TALAK

TALAK
Part 202 TALAK.


__ADS_3

Habis isya semua sudah berkumpul di rumahku untuk mengikuti acara inti, acara tidak jauh beda dengan acara tujuh bualann Nafisa, dengan tubuh yang sudah berbalut kebaya dan hijab warna peach, serta riasan natural aku digandeng oleh pak Catur menuju lokasi, di taman belakang para tamu sudah siap serta seperangakat alat untuk mandi khas tujuh bulanan. Acaraku benar-benar meriah karena pak Catur mengundang foto grader untuk mendokumentasikan acara kami, sahabatku mabk Rani dan Nina juga turut hadir dalam acara tujuh bualananku. Alhamdulillah semua acara berjalan lancar, namun di akhir acara aku benar-benar kelelahan, akhirnya aku memutuskan masuk kamar dengan di tamani oleh pak Catur, karena hari sudah malam dan kedua sustermu sudah pulang.


"Mas, tolong antar aku ke kamar mandi perutku sedikit kram." keluhku pada pak Catur.


"Aku panggilan dokter ya." pak Catur langsung khawatir.


"Kita lihat saja nanti." sahutku dengan sekuat tenaga aku menahan rasa kram di perutku.


Dengan sabar pak Catur mengantar ke kamar mandi, sungguh di luar dugaanku ternyata ada bercak darah di underwearku.


"Mas." panggilku pada pak Catur dengan menahan sakit dan khawatir, ya aku khawatir jika terjadi sesuatu dengan anak yang ada di dalam kandunganku.


"Kenapa sayang?" wajah pak Catur semakin khawatir melihat ekpresi wajahku " Sebentar tahan sebentar sayang, aku panggilkan dokter." pak Catur langsung terkejut dan panik wajahnya sudah kebingungan dan matanya sudah merah menahan air mata yang ingi jatuh.


Aku meringis menahan kram perutku, pak Catur segera menggendongku dan membaringkanku di atas ranjang. Begitu selesai membaringkanku pak Catur segera menghubungi dokter, dan tidak berapa lama ibukku dan mama sudah memasuki kamarku.


"Ada apa?" tanya mama cemas. " Bagaimana keadaan Afifah?" mama memberondong pertanyaan.

__ADS_1


Aku sudah tidak sanggup menjawab pertanyaanaku hanya memejamkan mata menahan perutku yang kram


"Perutnya kram mah." jawab pak Catur yang dengan setia berada di sampingku, menggenggam erta tanganku.


"Nduk, Le, ayo jangan nakal kasihan ibukmu, tidur dulu ya, sayang jangan bikin ibukmu kesakitan." ucap ibukku lembut sambil ngelus perutku.


Begitu mendapat elusan lembut dari ibukku kram perutku mulai berkurang.


"Mbah ada di sini semua, mbah akan nginep di sini, tidur ya sayang." o eh ibuku lembut masih terus mengeluh lembut perutku.


Ibukku dengan lembut mengelus perutku sambil merafalkan doa, sedangkan mama ikut memijiti kakiku. Tidak begitu lama dokter yang biasa tempat aku kontrol datang lengkap dengan alat medis, dokter segera memeriksa detail jantung serta teak a darahku.


"Ibu, sangat kelelahan, jadi menimbulkan kram di perut dan bercak darah, supaya lebih aman mulai sekarang kontrolnya seminggu sekali, sekali lagi saya berpesan supaya ibu jangan sampai kelekahan, karena saya takut terjadi kelahiran prematur." jelas dokter gamblang.


"Terima kasih dok, apa yang harus saya lakukan untuk menjaga kesehatan anak dan istri saya dok?" tanya pak Catur.


"Tetap rutin lakukan senam hamil dan juga rutin lakukan jalan-jalan pagi, sekitar jam lima, cukup jalan santai jangan berlari." nasehat dokter.

__ADS_1


" Terima kasih Dok.Sahut kami semua yang berada di ruangan.


"Tingkatkan kewaspadaan bapak, ada yang tidak baik segera hubungi saya, bu Afifah perbanyak istirahat, saya pamit dulu." setelah memberi pesan dan pamit, dokter keluar dengan di antar oleh ibukku dan mama, sekarang di kamar tinggal ada aku dan Pak Catur.


"Sayang benar-benar bikin aku panik, mulai saat ini Dinda cukup di rumah saja, dan jalan-jalan pagi harus tetap bersama mas, kemanapun harus ada mas di samping Dinda." pak Catur semakin over dalam memperlakukanku.


"Mas!" seruku" Bagaimana dengan pekerjaan mas, dirumah sudah ada Mann Inayah dan mbak."


"Jangan khawatir tentang mas, yang terpenting sekarang Dinda dan anak kira selamat, tidur dan istirahat."ucap Pak Catur lembut dan penuh kasih sayang.


Aku tidak membantah lagi, aku segera memejamkan mata dalam pelukan suamiku. Semenjak kejadian waktu itu penjagaan semakin ketat, bahkan pak Catur tidak lagi lembur di kantor, pak Catur lebih banyak di rumah, entahlah pak Catur bukannya tidak percaya padaku maupun perawat yang sudah di sewa, namun pak Catur lebih ke rasa trauma masa lalu.


Hari ini keluarga mas Dwi dan mbak Tri pamit pulang tidak ternyata sudah dua minggu mereka ada di sini, namun tidak dengan mama, mama memilih tetap tinggal di rumahku sampai aku melahirkan. Kali ini keluarga mas Dwi dan mas Tri tidak ke bandara solo namun memilih ke bandara juanda, karena mereka langsung pulang ke negara mereka masing-masing dan tidak mampir ke Jakarta.


"Ma, istirahat saja ada mbak Rom yang menemaniku." ucapku, pagi ini aku ada jadwal senam hamil, namun karena sangat posesifnya pak Catur sehingga senam di lakukan di rumah dengan cara mengundang mentor datang ke rumah.


"Mama temani." ucap mama dengan senyum lembut, mama kekeh menenaniku untuk melakukan aktifitas senam hamil, untung tidak lama hanya setengah jam saja.

__ADS_1


Aku bersyukur sekali memiliki keluarga yang sangat harmonis, mereka semua sangat menantikan kelahiran anakku, terutama suamiku, Afriana ya Afriana tak kalah bahagianya sama seperti suamiku.


__ADS_2