
Beberapa saat lalu, Amira Tan dan Jack yang baru berbicara dengan Arya mengenai masalah Putri dan tidak mengatakan hal yang sebenarnya mengenai masa lalu dari mereka, kemudian berniat untuk pulang.
Namun, karena Amira Tan yang ingin pergi ke toilet karena sudah tidak tahan, meminta Jack untuk menemani. Jadi, ia masuk ke dalam toilet bersama putrinya, sedangkan sang suami menunggu di luar.
Jack yang saat ini menunggu di depan toilet wanita, sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari beberapa wanita yang menganggapnya adalah pria mesum karena satu-satunya yang ingin ia jaga hanyalah sang istri dan juga putri satu-satunya yang sangat disayangi.
Ia yang saat ini merasa bosan menunggu, meraih ponsel miliknya dan berniat untuk membuka beberapa pesan dari rekan sesama pengacara. Saat ia serius menundukkan kepala saat menatap ke arah ponsel miliknya, kini mendengar suara bariton dari seorang pria yang datang menghampiri.
"Tuan, apa saya boleh meminta tolong?" ucap seorang pria dengan tubuh kurus yang memakai pakaian cleaning service.
Jack yang saat ini mengerutkan kening karena merasa heran ada cleaning service yang berani bicara dengannya. Namun, ia saat ini tidak berpikiran macam-macam pada pria di hadapannya tersebut yang membawa troli berisi beberapa alat kebersihan.
"Memangnya minta tolong apa?" tanya Jack tengah menatap ke arah pria berseragam biru tersebut.
"Saya tadi kehilangan dompet dan semua uang ada di sana dan hilang. Apa saya boleh meminta uang 50 ribu saja untuk ongkos pulang, kalian sisanya untuk membeli makan malam." Pria itu kini berbicara dengan sangat memelas dan menampilkan karena sedih kehilangan dompet.
Merasa sangat iba pada sosok pria yang saat ini terlihat mengenaskan karena kehilangan semua uangnya, kini Jack saat ini langsung meraih dompet yang berada di saku celana bagian belakang.
Kemudian mengambil lima lembar uang berwarna merah dan berniat untuk menyerahkan pada pria yang berdiri tepat di hadapannya tersebut. "Ini, terimalah!"
Secepat kilat pria berseragam itu meraih sesuatu dari saku celana bagian belakang dan langsung mengarahkan benda tajam ke bagian perut pria yang mengulurkan uang padanya. Bahkan posisinya saat ini seperti tengah memeluk agar tidak kelihatan jika menusuk pria itu.
Bahkan ia melakukannya dengan berkaca-kaca terpaksa. Ia saat ini berbisik di dekat pria yang sama sekali tidak dikenalnya dan menurutnya sangat baik hati karena mau memberikan uang meskipun tidak mengenal.
"Maaf, Tuan. Aku dipaksa orang tidak dikenal dan jika tidak melakukannya akan dibunuh," lirihnya yang langsung menarik pisau dan bergerak cepat untuk pergi dari sana.
Bahkan ia meninggalkan troli tersebut karena kini sudah lari terbirit-birit agar tidak ketahuan telah melakukan pembunuhan.
Sementara itu, Jack yang tadi membulatkan mata begitu merasa terkejut ketika tiba-tiba pria yang hendak diberikan uang menghunuskan pisau tajam pada perutnya.
Ia yang saat ini merasakan nyeri luar biasa di bagian perut yang sudah mengeluarkan cairan berwarna merah berbau anyir yang mulai membasahi kemeja yang dipakai.
"Siapa? Siapa yang menyuruh pria itu untuk membunuhku?" lirih Jack saat ini memegangi perutnya yang sudah bersimbah darah.
Bahkan tangannya sudah dipenuhi oleh cairan berwarna merah dan pandangannya mulai gelap. 'Apa ini adalah akhir hidupku? Tidak! Aku tidak ingin meninggalkan anak dan istriku di dunia ini. Apa jadinya mereka tanpa aku?'
Jack yang saat ini tidak bisa berbicara lagi karena hanya bergumam sendiri di dalam hati, sudah jatuh terhuyung ke belakang dan membuat beberapa wanita yang baru saja keluar dari toilet seketika berteriak dan menjerit ketakutan melihat pria yang sudah bersimbah darah itu.
"Istriku," lirih Jack yang saat ini masih mencoba untuk menyadarkan dirinya karena ingin berbicara dengan sang istri yang tadi berada di dalam.
Hingga ia yang baru saja menutup mulut, melihat anak dan istrinya keluar dari toilet dan langsung berteriak begitu melihatnya sudah telentang di lantai dingin depan toilet tersebut.
__ADS_1
"Jack!!!" Membekap mulut dan berkaca-kaca.
"Tidaaakk! Tolooong! Apa yang terjadi padamu, Sayang?" Amira Tan saat ini bersama dengan putrinya sudah berurai air mata dan berteriak karena merasa sangat syok dengan pemandangan yang dilihat.
Amira Tan yang saat ini masih memeluk putrinya, sudah menghambur ke arah sang suami yang bersimbah darah. Ia bahkan sudah bersimbah air mata ketika melihat sang suami tidak berdaya.
