Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mencekik leher


__ADS_3

Sementara Arya yang belum siap mendapatkan serangan tiba-tiba, mengerjap beberapa kali. Hingga insting sebagai makhluk buas mulai beraksi membalas semua yang dilakukan oleh Calista.


Seolah keduanya tidak memikirkan apapun selain bisa memuaskan diri dengan bermesraan di ruangan pribadi yang sama sekali tidak ada orang yang bisa melihat.


Namun, indra pendengaran mereka menangkap suara pintu terbuka yang tiba-tiba karena sama sekali tidak ada ketukan.


Calista yang sudah bisa menebak siapa yang datang, seolah tidak peduli dan tetap menikmati sesuatu yang dikirimkan oleh Arya.


Meskipun merasakan jika pria itu sudah menghentikan ciuman karena pintu yang tiba-tiba terbuka dan sudah dipastikan bahwa sang pengacara yang tadi dikatakan arogan tersebut sudah datang.


Namun, seketika perasaan Calista seperti terbang tinggi ke angkasa setelah indera pendengaran menangkap suara serak dan menyayat hati dari seseorang.


Arya yang baru saja menarik diri dari Calista, berniat untuk menoleh ke arah pintu, tetapi suara wanita yang sangat dihafal, kini membuat rasa bersalah seketika menyeruak di dalam hati.


'Putri? Bagaimana mungkin? Putri datang ke sini bersama Amira Tan? Sialan! Wanita arogan itu sepertinya ingin menjebakku,' sarkas Arya yang seketika menoleh ke arah pintu dan melihat sosok wanita yang berpenampilan sangat berbeda berdiri tak jauh dari pandangan.


Ingin sekali menyebut nama wanita yang masih berstatus sebagai istrinya, tetapi lidahnya terasa kering dan tidak bisa melakukan itu. Arya menyadari bahwa tekadnya untuk melupakan rasa yang pernah dimiliki untuk Putri sangat besar.


Jadi, tidak ingin menyebut nama wanita yang dianggap hanyalah seorang pengkhianat tersebut.


Bisa dilihat bahwa raut wajah terluka, kini terlukis sangat jelas dari sosok wanita yang memakai setelan berwarna hitam dan terlihat sangat elegan. Mungkin jika hubungan mereka baik-baik saja, Arya akan langsung memuji penampilan Putri hari ini.


Namun, semua itu tidak mungkin dilakukan setelah apa yang dialami saat ini. Arya hanya diam dengan bibir terkatup rapat ketika mendengar suara bergetar dan yang menandakan Putri sangat terluka.


"Arya?" Putri yang tadinya berbinar saat berpikir bahwa sang suami akan merasa senang dengan kedatangan yang memberikan kejutan, seketika merasa dunianya hancur begitu melihat pria yang dicintai dan dipercaya tengah bermesraan dengan wanita lain.

__ADS_1


Bahkan bola matanya seketika berkaca-kaca dan beberapa bulir berjatuhan menghiasi wajah yang tadinya memakai make up agar tidak pucat saat menemui sang suami yang sangat dirindukan.


Namun, hal yang selama ini paling ditakutkan olehnya telah menjadi kenyataan dan seketika mengingat tentang kutukan dari sang suami yang mengatakan bahwa selamanya tidak akan pernah hidup bahagia karena menghianati ikatan suci pernikahan.


Hati Putri bagaikan kaca yang pecah berantakan dan tidak mungkin bisa disatukan kembali. Merasa dunianya seketika runtuh ketika tidak memiliki pegangan hidup. Namun, ia tidak ingin kehilangan pria yang membuatnya memilih meninggalkan Bagus.


Dengan mengusap kasar bulir air mata yang berada di pipi putihnya, Amira Tan tidak ingin menunjukkan sifat lemah di depan wanita yang telah menjadi penyebab hancurnya rumah tangga yang dibina.


"Arya, apa yang kamu lakukan?" teriak Amira Tan dengan wajah yang sudah terlihat sangat mengenaskan Karena antara kemarahan dan kesedihan telah bercampur menjadi satu.


