Zahra ini enak lho, ayam teriyaki." ucap Afriana penuh percaya diri memperkenalkan menu pada Zahra.


"Kamu kok tahu makanan enak sih, Af?" gurau mas Jamal.


"Dulu kan juga pernah di ajak kesini sama Paman, bersama mbak Rahma." jawab Afriana jujur.


"Aku sama kaya Afriana saja." seru Zahra.


"Baiklah, kita pesan sama-sama, mas Jamal, mbak mau makan apa?" tanya pak Catur antusias.


Pak Catur memangil pelayan restaurant untuk mencatat menu pilihan kami, kami berempat memilih menu yang berbeda mas Jamal milih Black pepper beef bowl, aku shrimp bowl , mbak Yah original beef bowl, sedang pak Catur memilih yakiniku bowl, di samping pesan nasi pak Catur menambah menu, egg roll, eby goreng, shumai.


Sambil menunggu menu datang kami berenam ngobrol dan bersendau gurau.


"Afriana dan Zahra kalian tahu kenapa kok ayamnya di kasih nama teriyaki?" tanya pak Catur buat tebakan.


"Nggak tahu paman, sebentar... Sebentar." ucap Zahra sambil berpikir berusaha untuk menebak jawabannya.


"Kamu af?" tanya pak Catur pada Afriana.


"Tahu Paman." jawab Afriana yakin.

__ADS_1


"Apa coba?" tanya mas Jamal.


__ADS_2