Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Aku tidak bisa


__ADS_3

"Aku tidak ingin membenarkan apa yang kau katakan karena sangat berharap bisa bertemu dengan Putri suatu saat nanti. Entah itu di mana saja, aku ingin meminta maaf padanya karena belum sempat melakukan itu." Amira Tan kembali dikuasai oleh rasa bersalah dan sekarang sudah menangis dengan bulir air mata yang membasahi wajah.


Meskipun tidak ada suara yang terdengar saat ini, tetapi tubuhnya bergetar hebat saat mengkhawatirkan keadaan Putri dan juga keponakannya yang masih beberapa bulan.


Jika selama ini berusaha untuk tidak terlihat lemah di depan siapapun, termasuk Noah, tapi kali ini tidak bisa melakukan hal itu karena bulir air mata jatuh tanpa seizinnya. Hingga rasa sesak semakin dirasakan ketika membayangkan Putri harus berjuang sendiri di tempat asing untuk membesarkan Xander.


Jika dari tadi Noah menahan diri untuk tidak memeluk tubuh Amira Tan karena khawatir akan salah paham, tetapi melihat keadaan wanita itu yang bergetar hebat karena tengah menahan suara tangis agar tidak keluar, sehingga membuatnya langsung beranjak dari sofa.


Noah berjalan mendekati Amira Tan dan memeluk erat tubuh wanita itu begitu mendaratkan dirinya di sebelah kiri. Begitu melingkarkan tangan untuk mendekat erat dan menyembunyikan wajah wanita itu di dada, Noah sibuk mengusap lembut lengan Amira Tan.


"Jangan menahan suara tangismu karena itu jauh lebih menyakitkan dan menyesakkan. Keluarkan semuanya karena itu akan lebih membuatmu tenang dan tidak lagi merasa tersiksa batin karena memikirkan Putri dan juga keponakanmu."


Noah tidak berhenti menghibur dan sibuk menenangkan Amira Tan yang saat ini masih menahan diri dan tidak melepaskan suara tangisan di ruangan itu. Seolah merasa khawatir ada yang mendengar ataupun malu padanya.


Sementara itu, Amira Tan yang merasa sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk menahan tangis karena perbuatan Noah yang dari tadi menghibur, malah membuatnya meledakkan semua yang dirasakan saat ini.


Ia seketika menangis tersedu-sedu diperlukan pria dengan dada bidang dan bahu lebar tersebut. Merasa seperti terlindungi dalam dekapan tangan dengan buku-buku kuat yang masih mengungkung dalam kuasa.


Seolah tidak akan pernah melepaskan saat masih merasa bersedih ketika memikirkan Putri dan juga Xander.


Suara tangisan Amira Tan memecah keheningan di ruangan kerja itu dan Noah tidak berhenti untuk mengusap lembut lengan wanita yang kini menangis tersedu-sedu di pelukan.


Bukan merasa senang karena Amira Tan menangis di pelukannya, tetapi berpikir bahwa wanita itu kini sudah tidak menjaga jarak darinya dan juga menampilkan semua yang dirasakan tanpa memakai topeng seperti selama ini yang bersikap sok kuat di depan orang lain.

__ADS_1


'Amira Tan memang merupakan seorang wanita hebat dan tangguh ketika berada di pengadilan dan terlihat sangat menakutkan saat melawan semua lawan di depan hakim, tetapi kini berubah sangat lemah karena hanyalah seorang kakak perempuan yang mengkhawatirkan adik perempuan.'


'Akhirnya kamu mau melepaskan semua beban yang selama ini serasa mencekik lehermu. Dengan begini, aku berharap perasaanmu menjadi lebih baik. Mungkin ada satu hal yang tidak pernah kukatakan dan hanya bisa memendam di dalam hati, bahwa sangat ingin kita memiliki hubungan lebih dari sekedar bos dan bawahan, serta teman.'


Noah sangat berharap jika Amira Tan mau membuka hati dan memiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Jujur saja ia setiap malam tidak bisa melupakan momen percintaan mereka di atas ranjang.


Meskipun ketika di kantor berakting seolah tidak terjadi apapun, tetapi begitu keheningan malam menjelang di ruangan kamar, selalu saja memikirkan wanita itu.


Sebenarnya ia jauh lebih tersiksa berada di dekat wanita itu dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.


