
Perawat wanita tersebut mengangkat pandangan dan menatap pria yang dari tadi sama sekali enggan untuk berbicara. Seolah tidak ingin menanggapi ataupun menjawab pertanyaan darinya.
"Sepertinya kau benar-benar patah hati karena diputuskan oleh kekasihmu, sehingga mengorbankan tangan yang bahkan tidak bersalah."
Merasa telinganya terasa panas saat wanita di hadapannya tersebut berpikir hubungan dengan Amira Tan berakhir, Noah merasa sangat kesal dan membenarkan semuanya.
"Jangan berasumsi seenak jidatmu karena aku tidak diputuskan kekasihku. Ada seorang pria berengsek yang tidak tahu diri mencoba untuk merebut milikku!"
Noah semakin merasa emosi ketika mengingat apa yang dikatakan oleh Jack di lobi rumah sakit. "Bahkan sengaja menentangku dengan mengatakan akan merebut kekasihku dengan memanfaatkan kejadian buruk yang menimpa calon mertuaku."
Meskipun tidak mengatakan secara jelas bahwa hubungan tidak direstui oleh orang tua sang kekasih, Noah tetap mengatakan bahwa saat ini ada orang ketiga yang hendak masuk ke dalam hubungan mereka.
Santi kini mulai mengerti apa yang menyebabkan pria di hadapannya mengorbankan tangan hingga seperti itu. Ia tadi kelaparan saat waktu istirahat dan sekarang memilih untuk menikmati roti yang tadi dibeli.
Namun, sebelumnya memberikan satu roti pada pria malang tersebut. "Makanlah! Kau harus minum obat untuk menghilangkan rasa nyeri. Jadi, bisa mengganjal perut dengan makan roti itu terlebih dahulu."
Kemudian menggigit roti dengan isian coklat, lalu mengunyah dan masih tidak mengalihkan pandangan pada pria yang dianggap sangat mirip dengan wajah kekasihnya.
Namun, perbedaannya hanyalah pria itu terlihat lebih putih, sedangkan sang kekasih memiliki kulit sedikit lebih gelap. "Sepertinya kau tidak mendapatkan restu dari orang tua kekasihmu."
Embusan napas panjang seolah mewakili bahwa pertanyaan sang perawat memang merupakan kenyataan yang sebenarnya dialami oleh Noah.
Namun, Noah memilih untuk membuka roti yang diberikan sang perawat dan menikmatinya karena memang harus minum obat demi menghilangkan rasa nyeri.
"Bersabarlah! Kalau jodoh tidak akan ke mana, begitupun sebaliknya. Meskipun kau mengejar sampai ke ujung dunia sekalipun, kalau tidak jodoh, mana mungkin bisa bersatu. Jangan melawan sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan, meskipun disarankan untuk berusaha, tapi yang sudah pasti adalah jodoh, rezeki dan mau sudah ditentukan sebelum kita dilahirkan di dunia ini."
Kemudian Santi melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri dan merasa jika waktu istirahatnya sudah habis, sehingga harus segera kembali ke rumah sakit dan kembali bekerja.
Ingin menghibur sosok pria yang baru saja ditemuinya tersebut, Santi menepuk bahu lebar dan mengungkapkan apa yang ada di pikiran. "Jangan menyerah untuk berusaha, tapi jika tidak ada hasil, jangan menyiksa diri. Apalagi sampai mengakhiri hidup."
Kemudian berlalu pergi dari minimarket dan tidak menunggu tanggapan dari pria yang diobati. Tadi Santi hanya bercanda untuk meminta ganti atas uang yang dikeluarkan membeli obat, tapi karena merasa iba dengan nasib pria itu, sehingga tidak meminta.
Noah yang dari tadi meresapi semua perkataan perawat yang bahkan tidak diketahui namanya tersebut, kini seketika bangkit dari kursi dan mengejar wanita itu.
"Tunggu!"
