
Setelah kejadian di kantor yang melibatkan Jack dan Noah, sampai memforsir pikiran dan juga tenaga, seperti terjadi cinta segitiga, tetapi kenyataan adalah tidak ada yang terjadi.
Amira Tan bahkan langsung diingatkan oleh Noah jika semuanya tadi memang hanyalah akting semata dan menyadarkan bahwa saat ini hanyalah seorang wanita yang tidak mempunyai pasangan.
Setelah kejadian itu, Noah bahkan tidak masuk ke ruangan karena sibuk bekerja untuk membantu pekerjaan staf lain. Seolah tidak ada yang perlu dijelaskan karena pria itu sama sekali tidak bertanya apapun.
Jadi, memilih untuk menghabiskan waktu seharian dengan tidur dan berpesan pada staf, bahwa tidak ingin diganggu.
Berharap bisa tidur nyenyak sampai jam pulang, kenyataannya adalah ia tidak bisa melakukan itu karena meskipun sudah beberapa lama memejamkan mata, tetap tidak bisa tidur nyenyak.
Akhirnya memilih bangkit berdiri dari ranjang dan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan. Bahkan melakukan itu sampai sore dan tidak keluar sama sekali dari ruangan.
Saat jam makan siang, Amira menyuruh salah satu staf membelikan makanan dan mengantar ke ruangan. Entah mengapa saat ini merasa seperti tidak berani berhadapan dengan Noah.
Apalagi saat melihat sikap pria itu sangat aneh dan tidak seperti biasa. Noah yang diketahui sangat suka membantah atau melawan dan berbicara tanpa difilter karena selalu mengungkapkan apa yang dipikirkan.
Namun, hari ini seolah semua sikap itu lenyap dan berganti dengan sikap lain dan Amira Tan sedikit tidak mengerti akan perubahan itu.
Namun, Amira Tan mencoba untuk tidak memikirkan itu karena saat ini sudah dipusingkan oleh berbagai macam kasus yang harus diselesaikan satu persatu.
Saat jam pulang kantor, Amira Tan bahkan sampai harus diingatkan oleh salah satu staf yang berpamitan karena ingin pulang sekaligus menyerahkan kunci mobil yang tadi dititipkan Noah.
Amira Tan menatap kunci mobil yang ada di atas meja. "Kenapa Noah tidak menyerahkan sendiri? Memangnya mau ke mana? Sampai terburu-buru. Apa dipikir hanya Noah saja yang sibuk? Bahkan aku pun sangat sibuk dengan banyaknya kasus yang masuk."
Puas mengomel, ia melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Aku harus segera berangkat. Jika Arya tidak datang untuk menemuiku di restoran, akan menghampiri di perusahaan."
Kemudian Amira Tan bangkit berdiri dari posisi dan memasukkan ponsel ke dalam tas. Setelah mematikan laptop dan memastikan tidak ada yang tertinggal, langsung berjalan keluar menuju parkiran.
Bukan untuk langsung pulang ke rumah, tetapi ingin bertemu Arya untuk mengancam pria itu agar tidak mempermainkan Putri. Harga diri sebagai seorang saudara perempuan seolah terluka jika membiarkan Arya berbuat sesuka hati pada Putri.
"Aku akan membuat Arya segera menceraikan Putri. Maafkan aku karena ikut campur tangan dalam kehidupan rumah tanggamu, Putri. Aku tidak bisa hidup dalam kepura-puraan dan membiarkanmu dikhianati."
"Bagiku, lebih baik kamu hidup menjanda dari pada status istri orang, tapi dikhianati dan tidak dianggap. Aku akan membantumu jika nanti sudah bercerai dengan Arya," lirih Amira Tan yang saat ini tengah fokus mengemudi menuju ke arah restoran.
Berharap Arya datang meskipun tadi tidak membalas pesan. "Semoga si berengsek itu datang."
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam karena memang memilih restoran yang dekat di antara kantor sendiri dan perusahaan Arya. Jadi, akan sama-sama dekat dan tidak membutuhkan waktu lama untuk datang.