Namun, tidak bisa mengungkapkan karena melihat Amira Tan yang setiap hari murung dan berpikir jika mengungkapkan hal itu, akan menambah beban wanita yang sedang bersedih karena dikuasai oleh rasa bersalah.


Amira Tan yang tadi hanya diam di pelukan Noah karena mencari sebuah ketenangan, tetapi kali ini memilih untuk melepaskan semua dan memeluk erat pinggang kokoh pria itu.


Amira Tan bahkan berbicara dengan suara serak dan tidak melepaskan pelukan, seolah ingin mencari kekuatan dengan cara seperti itu.


Noah saat ini melakukan hal yang sama dengan semakin memberatkan pelukan dan berharap Amira Tan mendapatkan ketenangan.


"Tenanglah, Amira Tan. Aku sangat yakin jika Putri tidak berpikir seperti itu. Hanya saja, ingin mencari sebuah ketenangan dengan pergi jauh dari sini dan membuka lembaran baru. Putri saat ini pasti merasa tenang karena tidak mendapatkan luka di tempat baru dan berusaha untuk menyembuhkan diri."


"Dia mungkin belum bisa melupakan perselingkuhan Arya, tapi pasti menyadari bahwa apa yang kamu lakukan itu demi kebaikan dan tidak ingin saudara perempuanmu menderita karena dikhianati oleh suami."


Kalimat Noah memang berhasil membuat perasaan Amira Tan sedikit lebih baik dan berusaha untuk berpikir seperti pria itu. "Benarkah?"

__ADS_1


Noah langsung menganggukkan kepala untuk membenarkan pertanyaan Amira Tan saat ini. "Ya, aku sangat yakin dan bisa menjaminnya. Putri pasti bahagia di tempat baru dan menemukan kehidupan lebih baik di sana. Kamu pun juga harus seperti itu, Amira Tan."


"Seperti itu bagaimana?" sahut Amira Tan dengan suara serak dan masih tidak menaikkan pandangan untuk menatap pria yang masih mengeratkan tangan untuk memeluk erat.


"Kamu juga harus hidup bahagia dan membuang rasa bersalah yang selama ini menyiksamu. Apakah kamu tidak ingin berbahagia?" Noah sebenarnya ingin sekali mengatakan agar Amira Tan mau menerimanya untuk bisa membahagiakan hidup wanita itu.


Namun, seolah lidah kelu untuk mengungkapkan perasaan. Hingga perkataan Amira Tan saat ini membuatnya membulatkan mata dan terkejut.


"Aku tidak akan pernah hidup bahagia sebelum mengetahui keberadaan Putri. Bahkan selamanya tidak akan menikah sebelum melihat dia berbahagia. Aku selalu merasa tidak berhak bahagia untuk hidup di atas penderitaannya."


Amira Tan kemudian bergerak untuk melepaskan diri dari pelukan pria yang berhasil membuatnya merasa sangat nyaman. "Jadi, jangan menungguku. Aku tahu bahwa kamu ingin mengatakan hal itu padaku, tapi tidak bisa menerimu. Carilah wanita lain jika kamu ingin menikah."


Amira Tan yang saat ini merasa perasaan jauh lebih baik setelah menangis seperti yang disarankan oleh pria dengan wajah terkejut itu. Kini menatap mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri.


"Jam istirahat telah usai. Kembalilah bekerja karena aku pun ada banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan." Amira Tan bangkit berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke arah kursi kerja.


Noah yang merasa seperti menjadi pria tidak berguna karena tidak diinginkan oleh wanita yang bahkan sudah bercinta dengannya, terlihat sangat frustasi dan juga sekaligus marah pada diri sendiri.


Tidak bisa menahan diri setelah mendapatkan penolakan dari Amira Tan, Noah seketika bangkit dari tempat duduk dan berjalan cepat menghampiri wanita yang saat ini ada di hadapannya dan menarik pergelangan tangan hingga berbalik menghadapnya.


"Aku tidak bisa!" Noah mengarahkan tatapan tajam dan langsung mendekatkan wajah untuk membungkam bibir wanita yang baru saja menyuruh untuk mencari wanita lain.


Sementara itu, Amira Tan yang merasa sangat terkejut, kini membulatkan mata begitu Noah tiba-tiba menciumnya dengan sangat brutal.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2