
Amira Tan refleks langsung melepaskan pelukan Noah dan menarik diri beberapa jarak, agar bisa menatap dengan jelas sosok pria dengan tatapan tajam yang mengunci pandangan.
"Apakah kau ingin aku berakhir di penjara saat membunuhmu ketika melihatmu berselingkuh? Ataukah kau ingin membunuhku saat aku mengkhianatimu? Jika itu terjadi, bukankah tidak ada kebahagiaan?"
"Memangnya kamu mau berselingkuh dariku? Ataukah kamu berpikir aku akan berselingkuh dan berakhir mati di tanganmu? Seharusnya perjanjian itu membuat kita berdua membuktikan diri bahwa sangat setia dan tidak akan saling berkhianat dengan menodai ikatan suci percintaan kita."
"Semua hal selalu ada resikonya, Sayang. Jadi, tidak perlu berpikir hal buruk jika bisa melakukan yang terbaik. Fokus saja pada tujuan hidup kita demi kebahagiaan kita. Bagaimana?"
Noah saat ini masih tidak mengalihkan pandangan karena berharap bisa mendengar jawaban tanpa keraguan dari sosok wanita yang membuatnya tergila-gila dan rela melakukan apapun demi Amira Tan.
Amira Tan saat ini tidak langsung menjawab karena masih mempertimbangkan dengan baik akan jawaban yang diberikan pada Noah terlihat sangat yakin dengan perasaan.
Saat berpikir bahwa sosok pria di hadapannya tersebut sangat serius dan seperti tulus karena selama ini tidak pernah melihat Noah menggoda seorang wanita kecuali dekat dengan Putri.
Dulu saat melihat Noah dekat dengan Putri, ada sedikit kecemburuan yang dirasakan, tetapi sama sekali tidak memperlihatkan karena harga diri jauh lebih tinggi. Tidak ingin memulai hubungan dengan sesuatu hal yang mengganggu pikiran, kini Amira Tan memilih untuk bertanya pada Noah.
"Aku ingin bertanya padamu mengenai satu hal?"
__ADS_1
"Apa?" tanya Noah yang saat ini menyipitkan mata sekaligus merasa penasaran dengan apa yang menjadi keraguan wanita di hadapan tersebut.
"Dulu kamu langsung akrab dengan Putri. Apakah kamu sempat tertarik padanya?" tanya Amira Tan yang saat ini tidak mengalihkan pandangan dari sosok pria dengan wajah datar dan sangat tenang, sehingga tidak bisa mengetahui isi dalam pikiran pria itu.
Namun, beberapa saat kemudian merasa geram karena melihat Noah tertawa terbahak-bahak dan sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
Awalnya Noah seketika mengingat kerjasama dengan Putri ketika dulu meminta bantuan. Hingga merasa sangat yakin jika Amira Tan saat ini merasa cemburu pada saudara tiri. Namun, selama ini sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak memperlihatkan hal itu.
Ia akhirnya tertawa lepas karena merasa sangat puas telah mengetahui seperti apa perasaan Amira Tan saat ini. Bahwa pertanyaan wanita di hadapannya tersebut merupakan sebuah bentuk dari kecemburuan.
Saat tertawa lebar, merasakan nyeri pada bagian pinggang karena Amira Tan mencubit di sana.
Noah yang saat ini tidak lagi tertawa karena fokus pada rasa nyeri sekaligus panas pada bagian pinggang karena Amira Tan sangat kuat mencubit di sana.
"Astaga! Panas sekali, Sayang."
"Apa mau lagi?" sarkas Amira Tan saat ini mengangkat tangan dan berniat untuk berpindah tempat mencubit di bagian paha pria yang seperti tengah menguji kesabaran.
__ADS_1
"Stop! Aku tidak ingin dicubit lagi karena rasanya masih panas." Noah masih beberapa kali mengusap pinggang yang tadi dicubit oleh wanita dengan tatapan tajam tersebut.
"Kenapa kau tertawa saat aku bertanya serius padamu?" Amira Tan masih tidak mengalihkan pandangan dari tadi dan ingin sekali mengetahui jawaban dari pria yang membuatnya kesal.
Dengan sangat santai, Noah mulai menanggapi. "Karena aku merasa sangat bahagia hari ini?"
Masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan Noah, Amira Tan saat ini mengarahkan pukulan pada lengan dan kaki di balik ke meja berwarna putih tersebut. "Cepat katakan padaku dan jangan seperti orang gila."
Kini, secepat kilat Noah menangkap tangan Amira Tan dan mengarahkan tatapan tajam. Tidak ingin dikalahkan oleh wanita yang dianggap sangat bodoh karena tidak mengetahui penyebab kebahagiaan hari ini.
"Bagaimana mungkin aku tidak merasa bahagia saat wanita yang kucintai baru saja menunjukkan kecemburuan. Bukankah kamu merasa cemburu aku dulu dekat dengan Putri?"
"Mana ada. Kau salah paham dan terlalu percaya diri!" sarkas Amira Tan yang saat ini ingin memalingkan wajah agar tidak bersitatap dengan iris berkilat itu.
Refleks Noah merangkum kedua sisi wajah Amira Tan untuk melihat kejujuran di manik bening kecoklatan milik wanita itu. "Benarkah? Rasanya aku tidak yakin dengan jawabanmu karena mengetahui bahwa pertanyaanmu itu bernada cemburu pada saudara perempuanmu."
"Tidak! Aku sama sekali tidak cemburu padamu. Memangnya aku salah bertanya untuk memastikan perkataanmu karena berpikir bahwa kau suka menggoda wanita." Amira Tan berusaha untuk tidak terlihat jelas saat ini tengah merasa gugup.
__ADS_1
Apalagi berada pada posisi dekat dan terbilang sangat intim, membuatnya berkali-kali menelan saliva dengan kasar.
To be continued...