__ADS_1
Amira Tan turun dari mobil dan langsung masuk ke restoran dan langsung memesan minuman yang tak lain adalah espresso.
Saat ini, Amira Tan terlihat tengah duduk di salah satu kursi restoran yang menjadi tempat untuk menemui Arya. Sementara di dalam pikiran masih belum yakin jika Arya akan datang atau tidak.
Sekilas melirik mesin waktu yang bergerak tanpa henti, tak terasa Amira Tan sudah duduk di sana selama setengah jam dan cangkir berisi minuman pesanan telah habis.
"Jadi, Arya memilih untuk mengabaikan pesanku? Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu. Besok pagi, aku akan datang ke perusahaan."
"Tidak perlu karena aku sama sekali tidak ada urusan denganmu!" Arya yang baru saja tiba dari pintu samping, melihat Amira Tan yang duduk dengan memunggungi.
Jadi, langsung berjalan mendekat dan mendengar semua yang dikatakan oleh saudara perempuan Putri tersebut.
Tadi Arya terlambat karena pertemuan mendadak dari klien penting yang mengajak untuk bekerjasama. Jadi, masih berbincang dengan orang-orang penting yang merupakan pengusaha dari negeri tetangga.
Refleks Amira Tan menoleh ke arah samping kanan dan kemudian melihat pada pria yang dari tadi ditunggu sudah duduk di kursi. Kemudian melambai pada pelayan untuk membuatkan minuman sama.
Amira Tan tidak bertanya apakah Arya suka espresso atau minuman lain karena selalu bersikap apa adanya. Bukan tipe penjilat yang bisa baik dengan orang. Apalagi jika jelas orang itu telah berbuat buruk.
"Syukurlah kamu datang. Jadi, aku tidak perlu repot-repot datang ke perusahaanmu. Bertele-tele adalah hal yang tidak kusukai, tapi sepertinya menerapkan padamu hari ini."
Amira Tan bisa melihat penampilan dan sikap Arya sangat berbeda. Entah apa yang menyebabkan perubahan signifikan pada pria itu, Amira Tan tidak ingin mempermasalahkan hal itu karena tujuan utama adalah ingin membuat Arya segera membebaskan diri dari pernikahan.
Namun, sama sekali tidak menemukan apapun dari ekspresi itu dan membuat Amira Tan frustasi.
'Kenapa Arya yang kuketahui tidak bisa mengendalikan amarah dan bersikap sesuka hati ini berubah setenang ini? Seolah saat ini sedang berhadapan dengan orang lain saja,' gumam Amira Tan yang masih menunggu tanggapan pria dengan penampilan sangat rapi, sehingga menampilkan kesan dewasa tersebut.
Arya sebenarnya tidak ingin datang untuk menemui orang yang berhubungan dengan Putri. Apalagi tadi sudah memutuskan untuk menjadi sosok pria berbeda dari yang dulu.
Saat wanita di hadapannya seolah seorang raja tengah mengeluarkan perintah, masih tidak menanggapi karena ingin mendengar apa penyebab Amira Tan mengatakan itu.
Tentu saja masalah mencampuri urusan pribadi orang lain tidak dibenarkan dan jika ada pemaksaan, akan dituntut dengan pasal.
Apalagi menyadari jika wanita yang ada di hadapan adalah seorang pengacara dan mengetahui mengenai pasal-pasal yang menjerat orang jika melakukan kesalahan.
'Sebenarnya apa urusan wanita ini? Sampai masuk ke ranah privasi kehidupan rumah tanggaku,' gumam Arya yang kini masih sabar menunggu penjelasan Amira Tan.
Hingga beberapa saat kemudian, mulai mengerti dengan alasan wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut.
__ADS_1
"Aku semalam melihatmu di Club karena kebetulan ada di sana. Jadi, mengetahui apa yang kau lakukan bersama wanita itu. Jika kamu ingin bersenang-senang dengan wanita lain, lebih baik ceraikan Putri. Jadi, kau bebas melakukan apapun sesuka hati."
