
"Putri? Apa kamu tidur?"
Sementara itu, Putri yang tadi berpikir jika yang datang adalah perawat, sama sekali tidak menyahut karena suara serak efek menangis. Jadi, memilih untuk membiarkan masuk untuk memeriksa tensi dan mengecek yang lain.
Namun, begitu indra pendengaran menangkap suara yang sangat dikenal, ia kebingungan karena pasti wajah sedang sembab karena dari tadi menangis.
'Amira Tan? Kenapa datang ke sini? Aku tidak ingin ia melihatku seperti ini. Ini sangatlah melukai harga diriku, tapi sekarang harus bagaimana? Apa aku berpura-pura untuk tidur saja?'
'Mungkin bisa jika wajahku tidak dipenuhi oleh air mata. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Amira Tan pasti akan memeriksa dengan menyingkirkan bantal ini,' gumam Putri yang kini memilih untuk perlahan membuka suara.
"Tidak, aku tidak tidur." Suara serak Putri mendominasi ruangan kamar tersebut dan kini memilih buru-buru menghapus wajah yang sembab di bawah bantal.
Buru-buru merapikan penampilan, agar saat menyingkirkan bantal yang menutupi wajah, tidak terlihat sangat mengenaskan. Meskipun mengetahui jika Amira Tan tetap akan bisa melihat bekas menangis.
Apalagi mengetahui jika Amira Tan adalah seorang wanita cerdas dan tidak mudah dikelabui. 'Aku hanya harus mencari alasan tepat saja untuk membuat Amira Tan percaya penyebab aku menangis.'
Perlahan Putri membuka bantal dan menaruh di bawah kepala, lalu melihat Amira Tan sudah ada di sebelah kiri dengan berdiri menatap penuh intimidasi.
"Bukankah kamu tadi di ruang gawat darurat? Bagaimana keadaanmu, Amira?" Putri tidak bisa menghilangkan suara serak yang saat ini seolah membuka rahasia yang ingin ditutupi.
"Aku tidak apa-apa karena tadi pingsan karena efek takut hantu. Konyol, bukan? Seorang Amira Tan takut hantu. Aku sendiri pun heran." Amira Tan masih berbicara santai dan memilih untuk duduk di kursi sebelah kiri Putri.
Kemudian menyilangkan kaki kanan dan bersedekap dada. "Apakah kamu sedang memikirkan sesuatu? Kenapa sampai mengenaskan seperti itu wajahmu? Aku tidak bisa berpura-pura tidak tahu jika kamu baru saja menangis, jadi maaf."
Kekesalan Amira Tan sedikit berkurang begitu melihat wajah Putri yang sangat mengenaskan. Jadi, mengurungkan niat untuk meluapkan emosi.
'Bagaimana aku marah dengan mengatakan ia suka menggoda pria muda jika keadaan Putri menyedihkan seperti ini. Aku yang patah hati, tidak bisa dibandingkan dengan kehancurannya, gumam Amira Tan yang tengah mempertimbangkan mengenai akan menyampaikan atau tidak mengenai Amira Tan yang berselingkuh.
'Ingin sekali aku mengatakan jika Arya kemarin pergi ke Club dengan seorang wanita cantik dan seksi, tapi kenapa aku jadi lemah karena tidak tega, ya?'
__ADS_1
Amira Tan hanya bisa berguman di dalam hati sambil mengamati setiap pergerakan Putri. Bahkan perkataan wanita itu kini telah menghibur perasaan yang sedang kacau balau karena perbuatan terlarang yang dilakukan bersama Noah.
"Kamu memang Amira Tan yang arogan dan hebat. Tidak pernah bersikap munafik di depan orang lain dan pastinya membuatku seperti serpihan debu jika berhadapan seperti ini."
Putri sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan oleh Amira Tan, jadi kini merasa tidak ada gunanya untuk menutupi.
"Sepertinya aku harus mengatakan apa yang membuatku tadi menangis." Putri kini meraih ponsel di atas ranjang sebelah kanan dan membuka pesan dari Bagus.
Kemudian menyerahkan pada Amira Tan, agar mengetahui dan membaca sendiri karena seolah tidak mempunyai tenaga untuk mengatakan.
Amira Tan yang merasa sangat penasaran dengan apa yang ada di ponsel tersebut, refleks langsung menerima dan membaca.
Wajah yang tadi sangat arogan penuh percaya diri, seketika pudar ketika mengetahui jika saat ini Bagus sedang berada di terminal untuk berangkat ke kampung.
"Ini ... jadi sekarang dia berangkat? Tidak jadi besok? Padahal aku berniat untuk membelikan oleh-oleh untuk Putra, tapi kenapa pulang sekarang. Pria bodoh itu benar-benar selalu membuatku emosi."
