Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Hanya seorang ibu rumah tangga


__ADS_3

Putri saat ini sudah mengikuti para perawat yang membawa mertuanya menuju ke IGD dan ia merasa sangat khawatir ada keadaan tiap paruh baya tersebut yang tiba-tiba mendapatkan serangan jantung.


Ia bahkan saat ini sudah melihat jika mertuanya ditangani oleh dokter dan bulir air mata membasahi wajahnya.


"Pa, kenapa harus jadi seperti ini? Papa harus kuat karena tuan Aldiano bahkan sudah bisa menerima semuanya dan menjalani dengan ikhlas semua cobaan dari Tuhan. Apa yang harus ku katakan padanya, ya Allah."


Putri bahkan saat ini tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Putra yang banyak mendapatkan cobaan hidup, ditambah satu lagi masalah mengenai sang ayah yang terkena serangan jantung.


Ia sangat mengkhawatirkan keadaan mertuanya dan sekaligus sang suami. 'Bagaimana jika tuan Aldiano memilih menyerah dan berakhir bunuh diri karena tidak kuat dengan cobaannya?' gumam Putri yang saat ini benar-benar merasa sangat khawatir jika apa yang ditakutkan benar-benar terjadi.


Hingga ia jika hari ini adalah hari paling terberat sepanjang sejarah hidupnya. Bahkan Ia berpikir jika cobaannya tidak seberat yang dilakukan dialami oleh Aldiano saat ini.


"Ya Allah, berikan kekuatan pada Tuan Aldiano agar tidak putus asa dan menyerah setelah mengetahui jika papanya mengalami serangan jantung," lirih Putri yang saat ini tidak boleh berada di dalam dan disuruh keluar saat dokter bertugas.


Akhirnya ia menunggu di depan IGD dengan sibuk merapal doa. Ia bahkan saat ini tidak bisa duduk tenang dan memilih untuk berdiri tepat di depan pintu ruangan yang selalu menjadi tujuan utama orang-orang yang mengalami masalah kesehatan yang harus segera ditangani.


Saat ia masih sibuk mendoakan mertuanya agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk dari ini, seketika menoleh ke arah belakang begitu mendengar suara bariton dari seseorang yang sangat dihafalnya.


"Putri!" teriak Aldiano yang saat ini berada di kursi roda dan didorong oleh polisi.


Ia yang tadi memberikan keterangan pada para polisi, bisa mendengar suara teriakan Putri dan seolah sudah mengetahui apa yang terjadi, sehingga meminta bantuan pada polisi yang menginterogasinya untuk membawanya ke IGD setelah bertanya pada perawat.

__ADS_1


"Tuan Aldiano," lirih Putri dengan bola mata berkaca-kaca karena ia benar-benar tidak tega melihat mertuanya tadi terjatuh dari kursi dan tidak sadarkan diri karena serangan jantung yang dialami.


Sementara itu, Aldiano yang juga mau merah wajahnya karena khawatir pada keadaan sang ayah, gini seolah ingin mencari sebuah kekuatan dari sosok wanita di hadapannya tersebut.


"Papa pasti tidak kuat melihat apa yang terjadi padaku, sehingga sampai terkena serangan jantung. Aku benar-benar adalah anak yang tidak berguna dan durhaka padanya karena hanya bisa memberikan penderitaan," lirih Aldiano dengan suara serak yang bergetar.


Putri yang dari tadi menakutkan hal ini, seketika menyentuh pundak kokoh pria itu untuk menghiburnya agar tidak makin terpuruk.


"Anda saat ini sudah kembali ke jalan Allah dan ini semua adalah ujiannya. Anda harus kuat menjalani semua ini karena setelah berhasil melaluinya, Anda akan tersenyum bahagia suatu saat nanti." Ia bahkan beberapa kali mengusap lengan kekar di balik seragam Rumah Sakit tersebut untuk memberikan suntikan semangat agar tidak terpuruk.