"Jack, siapa yang melakukan ini padamu? Bertahanlah, aku akan memanggil ambulans." Suara serak Amira Tan saat ini mewakili perasaannya yang tengah bergejolak dan dikuasai oleh ketakutan luar biasa jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada sang suami.
"Papaaa!" teriak Mahiya yang saat ini menangis tersedu-sedu sambil memeluk sang ayah.
Ia benar-benar takut jika ditinggalkan oleh pria yang sudah memberikan satu putri yang sangat disayanginya. Bahkan ia yang mengambil ponsel di saku gaun yang dikenakannya, benar-benar gemetar tangannya ketika memanggil ambulans.
Hingga ia mendengar suara lirih dari Jack yang saat ini membuatnya tidak bisa fokus untuk melakukan apapun.
"Ana, mungkin hidupku tidak lama lagi. Aku ingin mengaku dosa padamu," lirih Jack yang saat ini meringis menahan nyeri pada bagian perutnya yang sudah semakin dalam rasa sakitnya.
"Jangan berbicara, Jack. Diamlah! Sebentar lagi ambulans akan datang dan kamu akan dibawa ke rumah sakit dan diselamatkan," ujar Amira Tan yang saat ini melihat beberapa orang sudah berkerumun, tapi sama sekali tidak diperdulikannya.
Hingga ia pun kembali mendengar suara lirih dari pria yang terlihat semakin pucat dan kehilangan banyak darah tersebut.
"Aku ingin mati dengan tidak membawa rasa bersalah padamu. Aku dulu memfitnah Noah hanya untuk bisa mendapatkanmu. Noah sama sekali tidak bercinta dengan wanita lain karena aku yang membayarnya untuk menjebaknya." Jack yang saat ini merasa jika waktunya sudah tidak banyak, sehingga berbicara dengan menahan rasa sakit luar biasa di bagian perutnya.
Ia bahkan semakin kesakitan ketika membuka suara dan darah makin keluar dari luka akibat tusukan pisau yang sangat dalam itu. Bahkan meskipun masih bisa melihat raut wajah bersimbah air mata dari wanita yang sangat dicintai, saat ini sang istri terlihat sangat terkejut.
Ia selama ini mempercayai apa yang dilihat dan akhirnya menyerahkan diri pada sosok pria yang berakhir terlentang di atas lantai dengan luka di bagian perut itu. Sama sekali tidak menyangka jika ternyata Jack melakukan hal yang tidak pernah diduga sama sekali.
Amira Tan bahkan saat ini merasakan perasaan berkecamuk dan dada bergejolak serta suara tercekat di tenggorokan karena seperti kesulitan bernapas. Hingga ia kembali berurai air mata begitu Jack mengucapkan sepatah kata.
"Maaf," lirih Jack yang saat ini merasa sangat lega karena sudah mengungkapkan semua hal yang dirasakan dan berpikir bahwa ia sudah siap untuk mati.
Hingga pandangannya semakin blur dan tidak bisa lagi melihat dengan jelas wajah wanita yang selalu dipuja dan dicintainya melebihi apapun di dunia ini. Kini, lama-kelamaan pandangannya mulai kabur dan sudah tidak bisa melihat apapun setelah kelopak mata sepenuhnya tertutup.
Sementara itu, saat ini Amira Tan benar-benar merasa sangat shock atas apa yang baru saja dialami sekaligus pengakuan sang suami yang benar-benar menguras seluruh perasaannya.
Ia bahkan tidak bisa lagi berkata-kata dan saat ini mendengar suara dari saudara tirinya yang kini menghambur memeluknya dengan erat.
"Amira Tan! Sabarlah, semuanya akan baik-baik saja karena ambulans sudah datang," ucap Putri yang saat ini merasa sangat syok melihat apa yang terjadi pada saudara tirinya.
Ia tidak tega ketika melihat ibu dan anak tersebut menangis tersedu-sedu begitu melihat Jack tidak berdaya tergolek di lantai dan kini sudah kehilangan kesadaran. Hingga ia tadi sempat mendengar perkataan dari Jack ketika berhenti di sebelah Amira Tan yang terduduk di lantai, sehingga ia mengetahui bagaimana perasaan saudaranya tersebut.
Namun, ia sama sekali tidak membahas itu dan fokus pada keadaan mental Amira Tan serta sang putri. "Amira Tan, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus kuat demi putrimu. Lihatlah putrimu saat ini," ucap Putri yang saat ini mengusap beberapa kali lengan di balik gaun berwarna hitam tersebut.
__ADS_1
Amira Tan yang saat ini menyadari jika kesedihannya membuat putrinya tidak terurus. Ia menoleh ke arah putrinya dan memeluk dengan erat. "Sayang, tenanglah. Ada Mama di sini."
"Papa, Ma!" teriak Mahiya yang saat ini menuju ke arah sang ayah dengan berurai air mata dan masih menangis tersedu-sedu sehingga suaranya sangat serak ketika memanggil sang ayah yang sangat disayangi.