Putri mungkin akan menjadi sosok wanita yang sangat lemah ketika berada di dalam kamar sendirian, tetapi tidak akan membiarkan ada orang yang menganggap seperti itu, apalagi wanita penggoda yang dianggap telah merebut Arya.


Calista seketika bangkit dari pangkuan sang kekasih. Apalagi saat Arya hendak bangkit berdiri.


"Aku ingin menyelesaikan masalah hari ini. Apakah kamu tidak keberatan keluar dari ruangan ini?" Arya tidak ingin ada aksi perkelahian antara dua wanita yang sama-sama memiliki hubungan dengannya.


"Baiklah. Aku akan pergi dan membiarkan kalian berbicara dengan kepala dingin untuk memutuskan jalan keluar." Calista tersenyum simpul dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.


Tentu saja melewati kakak beradik yang sangat tidak disukai. Senyuman penuh kemenangan tercipta sangat jelas oleh Calista saat ini dan ditunjukkan untuk Putri.


Berharap wanita itu tidak lagi berani mengharapkan Arya lagi.


Putri yang melihat Arya, tidak bisa menerima jika pria yang sangat dicintai bersikap lembut pada wanita itu.


Refleks ia langsung berjalan cepat ke arah wanita yang sangat dibenci dan menarik rambut hingga menimbulkan suara kesakitan.

__ADS_1


"Dasar wanita murahan penggoda suami orang! Arya adalah suamiku, tahu malu dengan menggoda dan bermesraan di kantor. Kau hanyalah seorang seorang wanita murahan yang harus dibasmi dari dunia ini!" sarkas Putri dengan berteriak sangat kencang karena merasa emosi sudah membakar habis dirinya ketika melihat satu-satunya harapan di dunia ini telah mengkhianati kepercayaan.


"Aku akan membunuhmu!" Putri yang masih menarik rambut wanita itu, beralih untuk menurunkan tangan karena mengincar leher yang ternyata semakin membuatnya dihancurkan sampai menjadi abu.


Ia saat ini melihat ada kiss mark di leher wanita yang sudah mencari kesakitan, tetapi sama sekali tidak membalas.


Apapun yang terjadi, Putri bertekad untuk menghabisi wanita itu karena tidak hanya berciuman seperti yang dilihat, tetapi juga melakukan hal yang lebih dari itu dan membuat hatinya benar-benar hancur dan terluka.


Sementara itu, Amira Tan sebenarnya merasa tidak tega melihat Putri berteriak seperti orang yang kesetanan. Namun, berpikir bahwa mengetahui kenyataan pahit lebih cepat, akan lebih baik dan berharap waktu yang akan menyembuhkan semua luka itu.


Amira Tan bahkan tidak ingin menghentikan apa yang dilakukan oleh Putri ketika meluapkan amarah.


Namun, melihat ke arah Arya yang memilih untuk menghentikan dengan cara yang tidak terduga sama sekali.


Arya merasa bersalah pada Putri dan juga tidak tega pada Calista yang menjadi korban amukan.


Buru-buru ia berjalan mendekati Putri dan segera menghentikan perbuatan wanita yang sudah menarik dengan sangat kuat dan beralih ingin mencekik leher Calista.


"Hentikan! Jangan bersikap buruk di kantor ini dan mempermalukanku!"


Rasa terluka semakin dirasakan oleh Putri begitu mendengar apa yang diungkapkan oleh Arya. Bahkan pria itu sama sekali tidak membicarakan mengenai perasaan yang terluka tetapi hanya memikirkan nama baik.


Merasa bahwa satu-satunya pegangan hidup telah memilih wanita lain, Putri semakin merasa murka dan berniat untuk menghabisi wanita itu dengan semakin kuat mencekik leher.


Calista saat ini memang merasa kesakitan ketika rambut ditarik dengan sangat kuat dan juga leher dicekik sampai kesulitan bernapas. Namun, sama sekali tidak ingin membalas karena ingin memperlihatkan pada Arya, bahwa wanita itu sangat liar dan juga jahat.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2