Putri bahkan berusaha untuk tidak lemah atau menangis kesedu-sedu ketika mengkhawatirkan keadaan mertuanya. Ia berharap Aldiano juga kuat dan tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri hingga terpuruk dan akhirnya berdampak buruk pada kesehatan.


Namun, ia saat ini hanya fokus untuk menenangkan mental pria itu agar tidak mengalami psikis yang terguncang karena mengalami banyak masalah hidup.


Ia saat ini merasa sedikit lega karena melihat hadiahmu sudah tidak menyalahkan diri sendiri lagi, seolah nasehatnya bisa didengar dan membuatnya berharap pria itu kuat.


Kemudian mengajak pria itu untuk pindah dari depan ruangan, ke sebelah kiri yang cukup sepi dan menurunkan tubuh di kursi tunggu.


"Tuan, kita berdoa saja agar kondisi papa baik-baik saja setelah mendapatkan penanganan dari tim dokter." Ia saat ini bisa melihat pria yang duduk di kursi roda tersebut menghembuskan napas kasar dan seperti banyak beban berat yang dirasakan.


Ia bahkan saat ini berpikir jika suaminya tersebut tengah mengalami guncangan hebat dalam hidupnya, tapi berusaha kuat dan ikhlas menjalani semuanya.

__ADS_1


Aldiano saat ini sedang memikirkan banyak hal yang terjadi pada keluarganya dan juga diri sendiri. Ia sebenarnya merasa sangat lelah menghadapi cobaan bertutur-tubi yang datang menghampirinya.


Namun, ia selalu mengingat perkataan dari Putri jika jalan untuk kembali ke jalan Allah sangatlah berliku dan harus kuat menjalani semua ujiannya. Hingga selalu menjadikan pedoman jika ia merupakan salah satu orang terpilih yang harus menjalani ini semua dengan sabar dan ikhlas untuk menebus semua dosa-dosanya di masa lalu.


"Aku pasti akan mendoakan keselamatan Papa agar kembali sehat seperti sedia kala." Namun, ia terdiam beberapa saat karena ingin mengatakan sesuatu pada Putri, tapi benar-benar ragu.


"Iya, Tuan Aldiano. Kita sekarang hanya bisa berusaha sekaligus berdoa pada Tuhan agar memberikan yang terbaik untuk Papa. Anda pun juga harus kuat dan tidak putus asa karena saat ini Papa juga membutuhkan Anda, jadi tolong jangan menyerah dengan semua ini." Ia kembali mengusap penggunaan dari pria yang terlihat muram wajahnya.


Ia sebenarnya ingin menjalani apa yang ada di otak pria itu saat ini, tapi saat ini otaknya seperti tidak bisa bekerja dan harus membuatnya berusaha berpikir keras untuk mencari tahu jawabannya.


Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar perkataan dari pria di hadapannya tersebut yang dianggapnya sangat tidak masuk akal.


"Putri, saat ini Papa mengalami serangan jantung dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi karena tidak mungkin papah bisa sembuh dalam waktu dekat, sehingga kursi kepemimpinan saat ini kosong dan aku khawatir akan dimanfaatkan oleh orang-orang jahat."


"Aku pun tidak bisa mengambil alih karena harus mempertanggungjawabkan perbuatanku di penjara. Apakah kamu mau mengambil alih kepemimpinan perusahaan?" Akhirnya Aldiano mengungkapkan apa yang ada di otaknya saat ini karena ia sudah berpikir jauh tentang semua hal yang berkaitan dengan sakitnya sang ayah.


Seketika Putri yang merasa jika apa yang dikatakan oleh Aldiano sangat tidak masuk akal, sehingga hanya tertawa terbahak-bahak dengan miris.


"Aku hanya seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai tukang masak di catering, bukan seorang CEO perusahaan karena malah akan membuat perusahaan bangkrut jika berada di tanganku."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2