Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Sarang rubah betina


__ADS_3

"Apa Anda mengetahui tempat kost murah di sekitar sini?" Pria dengan mengenakan kemeja berwarna putih dan lengan dilipat sampai siku tersebut masih tidak menyerah untuk bertanya, meskipun pada wanita lain dan bukan seseorang yang tadi marah-marah karena kesal dengan sebutan nyonya.


Namun, merasa kecewa atas jawaban wanita dengan paras cantik tersebut.


"Aku baru beberapa hari ini tinggal di sini. Jadi, tidak tahu informasi mengenai kamar kos yang murah. Tanya saja padanya," ucap Putri yang saat ini mengarahkan dagu pada Mira. "Kamu tahu atau tidak? Katakan saja karena kasihan mereka."


Dua pria yang masih berdiri di hadapan para wanita tersebut hanya diam karena jika membuka suara, takut kembali membuat amarah wanita itu.


Sementara itu, Mira hanya diam dengan menatap tajam dua pria yang sebenarnya membuatnya ingin terbahak karena menampilkan wajah garang.


"Aku saat ini sedang tidak mood berbicara dan sangat malas untuk memberitahu meskipun mengetahui tempat kos murah."


Tentu saja jawaban bernada sinis tersebut seketika membuat dua pria muda tersebut menelan saliva dengan kasar dan saling. Seolah mereka saling memberikan kode harus menanggapi bagaimana.


Tidak tahu harus berkomentar apa karena khawatir salah berbicara dan kembali menyulut api, sehingga memilih untuk diam saja dan mendengar suara dari wanita dengan paras cantik tersebut seolah angin segar bagi mereka.


Refleks Putri mencubit pinggang Mira karena merasa gemas dengan sikap wanita itu. "Sudah, katakan saja. Bukankah kamu dulu mau membantuku meskipun tidak mengenal? Kasihan mereka saat ini seperti anak ayam yang kehilangan induk karena tidak tahu harus tinggal di mana."


"Memangnya di mana tempat kos murah?" tanya Putri yang saat ini tiba-tiba berpikir bahwa sopir taksi juga tinggal di sana. "Apakah pria tadi juga tinggal di tempat kos itu?"


Refleks Mira menggelengkan kepala karena juga tidak tahu di mana sopir taksi tersebut tinggal. "Tidak. Supir taksi itu tidak tinggal di tempat kos murah yang kumaksud."


Kemudian beralih menatap dua pria yang ada di hadapannya tersebut. Dengan mengarahkan jari telunjuk, Mira seolah memberikan ultimatum sekaligus ancaman.


"Tempat itu memang murah, tetapi sangat ketat, jadi harus menaati peraturan ibu kos."


"Tidak masalah karena kami semua adalah orang yang patuh pada aturan," sahut pria tampan yang saat ini merasa jika wanita itu akan memberitahukan tempatnya.


"Kalau begitu, kalian ikut aku karena aku akan mengantarkan ke tempat kos murah." Mira kemudian beralih menatap ke arah Putri dan berbisik di dekat daun telinga wanita itu.

__ADS_1


"Aku mempunyai kamar kosong di belakang area produksi karena dulu ditempati oleh beberapa orang pekerja, tapi karena mereka sudah menikah, memilih untuk mengontrak rumah sendiri."


Seketika Putri membulatkan kedua mata begitu mendengar semua yang dikatakan oleh Mira. "Apa kamu gila? Bagaimana jika suamimu tahu jika kamu memelihara empat pria muda di rumahmu?"


Seketika suara dari Putri yang menggema, membuat dua pria yang masih berdiri di tempat tersebut membulatkan mata karena merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengar.


"Apa maksud Nyonya? Memelihara? Memangnya kami hewan peliharaan? Apakah tempat kos yang dimaksud adalah rumah nyonya ini?" tanya pria yang saat ini ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan.


Mendadak merasakan hal buruk akan terjadi jika apa yang ditakutkan benar. Bahwa wanita yang tadi marah-marah padanya adalah ibu kos dari tempat yang ingin ditempati.


