Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Acara pertunangan dibatalkan


__ADS_3

Tidak ingin mood baik berubah buruk karena kekhawatiran yang tidak berdasar, Calista kali ini memilih untuk menaruh ponsel di atas nakas dan berjalan keluar dari kamar dengan keyakinan bahwa keluarga calon mertua sudah dalam perjalanan.


Meskipun di hati kecil masih merasa ragu dan bimbang, tapi tidak ingin berpikir negatif dan akan merubah mood baik yang dirasakan dari tadi berubah menjadi buruk karena kekhawatiran.


Setelah berjalan dengan langkah kaki telanjang menuruni anak tangga, Calista melihat beberapa pelayan tengah sibuk menyiapkan aneka makanan dan sudah selesai mendekorasi ruang depan yang akan digunakan untuk acara lamaran hari ini.


Meskipun semua yang dilakukan sangat mendadak karena memang tidak ada persiapan atau pembicaraan sebelumnya, tetapi sebelum acara dimulai, sudah siap dan selesai semua.


Calista menghampiri orang tua yang sudah duduk di sofa. "Apa semuanya sudah siap, Ma?"


Kemudian mendaratkan tubuh di sebelah sang ibu yang tersenyum sambil mengusap lembut punggung Calista.


"Sudah. Sekarang tinggal menunggu mereka datang. Mungkin sebentar lagi akan tiba. Kita Tunggu saja," seru wanita paruh baya yang saat ini mengenakan pakaian berwarna putih yang senada dengan sang suami.


Calista hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, sambil menyembunyikan perasaan sebenarnya yang merasa khawatir jika Arya dan keluarga besar tidak datang malam ini.


'Kenapa aku merasakan firasat buruk malam ini? Meskipun mulutku membantah, tetapi hatiku mengatakan ada hal yang terjadi saat Arya memilih untuk menonaktifkan ponsel. Apakah tidak ingin dihubungi oleh orang lain karena pergi?'


'Apakah Arya tidak siap untuk menikah setelah menceraikan wanita itu? Lalu memilih untuk menenangkan diri dengan cara menonaktifkan ponsel, agar tidak ada yang bisa menghubungi?'


Berbagai macam pertanyaan kini menari di otak Calista saat ini. Sampai berpikir bahwa acara lamaran hari ini akan gagal. Lamunan Calista seketika musnah begitu mendengar beberapa kerabat yang baru saja datang karena ingin melihat acara lamaran dari keluarga besar Mahesa yang terkenal di kota.


"Kamu terlihat sangat cantik hari ini, Calista. Pasti calon suamimu akan merasa bahagia dan beruntung karena bisa memiliki wanita secantik dirimu."


Kemudian Calista menyunggingkan senyuman dan mengungkapkan terima kasih pada wanita yang tak lain adalah adik dari sang ibu.


"Aunty bisa saja, tapi sepertinya memang benar. Calon suamiku akan merasa beruntung bisa menikahiku."


Saat Calista baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari sang ayah yang terlihat khawatir dan bangkit dari sofa.


"Kenapa keluarga Arya belum datang juga? Ini setengah delapan. Apa mereka semua terjebak macet?" tanya pria paruh baya yang saat ini berjalan mondar-mandir dan merasa khawatir.

__ADS_1


"Mungkin memang benar mereka terjebak macet dan datang terlambat. Kita tunggu saja setengah jam lagi. Lagipula Ini juga masih awal," ucap wanita paruh baya yang berjalan mendekati sang suami dan mengusap punggung lebar pria tersebut.


Setelah berhasil menenangkan sang suami, wanita tersebut beralih menatap ke arah Calista. "Sebaiknya kamu hubungi Arya untuk menanyakan mereka sudah sampai di mana."


Calista seketika menelan saliva karena merasa bingung harus menjawab apa mengenai ponsel Arya yang tidak aktif.


'Apa yang harus kukatakan pada orang tuaku? Apakah aku harus jujur atau menutupi hal ini?' gumam Calista yang masih menutup rapat bibir karena merasa ragu untuk menanggapi perkataan dari wanita paruh baya dengan tatapan menelisik.


Ibu Calissa saat ini menyipitkan mata ketika merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh putrinya dan memilih untuk segera memastikan. "Sayang. Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?"


Calista yang masih merasa kebingungan untuk menjawab, kini memilih untuk berdahak sejenak menormalkan perasaan dan berpikir apakah akan berbicara jujur atau berbohong pada sang ibu yang sepertinya sudah curiga.


Sementara itu, pria paruh baya yang juga ikut menatap ke arah putrinya, merasa curiga jika terjadi sesuatu. "Katakan pada Papa. Sebenarnya apa yang sedang kamu tutupi dari kami?"


Saat merasa ada sesuatu yang tidak beres dan sedang disembunyikan oleh Calista, pria paruh baya tersebut berjalan mendekat dan kini berdiri menjulang di hadapan putri kesayangan.