__ADS_1
Santi yang merasa dipanggil, seketika menoleh ke belakang dan melihat pria itu berlari ke arahnya, sehingga mengerutkan kening. "Ada apa? Apa ada yang kau perlukan lagi?"
Noah yang sudah berhasil mengejar sang perawat, seketika langsung mengeluarkan dompet dan dua lembar uang. Kemudian memberikan wanita baik yang mau mengobatinya meskipun tidak mengenal.
"Ini adalah uang untuk mengganti membeli obat dan juga bentuk ungkapan terima kasihku karena sudah mau mengobati tanganku yang hampir patah."
Santi saat ini hanya menatap dua uang lembar yang diberikan padanya. "Aku tadi hanya bercanda untuk meminta ganti, jadi beli sesuatu yang bisa membuatmu senang. Makan enak atau apapun yang bisa mengubah perasaanmu sedikit lebih baik."
Kemudian mengarahkan tangan untuk menolak uang di tangan pria tersebut. "Aku sudah kaya karena gajiku sebagai perawat di Rumah Sakit ini bisa membuatku menabung uang. Jaga dirimu baik-baik dan ingat pesanku tadi. Jangan mengakhiri hidup hanya karena cinta!"
Saat Noah berniat untuk menghentikan wanita yang menolak uang pemberiannya, tidak jadi melakukan karena seperti beberapa saat lalu, perawat tersebut sangat cepat ketika berlari setelah menyeberang jalan yang sepi.
Noah bahkan hanya melihat siluet wanita yang sudah menghilang di balik dinding rumah sakit. Kemudian tertawa terbahak seperti orang gila karena menyadari bahwa sikap yang baru saja ditunjukkan oleh perawat tersebut merupakan sebuah belas kasihan.
Noah merasa seperti seorang pria pecundang karena dikasihani oleh wanita tidak dikenal dan sudah memberikan nasihat agar tidak mengakhiri hidup ketika patah hati.
Tanpa memperdulikan tatapan dari beberapa orang yang melintas, Noah masih tetap tertawa miris melihat nasibnya sendiri.
"Bahkan wanita yang baru saja kutemui malah menganggapku seperti seorang pria tidak berguna, sehingga merasa iba padaku. Apakah aku hanyalah pria tidak berguna? Mungkin semuanya tidak akan seperti ini jika aku adalah pria kaya raya dan badan dengan keluarga Amira Tan."
Ingin menenangkan pikiran dengan pulang dan beristirahat serta introspeksi diri seperti yang dikatakan oleh sang kekasih, Noah berharap setelah itu akan bisa menahan emosi jika nanti bertemu Amira Tan.
"Sebaiknya aku pulang dan tidur seharian," ucap Noah yang meraih ponsel miliknya dan memesan ojek online untuk mengantarkan ke kontrakan.
Namun, tidak jadi melakukan karena mendapatkan telepon dari sang kekasih dan membuatnya merasa senang.
Saat sudut bibirnya terangkat ke atas ketika merasa sangat bahagia karena Amira Tan menelpon, kini ia langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, Sayang. Apakah kamu sangat merindukanku, sehingga menghubungi saat baru berpisah beberapa jam?"
"Noah, ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Orang tuaku menyuruhku untuk memecatmu dari kantor karena khawatir kita masih akan berhubungan setelah menikah dengan Jack. Jadi, aku harap kau bisa mengerti dan besok tidak perlu datang ke kantor," ucap Amira Tan dari seberang telpon.
Sementara itu, Noah yang sama sekali tidak berpikir jika Amira Tan menghubungi hanya untuk mengatakan kabar buruk itu, sehingga wajahnya seketika berubah memerah dengan tangan kanan mengepal dan bunyi gemeretak gigi yang saling bersahutan.
Rahang mengeras menandakan bahwa Noah dikuasai oleh kemurkaan, tetapi baru beberapa saat yang lalu berkata bahwa ingin mencoba untuk menahan diri agar tidak selalu menanggapi apapun dengan emosi.