Mira yang kembali membalas dengan mencubit pinggang Putri karena berbicara sangat konyol. "Astaga! Kamu berbicara seolah aku adalah mucikari saja."


"Asal Kamu tahu, aku juga punya usaha kamar kos yang sering digunakan oleh para wisatawan yang membutuhkan tempat mendadak untuk menginap beberapa hari. Bahkan aku bisa mendapatkan keuntungan empat kali lipat dari itu, tapi tidak setiap hari ada. Jadi, sekarang memang masih kosong karena biasanya akan penuh saat hari-hari libur saja."


Kemudian Mira juga mengingat sopir taksi yang mengincar Putri. "Jika pria itu bertanya padaku dulu membutuhkan tempat tinggal, mungkin aku akan menawarkan kamar kos."


Putri kini mengibaskan tangan dan menyuruh Mira segera menunjukkan tempat tinggal untuk pria muda tersebut.


Kemudian Mira hanya terkekeh melihat ekspresi wajah dari Putri dan saat ini langsung memberikan tatapan tajam pada para pria muda itu agar ikut bersamanya dan tidak bersikap buruk.


"Kalian bisa bayar dimuka karena aku tidak ingin ditipu. Kalian berjumlah empat orang dan bisa menempati dua kamar dengan uang lima ratus ribu karena aku memberikan diskon."


"Jika biasanya bisa mendapatkan uang satu juta lebih, sekarang karena rasa kemanusiaan untuk menolong, jadi menyuruh kalian membayar segitu, tapi dengan satu syarat, harus mengikuti peraturan."


Empat pria muda yang berjalan di belakang wanita tersebut seketika berbinar karena mendapatkan tempat tinggal murah selama satu minggu.


"Kami akan mengikuti peraturan Anda," seru empat pria muda itu yang saat ini menjawab dengan kompak secara bersamaan.


Mira yang saat ini memiliki ide di kepala, dan sudah memasuki area halaman rumah yang cukup luas dan langsung menuju ke lorong pintu samping.

__ADS_1


Kemudian menunjukkan dua kamar yang akan ditempati oleh mereka. "Ini tempatnya dan kamar mandi berada di dalam. Jadi, kalian tidak perlu repot-repot keluar saat malam-malam."


Para pria itu pun langsung melangkah masuk dan terlihat sangat senang karena sudah ada kasur lantai yang akan menjadi tempat tidur.


"Ini sangat nyaman, Nyonya. Kami sangat suka. Kalau begitu, kami akan langsung mengambil koper yang kami titipkan di rumah salah satu polisi."


"Oh ... jadi, kalian sudah dari sana?" tanya Mira yang kini mulai mengerti jika para pria itu tidak membawa barang-barang karena masih dititipkan.


"Iya, Nyonya. Sekarang kami pergi dulu." Membungkuk hormat setelah berpamitan.


"Tunggu!" Mira saat ini ingin mengatakan rencana yang telah disusun hari ini.


Para pria yang tidak jadi melangkahkan kaki tersebut, kini berbalik badan dan menatap ke arah wanita yang menjadi ibu kos mereka.


"Iya, Nyonya."


"Aku memang memberi harga murah, tapi ada syaratnya." Mira masih melihat ekspresi keheranan dan rasa penasaran dari para pria muda itu.


"Syarat apa, Nyonya?" Mengerjapkan mata saat menoleh ke arah semua teman yang sama kebingungan.


"Kalian harus membantu proses produksi selama tinggal di sini." Kemudian membuka pintu samping dan terlihat beberapa pekerja yang mayoritas wanita berumur sedang, sibuk dengan tugas masing-masing.


Karena Mira akan membantu Putri, jadi membutuhkan orang tambahan dan memanfaatkan para pria muda itu.


Tentu saja empat pria muda tersebut seketika membulatkan mata karena harus membantu di antara para wanita tua.


'Gila! Kenapa bisa masuk dalam sarang para rubah betina? Jika membantu wanita yang cantik tadi, aku tidak akan menolak, tapi ini para wanita tua dan gemuk. Sial sekali nasib kami,' umpat pria muda dengan paras paling tampan tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2