
Sementara itu, Arya sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari semua orang ketika menggendong Calista keluar dari Club dan mengatakan bahwa itu adalah kekasihnya yang sedang merajuk.
Apalagi tadi beberapa bodyguard di sana menghalangi jalannya karena berpikir akan menculik seorang wanita yang sedang berusaha untuk dilepaskan.
"Ini adalah urusan sepasang kekasih, Jadi kalian tidak boleh ikut campur!" sarkas Arya dengan tatapan penuh kilatan amarah pada dua pria berbadan gempal yang berada di pintu keluar saat hendak menghalangi.
Akhirnya dua pria tersebut kini memilih untuk memberikan jalan dan mempercayai perkataan pengunjung tersebut.
Sementara itu, Calista yang kini memilih untuk diam dan tidak bergerak lagi, membiarkan Arya berjalan menuju ke arah parkiran.
'Ternyata tidak sulit membuatmu takluk padaku, Arya. Aku dulu sangat bodoh karena mencintai seorang pria hingga gila, tetapi malah ditinggalkan.'
'Sekarang, aku akan membuatmu mencintaiku dan melupakan wanita bernama Putri itu,' gumam Calista yang saat ini merasakan tubuhnya diturunkan oleh Arya begitu berada di dekat mobil berwarna hitam.
Arya yang tadi merasa marah pada Calista, kini berusaha untuk menahan diri, agar tidak meluapkan amarah. "Kita perlu berbicara di tempat yang tenang."
"Bukan tempat dengan suara yang memekakkan telinga dan harus bicara dengan berteriak. Di mana mobilmu?" Arya mengedarkan pandangan ke arah parkiran untuk mencari mobil berwarna merah yang merupakan milik Calista.
"Aku ke sini naik taksi karena berpikir kamu membawa mobil dan bisa mengantarku pulang saat mabuk." Calista menjawab seadanya dan masih bersikap ketus.
Mengerti apa yang harus dilakukan, kini Arya memilih untuk membuka pintu mobil. "Masuklah! Kita ke restoran saja."
Calista tidak langsung menuruti perintah dari pria yang masih berdiri di sebelah karena berpura-pura untuk mempertimbangkan.
Arya yang melihat Calista masih terdiam membisu, memicingkan mata. "Kenapa tidak masuk? Apa takut aku akan memperkosamu lagi?"
Refleks Calista mengarahkan pukulan pada lengan kekar Arya. "Apa kamu berpikir aku akan membuatmu bisa melakukannya lagi karena mengajakmu ke sini? Aku sebenarnya sangat tidak nyaman dengan sikapmu yang berubah."
__ADS_1
"Aku ingin kita kembali seperti dulu. Jika kejadian malam itu membuatmu membenciku, lebih baik aku pergi dan anggap kita tidak pernah melakukan apapun. Aku tidak nyaman berada di sampingmu saat kamu merasa bersalah. Kamu tenang saja karena aku tidak akan menuntut pertanggungjawaban."
"Apalagi memaksa seorang pria yang sama sekali tidak mencintaiku untuk menikah. Jadi, lupakan semua yang terjadi di apartemen dan kita bisa berteman seperti dulu tanpa merasa terbebani satu sama lain." Calista saat ini berakting dengan baik untuk semakin membuat bimbang Arya.
Dengan harapan besar bahwa suatu saat nanti, Arya jatuh cinta padanya tanpa paksaan karena mengetahui pria itu tidak menyukai perjodohan.
Sementara itu, Arya merasa bingung dengan hal yang saat ini diungkapkan oleh Calista. Entah mengapa, ia malah merasa iba pada wanita di hadapan.
"Apa kamu serius? Bukankah aku sudah merugikanmu? Apakah tidak terpikir olehmu untuk marah padaku dan memintaku untuk menikahimu sebagai bentuk pertanggungjawaban?"
Calista terdiam karena otaknya saat ini tengah merangkai kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Arya. "Mungkin semua wanita akan melakukannya ketika mengalami hal seperti itu."
"Namun, aku tidak ingin menikah dengan seorang pria yang terpaksa bertanggungjawab karena keadaan. Apalagi pria itu adalah kamu yang selama ini kuanggap sebagai teman baik."
Setelah mengatakan sebuah kebohongan untuk mengelabui Arya, Calista memilih untuk masuk ke dalam mobil dan menatap pria yang masih belum beranjak dari tempat berdiri.
