Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tiba di tempat baru


__ADS_3

Wanita yang saat ini masih mencoba untuk menenangkan Putri agar bersemangat dan tidak putus asa ketika tidak mempunyai siapapun sebagai tempat bersandar.


Meskipun sebenarnya sangat ingin mengetahui cerita wanita itu mengenai masalah yang dialami, tetapi tidak akan bertanya karena itu adalah sesuatu yang bersifat pribadi.


Jika Putri memilih untuk tidak menceritakan masalah yang dialami padanya, juga tidak akan pernah bertanya apapun karena mengetahui bahwa rasa sakit seseorang akan sembuh jika tidak membahas ataupun mengungkit masalah yang terjadi.


"Terima kasih. Apakah aku boleh menganggapmu saudara perempuan? Karena saat ini aku tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini." Putri yang merasa terharu dengan kebaikan wanita itu, membersihkan bulir air mata di wajah dan berjanji tidak akan menangis lagi mulai detik ini dan melupakan pria yang telah mengkhianati cinta mereka dengan memilih bersama wanita lain.


"Tentu saja. Kamu bisa memanggilku kakak perempuan atau apapun sesukamu. Oh ya, sekarang kamu sudah sampai mana? Biar aku bersiap untuk menjemputmu di terminal. Kamu tidak membawa banyak barang, kan?"


Putri saat ini menatap ke arah jalan di kanan kiri yang sudah memasuki kawasan perkampungan. Tidak seperti tadi yang hanya ada perbukitan. Kemudian membaca salah satu banner yang menyebutkan daerah.


"Aku sudah tiba di kawasan pusat oleh-oleh Sarita. Apakah masih jauh dari tempatmu?" Putri kemudian mendengar suara seorang pria yang di loudspeaker dengan memberikan informasi bahwa sebentar lagi akan tiba di terminal dan disuruh untuk bersiap, agar tidak ada barang yang tertinggal di dalam bus.


"Ternyata sudah hampir tiba di terminal."


"Iya, aku tahu karena lokasi yang kamu sebutkan memang cukup dekat dengan area terminal bus. Kamu nanti tunggu saja di salah satu warung makanan. Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 5 jam, pasti kamu lapar. Jadi, daripada hanya diam menungguku datang, lebih baik makan dulu."


"Oke. Aku nanti akan memberimu lokasi terkini saat sudah tiba di terminal. Sekali lagi terima kasih dan hati-hatilah dalam perjalanan."


Putri kemudian mematikan sambungan telepon setelah suara wanita tersebut mengiyakan. Kemudian beralih menatap bayi yang masih tertidur sangat pulas dan tak lupa ritual rutin untuk mencium kening malaikat kecilnya tersebut.


"Kita hampir sampai di tempat tujuan, Putraku. Kita akan selamanya menghabiskan waktu di kota ini dan melupakan semua kesedihan yang ditorehkan oleh papamu."


Pergerakan putranya seolah mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan dan beberapa saat kemudian mengerjap beberapa kali dan perlahan membuka mata.

__ADS_1


Putri kini menyunggingkan senyuman ketika melihat wajah menggemaskan putranya tersebut ketika bangun tidur dan langsung tersenyum. Seolah menyambutnya dan mengobati semua luka yang dirasakan saat ini.


"Putraku yang sangat tampan sudah bangun? Anak laki-laki Mama sangat pintar karena sama sekali tidak rewel saat dalam perjalanan. Mama sangat sayang Xander," ucap Putri yang saat ini sudah kembali mencium kening putranya.


Bahkan tak lupa memeluk erat tubuh mungil di gendongan. 'Terima kasih karena sudah hadir dalam kehidupan Mama. Mungkin jika tidak ada Xander, sudah mengakhiri hidup karena tidak kuat menghadapi semua beban berat ini.'


Putri hanya bisa mengeluh di dalam hati sambil mendekat erat malaikat kecilnya tersebut untuk mencari sebuah ketenangan hati. Berharap akan bisa membahagiakan putra satu-satunya yang menjadi pusat dunianya.