"Astaga!" Kemudian ia seketika bangkit berdiri dengan posisi masih memegang ponsel Putri. "Bukankah pria bodoh itu sangat keterlaluan? Seharusnya berpamitan sebelum pergi, kan. Jadi, aku bisa memberikan Putra sedikit uang jajan."
"Bagus tidak ingin membuat kita bersedih. Apalagi jika sampai menangis karena perpisahan. Pasti sudah tahu jika kau akan membawakan banyak oleh-oleh dan memberikan banyak uang pada putra kami." Putri menjawab lemah dan kini kembali meneteskan air mata.
"Aku tadi menangis karena merasa bersalah pada pria baik itu. Betapa dulu aku sangat jahat padanya. Meskipun aku sudah tidak mencintai Bagus, tetap saja tidak bisa memungkiri jika kami pernah mengarungi biduk rumah tangga selama sepuluh tahun. Aku sangat berdosa pada pria yang bahkan tidak pernah kasar atau pun dendam padaku."
Putri bisa melihat raut kekecewaan sekaligus kesedihan tampak dari wajah Amira Tan saat ini. Bahkan di saat seperti ini, bisa melihat masih ada cinta di sorot mata itu.
Pergilah! Siapa tahu dia masih belum berangkat. Jika bisa bertemu untuk terakhir kali, mungkin tidak akan membuatmu terluka." Putri kini menatap ke arah jam di dinding. "Ini masih setengah lima, kemungkinan bus berangkat pukul lima pagi."
"Mungkin masih sempat kalian bertemu." Putri sebenarnya juga ingin melakukan itu, tapi sadar jika menunjukkan wajah di depan Bagus dan Putra, hanya akan membuat mereka bersedih.
'Aku tidak ingin menyakiti hati putraku yang sudah tenang dan melupakanku. Biarkan aku yang menanggung semua dosa ini dan tidak menyusahkan orang lain,' gumam Putri yang kini mendengar suara Amira Tan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa menyuruhku? Bahkan aku sama sekali tidak berarti apa-apa di hatinya Seharusnya kau yang pergi, bukan?" Amira Tan masih menahan perasaan membuncah dan melirik sekilas pada jam dinding yang menang masih ada waktu sekitar setengah jam.
Namun, merasa gengsi untuk mengakui di depan Putri jika sangat ingin pergi dan melihat Bagus untuk terakhir kali. 'Apa aku masih bisa bertemu dengannya jika berangkat ke terminal sekarang?'
Putri hanya menggeleng lemah karena memang sama sekali tidak berencana untuk pergi. "Aku tidak ingin kembali menyiksa putraku. Ia sudah hidup tenang dan bahagia bersama sang ayah."
"Aku akan menjadi wanita jahat jika kembali muncul di hadapan mereka. Sementara kamu sangat pantas pergi karena hubungan kalian masih baik. Pergilah! Sebelum kamu menyesal!" Putri menaikkan nada suara karena berpikir harus menyadarkan sosok wanita yang masih satu darah tersebut.
Amira Tan menelan ludah dan di saat bersamaan mendengar suara bariton dari Noah yang baru saja masuk.
"Apa masih mau mengobrol atau pulang sekarang, Amira Tan."
Amira Tan refleks mengangkat tangan yang membawa ponsel Putri. "Aku pinjam ponselmu. Nanti kukembalikan."
Putri menganggukkan kepala karena mengetahui jika Amira Tan tidak membawa ponsel dan membutuhkan untuk menghubungi Bagus ketika sampai di terminal nanti.
"Ayo, antarkan aku, cepat!" Suara Amira Tan terdengar sangat keras karena ingin Noah buru-buru mengantarkan ke terminal.
Apalagi jarak klinik ke rumah sakit membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Jadi, berpikir apakah masih sempat bertemu Bagus atau tidak juga belum tahu.
Noah yang merasa bingung dengan sikap Amira Tan karena sudah menarik pergelangan tangan dan berjalan cepat menuju ke arah parkiran.
"Memangnya kamu mau ke mana? Kenapa terburu-buru seperti ini?"
"Menemui Bagus di terminal karena sekarang akan berangkat ke kampung halaman." Amira Tan kini memberikan kode pada Noah untuk membuka pintu, tetapi merasa sangat terkejut ketika Noah menyerahkan kunci pintu mobil ke tangan.
"Aku tidak mau melihat pria itu. Pergi saja sendiri!" sarkas Noah dengan wajah kesal dan memilih untuk berjalan menuju ke arah jalan utama.
To be continued...
__ADS_1