TALAK

TALAK
Part 199 TALAK.


__ADS_3

Semakin hari perhatian pak Catur padaku semakin intens, tidak terasa usia kehamilanku sudah enam bulan dan menginjak bulan ketujuh, yang berarti akan diadakannya acara tujuh bulanan, mengandung anak kembar rasanya benar-benar membutuhkan perjuangan extra, namun demikian semua terasa ringan, karena pak Catur sangat perhatian padaku, begitu tulus mencintaiku, hampir setiap hari pak Catur selalu memijit halus pinggangku, efek dari hamil kembar pinggangku sering sekali pegel. Pak Catur sebenarnya sudah menyewa dua suster untuk menjagaku namun pak Catur tetap berusaha menjagaku sendiri. Apa yang dilakukan oleh suamiku karena dia benar-benar ingin menjadi suami siaga, hamil kali ini aku tidak ngidam apapun hanya porsi makan yang bertambah, sudah bisa dipastikan berat badanku naik drastis, baju-bajuku yang dulu sampai tidak muat.


"Mas, tadi mama telepon beliau mau datang lebih awal dari jadwal yang diperkirakan." ucapku sambil duduk di taman belakang.


"Lebih bagus, jika ada mama bersama kita aku jadi lebih tenang." jawab pap Catur senang.


"Memangnya sekarang tidak tenang?" tanyaku menggoda pak Catur.


"Untuk sekarang aku jelas tenang, bisa menemanimu dan anak-anak kita, bagaimana kinerja dua suster kita sayang?" tanya pak Catur padaku.


"Sejauh ini semua masih baik, mereka bekerja sepenuh hati walau di awal ada yang tidak begitu mengenakan namun alhamdulillah, dengan berjalannya waktu keduanya baik." jelasku.


"Mbak Rom maksud Dinda?" tebak pak Catur tepat.


"Ya, tapi tak apa sekarang semua sudah OK, tidak ada yang perlu dipermasalakan, yang penting mereka tetap bekerja dengan baik tidak merugikan orang lain." jelasku.


"Mbak, waktunya minum susu." Inayah datang dengan membawa segelas susu hamil dan vitamin buatku.


"Terima kasih mbak, Na," sahutku ramah " Mbak Na besok mbak Romnya tidak masuk, mbak Na sudah tahu?" tanyaku.


"Sudah mbak, besok jadwal ibunya mbak Rom kontrol ke rumah sakit." jawab Inayah sopan.


Inayah dan Romlah partner kerja yang bagus, walau di awal Romlah kerja bikin sedikit sensi, sikap Romlah yang kurang sopan dan juga ketus membuatku sedikit tidak nyaman, hingga pada suatu hari tanpa sengaja aku mendengar percakapan Inayah dan Romlah ketika mereka sedang mau pergantian sip, aku mendengar waktu itu Romlah curhat akan beban hidupnya, yang baru saja ditinggal oleh suaminya karena wanita lain, ditambah ibunya yang kena stroke sedangkan Romlah harus menjadi tulang punggung keluarga membiayai ibu dan anaknya seorang diri.

__ADS_1


Flas back on.


"Mbak Rom." ucapku saat kami berada di kamar dan kebetulan pak Catur lagi berada di kantor.


"Iya, mbak." jawab Romlah sudah mulai sedikit berubah sopan.


"Maaf, beberapa hari yang lalu aku mendengar pembicaraan mbak Rom dan Mbak Na."


"Maaf mbak." Romlah langsung memotong ucapanku dengan gugup.


"Tidak apa, aku tidak mau mencampuri urusan keluarga kalian, yang saya harapkan mbak Rom tetap bekerja dengan baik di sini, maaf ini saya ada sedikit uang, pakailah untuk biaya rumah sakit ibumu, semoga ibunya mbak Rom lekas sembuh." ucapku lembut, aku serahkan uang sepuluh juta.


"Tidak usah mbak, terima kasih ibunya saya sudah punya JPPS, jadi tidak begitu mbutuhkan biaya." tolak Romlah setengah terkejut.


"Tapi mbak." Romlah langsung menangis.


"Ambilah, ini rejeki dari Allah." ucapku.


Romlah langsung memelukku " Maafkan sikap saya bu."


Aku dapat merasakan ketulusan Romlah, dia harus berjuang untuk keluarganya hampir mirip denganku dulu, dengan dari hati ke hati aku ajak bicara Romlah, di awal dia ragu untuk cerita namun selanjutnya dia bisa bercerita dengan gamblang tentang kehidupannya yang suaminya telah selingkuh dan menceraikannya sehingga membuat ibunya langsung jatuh sakit dan kedua anaknya masih sekolah dasar kelas enam dan kelas empat. Sejak kejadian itu Romlah tidak seketus dulu, karena menurut Inayah yang sudah lama kenal Romlah orangnya baik cuma sedikit berubah sejak di tinggal oleh suaminya enam bulan lalu.


Flas back off.

__ADS_1


"Mas."


"Ya."


"Besok waktunya ke dokter, mas antar apa gimana?" tanyaku, walau sebenarnya aku sudah tahu akan jawabannya.


"Tentu mas antar sendiri, mas tidak ingin kehilangan nomen terindah dalam hidup mas, mas ingin tahu perkembangan anak kita secara langsung, dan mas ingin menjadi suami siaga." ucap Pak Catur lembut penuh kasih sayang dan senyum kebahagiaan.


Pak Catur selalu mendampingiku setiap kali kontrol ke dokter, biarpun sudah ada dua suster namun untuk urusan kontrol ke dokter pak Catur selalu siaga.


"Ayah, ibuk boleh ya Afri ikut ke dokter nemani adik!" seru Afriana yang sudah berdiri di dekat kami berdua.


"Besok kak Afri kan sekolah." ucap Pak Catur lembut


"Afri kan pingin lihat adik di TV, Afri bolos ya buk, ayah sekali saja." rengek Afriana.


"Masa kak Afri mau bolos, namanya kasih contoh gak bagus dong buat adik. " sahutku lembut.


"Bagaimana lain kali ayah buat janji dengan bu Dokternya, jadi periksanya nunggu kak Afri pulang sekolah." rayu pak Catur.


Afriana mikir sebentar, anak itu memang mudah sekali dirayu dan juga sangat mandiri sehingga membuatku dan Afri tidak begitu sulit dalam beradaptasi dengan keluarga baruku.


"Baik ayah Afri setuju!" seru Afriana girang mendengar ucapan pak Catur.

__ADS_1


__ADS_2