'Maafkan Mama karena kau tidak akan pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, tapi berjanji akan bahagia dan tidak akan pernah kekurangan. Mama akan memberikan yang terbaik untukmu, Putraku.'


Saat ini, Putri memeriksa barang bawaan, agar tidak ada yang tertinggal sesuai dengan pesan pria yang tadi berbicara dengan pengeras suara untuk mengingatkan para penumpang.


Merasa tidak ada yang tertinggal, Putri memilih terakhir untuk turun karena tidak ingin berdesakan dengan para penumpang yang lain. Apalagi posisinya tengah menggendong bayi.


Sementara Putri menunggu hingga semua orang sudah turun dari bus. Begitu penumpang mulai berkurang, Putri mulai bangkit dari kursi.


Sambil menggendong Xander dan membawa tas selempang, Putri kini sudah turun dari bus dan menunggu tas yang berada di dalam bagasi.


'Aku tidak kuat membawa tasnya karena sangat berat. Apakah ada orang yang bisa membantuku membawakan tas?' gumam Putri yang saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling area terminal untuk mencari bantuan.


Tidak ingin salah meminta tolong dan berakhir dengan orang jahat yang malah akan, ia bertanya pada pria yang baru saja menampilkan tas dari bagasi mobil.


"Apakah Anda bisa membantuku untuk membawakan tas ini sebentar saja menuju ke warung depan? Nanti saya akan membayar."


Pria yang saat ini menoleh dan menatap wajah wanita dengan paras cantik dengan menggendong bayi tersebut merasa kasihan. Apalagi saat ini akan beristirahat selama setengah jam sebelum melanjutkan perjalanan untuk mengangkut penumpang lagi.

__ADS_1


"Baiklah. Aku juga ingin makan karena sangat lapar. Kamu ikut saja denganku."


"Terima kasih," sahut Putri yang merasa sangat senang karena pria itu bersedia membantu membawakan tas berisi pakaian dan beberapa peralatan lain.


Putri saat ini berjalan mengekor pria dengan tubuh tinggi kurus di hadapannya tersebut sambil mengedarkan pandangan di area terminal. Berada di tempat baru yang sangat asing, seolah membuat Putri merasa ragu dan khawatir jika harapan tidak seindah ekspektasi.


Ada kekhawatiran ketika mengingat bahwa saat ini ingin menyembuhkan luka di tempat baru sambil membesarkan Xander. 'Apakah aku bisa hidup di sini hanya bersama dengan putraku?'


Saat ia berkutat dengan pikiran yang dipenuhi oleh kekhawatiran, mendengar suara bariton dari pria yang membantu membawakan tas sudah masuk ke dalam warung yang berada di kawasan depan terminal.


"Kamu mau makan apa?" tanya pria dengan seragam berwarna orange dan baru saja menurunkan tas besar yang dibawa ke atas kursi.


"Biar aku pesan sendiri saja," jawab Putri yang saat ini langsung berjalan mendekati seorang wanita pemilik warung.


Sementara pria itu langsung menganggukkan kepala dan memesan makanan, lalu mendaratkan tubuh di kursi kosong.


Sementara Putri saat ini tengah mengamati menu yang berjajar di etalase kaca tersebut untuk memilih makanan apa yang ingin dinikmati. Putri menatap cukup lama karena ingin mengetahui seperti apa berjualan makanan.


Seolah ingin mencari tahu bagaimana cara menyusun makanan yang menarik seperti yang dilakukan oleh pedagang tersebut. 'Sepertinya aku akan memakai konsep seperti ini saat nanti berjualan makanan.'


Putri saat ini sudah mempunyai konsep yang akan dijadikan pilihan ketika berjualan makanan, yaitu menata dengan sangat menarik seperti restoran Padang yang mempunyai menu utama rendang dan menjadi makanan paling enak nomor satu di negaranya.


"Saya pesan nasi dengan lauk rendang dan jeruk hangat saja. Sekalian ingin membayar makanan pria itu. Jadi, totalnya berapa, Nyonya?" Saat Putri hendak mengeluarkan dompet dari dalam tas, mendengar suara dari seorang wanita yang berteriak-teriak di sekitar area terminal yang tak jauh dari warung tempat makan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2