"Kau akan hidup senang dan bebas, begitu juga dengan Putri yang tidak akan terluka karena hidup sendiri seperti istri yang tak diinginkan." Amira Tan sejujurnya lebih suka pada sikap Arya yang dulu kekanakan dari pada dingin seperti ini.
Seolah berbicara dengan patung karena dari tadi hanya diam. Bahkan baru saja mendengar tanggapan singkat dan membangkitkan amarah Amira Tan.
"Aku pasti akan menceraikan. Apa ada hal lain?" Arya menunduk ke arah jam tangan mahal yang semakin melengkapi penampilan.
"Astaga! Apakah kamu benar-benar Arya yang menikah dengan Putri? Atau orang lain yang menyamar?" Kata-kata konyol dari Amira Tan seolah mewakili perasaan saat ini karena seperti tidak percaya dengan pria di hadapannya benar-benar Arya.
Apalagi saat berbicara hanya beberapa patah saja untuk menanggapi kalimat panjang lebar yang barusan diungkapkan. Tidak hanya itu saja, Amira Tan semakin bertambah kesal karena Arya bangkit berdiri dan berpamitan.
"Kalau tidak ada lagi, aku pergi karena ada janji penting." Arya yang baru saja berdiri, melihat waiters membawa minuman yang tentu saja mengetahui itu bukan untuk Amira Tan.
Apalagi ada gelas kosong di atas meja yang menunjukkan jika wanita itu sudah menunggu sampai menghabiskan minuman.
"Nikmati minumannya karena aku tidak suka espresso." Arya berniat untuk berjalan meninggalkan wanita yang terlihat sangat marah tersebut. Namun, merasakan dingin di wajahnya.
"Dasar pria berengsek menyebalkan!" sarkas Amira Tan yang menggebrak meja begitu bangkit dari kursi dan secepat kilat meraih gelas berisi orange jus milik pelanggan restoran di samping kiri.
Tanpa membuang waktu, langsung mengarahkan pada wajah Arya. Bahkan saat ini, tidak memperdulikan pandangan dari semua orang karena membuat keributan di restoran.
Sengaja ia mengambil gelas pengunjung restoran yang duduk di sebelahnya karena di meja sendiri hanya ada minuman yang masih panas dan bahkan mengepulkan asap.
Tidak mungkin menyiram ke wajah Arya karena akan berakibat melepuh pada kulit dan dituntut hukuman. "Apa kamu sekarang berubah menjadi iblis? Sampai berubah sedingin ini?"
Jika Arya yang dulu, mendapatkan sebuah penghinaan seperti ini akan langsung dibalas dengan hal sama dan pastinya mengumpat.
Berbeda dengan Arya yang sekarang. Seolah perasaan telah mati dan memilih menanggapi apapun dengan sikap dingin.
Arya meraih sapu tangan dari saku jas dan membersihkan bekas jus yang terasa lengket di wajah. "Sepertinya kau benar. Aku adalah iblis tidak berperasaan. Sepertinya aku salah selama ini."
"Ternyata kau tidak seburuk yang kupikirkan karena bisa menjadi saudara yang baik." Kemudian Arya berbalik badan dan berjalan keluar.
Kali ini lewat pintu depan dan menuju ke arah mobil yang terparkir di area samping. 'Sial! Wajahku jadi kotor dan lengket seperti ini. Bahkan aku berpura-pura menjadi orang lain di depan wanita itu.'
Arya yang baru saja masuk ke dalam mobil, kini langsung melajukan kendaraan meninggalkan restoran mewah tersebut menuju ke apartemen Calista.
__ADS_1
Ya, karena Calista kesal saat tidak bisa pulang bersama. Jadi, Arya berjanji setelah urusan selesai, akan langsung menemui wanita yang kini menjadi tempat pelampiasan untuk melupakan Putri.
To be continued...