"Aku sangat lapar. Bukankah kamu mengajakku untuk ke restoran? Cepat masuk!" Calista kemudian menutup pintu mobil dan kembali tersenyum penuh kemenangan begitu melihat Arya berjalan memutar dan duduk di balik kemudi.
Kemudian Arya menyalakan mesin mobil dan mengemudikan meninggalkan area Club malam tersebut menuju ke restoran.
'Apa Calista masih merasa nyaman berteman denganku setelah aku memaksanya melayaniku? Apa ia terbiasa melakukan hubungan seperti ini dengan para pria?' gumam Arya yang tiba-tiba merasa penasaran dengan masa lalu Calista.
Saat mengemudi, Arya sekilas melirik ke arah Calista yang dari tadi diam dan membuat suasana di dalam mobil terasa canggung.
"Bagaimana aku bisa bersikap biasa padamu saat kamu sendiri berubah pendiam seperti ini? Jika biasanya selalu banyak bicara dan tidak bisa diam, tetapi sekarang adalah kebalikannya."
Calista kini refleks menoleh ke arah Arya dan menanggapi dengan kalimat ambigu. "Aku sedang memikirkan sesuatu."
__ADS_1
"Memikirkan apa?" Arya kembali merasa penasaran dengan semua hal yang berhubungan mengenai Calista.
Calista bersorak kegirangan karena usahanya tidak sia-sia untuk membuat perhatian Arya jatuh padanya. "Apakah saat ini kamu menganggapku adalah seorang wanita murahan? Apalagi aku tidak menuntut pertanggungjawaban darimu."
"Astaga! Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu saat aku hanya diam saja dari tadi? Aku masih berusaha untuk membiasakan diri karena jujur saja, merasa sangat aneh dengan hubungan kita." Arya berusaha untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Meskipun sebenarnya pertanyaan dari Calista mewakili apa yang ada di pikiran beberapa saat lalu. 'Calista seperti seorang peramal saja karena bisa membaca pikiranku.'
Saat ia baru saja bergumam sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan perasaan ketika menghadapi Calista, kembali dikejutkan dengan cerita yang baru saja didengar.
Calista mengambil napas teratur sebelum membuka suara. "Aku bukan wanita perawan yang menuntut pertanggungjawaban ketika diperkosa. Aku dulu mempunyai seorang kekasih yang sangat kucintai. Bahkan rela melakukan apapun demi pria itu."
"Tanpa mengetahui bahwa ia hanyalah seorang pria berengsek yang memanfaatkan aku." Akhirnya Calista berbicara jujur dan tidak menyembunyikan masa lalu kelam yang selama ini dipendam.
Sementara itu, Arya masih terdiam dan tidak berkomentar karena sebenarnya tidak mengetahui bahwa Calista sudah tidak perawan. Apalagi saat itu ia mabuk dan tidak mengingat ketika bercinta karena menganggap telah bersama dengan Putri.
"Kamu bahkan jujur padaku untuk membuka semuanya. Aku bahkan tidak tahu karena sudah mabuk. Jadi, tanpa kamu bercerita, aku sama sekali tidak mengetahui hal itu."
"Aku menceritakan rahasia besar yang selama ini kusimpan di dalam hati karena berharap kau tidak merasa bersalah. Jadi, hubungan kita akan kembali seperti dulu. Meskipun aku mencintaimu, tetapi tidak akan pernah memaksamu untuk membalas perasaanku."
"Aku bukan pengemis yang rela melakukan apapun dengan bisa mendapatkan balasan dari seorang pria. Aku merasakan bagaimana rasanya terlalu mencintai seorang pria tanpa mendapatkan balasan setimpal dari ketulusan."
"Benar kata banyak orang, lebih baik dicintai daripada mencintai. Jadi, aku tidak ingin terluka untuk kedua kalinya, Arya. Jika kamu tidak mencintaiku, mana mungkin memaksamu karena melukai harga diriku."
Calista masih mengalihkan perhatian dari Arya karena sedang menilai apa yang dirasakan oleh pria itu setelah mengungkapkan masa lalu.
Sementara itu, Arya saat ini masih terdiam karena bingung harus berkomentar apa. 'Jika wanita lain, pasti akan memanfaatkan situasi ini untuk memeras ataupun memaksaku untuk bertanggungjawab dengan menikahi.'
__ADS_1
'Namun, Calista sangat berbeda dari wanita lain karena tidak melakukan itu dan memilih untuk membuatku merasa nyaman dengan cara membuka luka lama yang dirasakan,' gumam Arya yang kini masih merasa heran dan tidak percaya dengan sikap yang ditunjukkan oleh Calista.
To be continued...