__ADS_1
Meskipun tidak sesuai dengan hatinya, ia saat ini mencoba untuk berakting menerima keputusan Amira Tan demi hubungan mereka karena berharap setelah melakukan itu, sang kekasih tidak lagi menyebutnya kekanakan.
"Baiklah! Aku besok tidak akan datang ke kantor. Aku akan mencari pekerjaan lain, agar tidak menganggur. Meskipun pekerjaanku tidak akan membuat orang tuamu merestui, tapi akan tetap berusaha untuk membahagiakanmu dengan gajiku yang tidak seberapa."
"Mama memanggilku, Noah. Aku tutup telponnya!" sahut Amira Tan dari seberang telpon tanpa menunggu jawaban dari sang kekasih yang membuatnya merasa sangat marah.
Sementara itu, Noah belum sempat membuka mulut untuk berbicara, tetapi semakin merasa emosi ketika sambungan telpon sudah terputus secara sepihak.
"Berengsek! Kenapa sikap Amira Tan berubah sinis padaku? Apakah Jack telah berhasil mempengaruhinya untuk membenciku? Bahkan Amira Tan seperti sangat malas mendengar suaraku, sehingga langsung mematikan sambungan telepon setelah memecatku."
Noah mengajak frustasi rambut dengan wajah memerah. Bahkan degup jantung tidak beraturan saat ini karena dikuasai oleh kemurkaan yang membuncah dan seperti tengah membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak marah.
"Kau menyuruhku introspeksi, sedangkan sikapmu seperti ini padaku. Siapa yang harusnya menyadari kesalahan?" sarkas Noah kini melihat ojek online sudah berhenti tepat di hadapan.
Tidak ingin semakin gila berada di depan minimarket, Noah segera naik ke atas motor dan menyuruh pria tersebut menuju ke kontrakan.
Sementara itu di sisi lain, terlihat seorang wanita yang saat ini sudah berada di dalam mobil bersama pria tak lain adalah Jack.
Beberapa saat lalu, Amira Tan yang puas memukul Jack untuk melampiaskan amarah setelah memanggilnya calon istri, kemudian pulang bersama.
Saat melihat Amira Tan sedang tidak baik-baik saja, sehingga Jack menyuruh untuk meninggalkan mobil di rumah sakit dan pulang bersama.
Namun, saat keluar dari area rumah sakit, tanpa sengaja Amira Tan melihat Noah duduk di depan minimarket bersama seorang perawat.
Amira Tan merasa sangat marah begitu melihat apa yang dilakukan Noah terlihat seperti sangat akrab dengan seorang wanita berseragam putih tersebut, sehingga beberapa kali mengepalkan tangan untuk menahan amarah yang dirasakan.
Sementara itu, Jack yang juga melihat hal sama, tersenyum menyeringai dan merasa bahwa takdir kembali berpihak padanya dengan menunjukkan pemandangan luar biasa yang bisa membuat Amira Tan membenci Noah.
"Sepertinya Noah sudah langsung mencari penggantimu setelah mengetahui bahwa kamu akan menikah denganku." Jack sengaja semakin memperkeruh suasana dengan cara membuat Amira Tan membenci Noah.
Sementara itu, Amira Tan merasa sangat marah begitu mendengar perkataan Jack yang sangat menyakitkan. "Noah bukanlah pria sepertimu, Jack karena akulah satu-satunya wanita yang dicintai."
"Iya, baiklah. Sepertinya cinta membuatmu buta dan tidak bisa melihat seperti apa seorang pria berengsek karena di matamu hanya aku yang merupakan playboy, bukan?" Jack tidak lagi berbicara karena ingin Amira Tan memikirkan berbagai macam kemungkinan buruk dari Noah yang dilihat sedang bersama dengan seorang wanita.
'Aku sangat yakin jika saat ini kamu sedang memikirkan apa yang kukatakan. Kamu tidak akan tidur nyenyak malam ini saat berpikir bahwa Noah telah berselingkuh darimu.'
__ADS_1
To be continued...