"Papa akan baik-baik saja, Putriku," lirih Amira Tan yang saat ini melihat para tim medis sudah membawa berangkat dan langsung bergerak untuk memindahkan tubuh sang suami ke atas.
Ia yang merasa tubuhnya sangat lemas karena kehilangan daya, saat ini berusaha kuat dan dibantu oleh Putri untuk bangkit berdiri. Kini, berjalan mengikuti brankar yang membawa sang suami menuju ke ambulans.
Putri yang saat ini tidak jadi untuk pulang karena ingin menemani saudara dirinya tersebut, menoleh ke arah Aldiano dari tadi berdiri di sebelahnya. "Aku akan ke rumah sakit. Tolong katakan pada papa dan suruh pengawal untuk menjaga putraku."
Aldiano yang saat ini merasa heran karena melihat wanita yang sangat dibencinya tersebut sangat perhatian pada nasib pengacara tersebut, ia ketika menarik lengan Putri dan berbisik di dekat daun telinga.
"Kenapa repot-repot menemaninya? Dia punya keluarga dan biarkan sanak saudara yang menemaninya. Jadi, tidak perlu sok pahlawan dengan mengantarnya ke rumah sakit." Aldiano yang saat ini baru saja menutup mulut, sangat terkejut begitu mendengar alasan yang baru saja diungkapkan oleh Putri yang menatapnya tajam seperti tidak takut sama sekali padanya.
"Maaf, aku tidak bisa menutup mata melihat nasib saudaraku. Ya, aku adalah adik tiri dari Amira Tan dan tidak akan mendengarkanmu lebih memilih saudaraku yang baru saja mengalami nasib yang malang," sarkas Putri pada saat ini kembali mengejar Amira Tan.
Aldiano yang saat ini berdiri di tempatnya karena merasa sangat terkejut begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Putri. 'Jadi, pelacur itu memiliki saudara tiri seorang pengacara hebat? Wah ... sangat luar biasa. Papa pun sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Aku harus memberitahunya sekarang."
Aldiano akhirnya membiarkan Putri berbuat sesuka hati dan menuju ke dalam ballroom hotel dan menyampaikan pada sang ayah tentang apa yang baru saja didengarnya.
Di sisi lain, sosok pria yang tak lain adalah Arya, dari tadi menatap interaksi antara pasangan suami istri tersebut yang dianggap sangat aneh. Hingga ia bisa melihat tatapan penuh kemurkaan yang dilayangkan oleh Putri tadi pada Aldiano.
'Aku sangat yakin jika hubungan mereka tidak baik-baik saja seperti hubunganku dengan Calista. Pasti ada sesuatu yang tidak beres,' gumam Arya saat ini memilih mengejar wanita yang membuatnya merasa sakit jika memiliki hubungan di masa lalu.
Bahkan langsung masuk ke dalam mobil dan mengejar ambulans yang ia ketahui Rumah Sakit yang sama dengan tempat ia dulu dirawat ketika kecelakaan. "Aku mencari tahu semuanya hari ini karena Calista tidak mau menceritakan padaku tentang apa penyebab ia ingin segera meninggalkan pesta begitu melihat Putri."
Saat Arya tengah fokus mengemudikan kendaraan mengikuti ambulans, di mobil yang berbeda, yaitu berwarna merah dan di dalamnya ada Putri yang tengah mengemudi serta di sebelahnya saudara tiri beserta putrinya.
Semenjak ia menjadi istri dari Aldiano, mertuanya menyuruh untuk belajar menyetir agar bisa diandalkan ketika saat-saat darurat. Jadi, ia sangat bersyukur karena tidak menolak keinginan dari mertuanya tersebut dan sekarang bisa menolong saudara tirinya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Amira Tan, kamu harus kuat dan berdoa agar suamimu baik-baik saja. Jack pasti akan selamat setelah para tim dokter melakukan pertolongan." Putri tidak tahu bagaimana cara menenangkan Amira Tan yang dari tadi hanya diam.
Ia yang fokus mengemudi menuju ke rumah sakit, saat ini benar-benar mengkhawatirkan keadaan psikis dari Amira Tan karena dalam satu waktu mengalami kejadian yang benar-benar mengguncang jiwanya.
'Amira Tan, aku dulu sangat iri padamu karena merupakan seorang wanita hebat yang tidak ada cela. Aku sama sekali tidak menyangka jika ternyata percintaanmu sangat rumit karena bisa menikah dengan Jack disebabkan kecurangan pria itu yang sangat ingin memilikimu.'
'Jadi, kamu berpisah dengan Noah gara-gara Jack memfitnahnya? Bahkan kebahagiaan yang kamu rasakan sekarang seperti sirna begitu mengetahui segalanya.'
'Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tidak terpuruk seperti ini,' gumam Putri ya saat ini merasa khawatir dengan diamnya seorang Amira Tan yang biasanya selalu bersikap arogan dan banyak bicara ketika marah.
Namun, saat ini berbeda karena Amira Tan lebih memilih untuk dia membisu tanpa kata dan membuatnya khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada psikisnya.
__ADS_1
To be continued...