"Cepat jelaskan apa yang sedang kamu sembunyikan, Calista!" Mengarahkan tatapan tajam pada putri yang sangat disayangi dan dibanggakan tersebut.


Namun, masih optimis dan berpikir positif. Bahwa Arya akan datang melamar meskipun terlambat. "Kita tunggu saja sampai mereka tiba. Aku tahu jika Arya akan datang karena sangat mencintaiku. Apalagi tadi sudah membelikan cincin untuk acara malam ini."


"Jika keluarga Arya datang terlambat, Papa tidak boleh marah karena nanti hanya akan merusak acara. Atau Papa hubungi saja ayah Arya untuk menanyakan sudah sampai di mana."


Ide yang baru saja dikemukakan oleh Calista sangat disetujui oleh sang ibu yang berjalan mendekati suaminya. "Benar apa yang dikatakan oleh putri kita. Lebih baik kau segera menghubungi ayah Arya."


Namun, jawaban dari pria paruh baya tersebut yang menggelengkan kepala, seolah berhasil membuat aura ketegangan di ruangan tersebut. Bahkan suara bariton terdengar dan berhasil membuat bulu kuduk semua orang merinding.


"Tidak! Aku tidak akan menghubungi mereka karena ingin melihat seberapa besar keluarga Mahesa mematuhi janji. Jadi, lebih baik menunggu setengah jam lagi. Jika masih tidak datang juga, maka acara malam ini gagal dan dibatalkan."


Kemudian menatap ke arah Calista dengan sangat tajam. "Kamu harus melupakan Arya jika sampai itu terjadi karena masih ada banyak pria yang mau menikahimu. Bahkan para pria yang lebih hebat dari Arya."


Refleks Calista bangkit dari sofa dan berteriak untuk menanggapi ancaman dari sang ayah yang semakin membangkitkan rasa frustasi.

__ADS_1


"Tidak! Aku hanya ingin menikah dengan Arya karena sangat mencintainya. Aku yakin jika Arya sangat mencintaiku. Papa tidak boleh memaksakan kehendak, menikahkan aku dengan pria yang sama sekali tidak kucintai."


"Dasar bodoh!" sarkas pria paruh baya tersebut dengan wajah memerah karena merasa murka pada putrinya.


Sementara itu, kericuhan yang terjadi pada malam itu, membuat sanak saudara merasa kebingungan harus menanggapi seperti apa dan memilih untuk diam. Apalagi melihat raut wajah memerah dari tuan rumah yang dikuasai oleh angkara murka.


"Sayang, jangan mengandalkan emosi dan merusak acara malam ini. Belum tentu mereka tidak datang. Bisa saja terjadi sesuatu dan akhirnya terlambat." Wanita yang saat ini sibuk mengusap punggung lebar sang suami untuk menenangkan perasaan yang dikuasai oleh amarah.


Sementara itu, Calista masih diam di sofa karena merasa frustasi dengan sikap sang ayah yang seenaknya sendiri menyuruh untuk memutuskan hubungan dengan pria yang dicintai.


"Jika terjadi masalah dan datang terlambat seperti ini, seharusnya mereka yang mengatakan dengan meminta maaf. Namun, ini sama sekali tidak ada kabar apapun, Jadi tidak mungkin aku merendahkan harga diriku untuk pertanyaan seolah keluarga kita adalah pengemis."


Masih tidak bisa membuang amarah yang saat ini dirasakan, pria paruh baya tersebut mengambil air minum untuk mendinginkan rasa panas yang menjalar di tenggorokan saat dikuasai oleh kemurkaan.


Akhirnya semua orang memilih untuk mengikuti dengan cara mengambil air minum dan mendinginkan tenggorokan yang terasa kering karena dari tadi suasana di ruangan tersebut sangat tegang.


Hanya Calista yang saat ini masih sibuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada sang kekasih. Hingga menonaktifkan ponsel dan belum berkunjung datang.


Setengah jam telah berlalu dan kali ini orang tua kalisa sudah tidak bisa mentolerir lagi. "Acara hari ini dibatalkan. Lebih baik kalian semua pulang!"


Saat keheningan melanda, karena tidak ada yang menjawab ketika diusir oleh sang tuan rumah, paras anak saudara tersebut memilih untuk menuruti dan berpamitan pulang.


Sepuluh menit kemudian, suara dering ponsel sang ayah menggema dan Calista refleks menoleh. "Mungkin itu adalah telpon dari orang tua Arya, Pa."


Namun, pria yang saat ini masih duduk di sofa dengan wajah memerah tersebut, tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat mengeluarkan ponta dari sagu celana.


Benar apa yang dikatakan oleh Calista, bahwa ayah Arya menelpon. Namun, merasa jika semuanya sudah terlambat dan tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun.


"Semuanya terlambat, jadi tidak perlu diangkat karena acara pertunangan sudah dibatalkan."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2